
“Aku turut berduka cita atas apa yang terjadi ya Lis. Maaf, kemarin kemarin aku nggak bisa hadir ke acara pemakaman papah kamu. Aku nggak bisa menunda pekerjaan aku soalnya.”
Lisa tersenyum mendengar apa yang Ajeng katakan. Lisa sendiri tau bahwa Ajeng memang sangat sibuk dan jarang bisa menetap lama di sebuah kota karena pekerjaannya.
“Makasih ya Jeng. Aku ngerti kok bagaimana sibuknya kamu. Jujur, aku juga nggak nyangka semua itu akan terjadi. Di malam kecelakaan itu terjadi bahkan aku sedang tidur dan begitu bangun aku tidak menemukan Devan di sampingku. Saat aku meneleponnya Devan mengatakan sedang dirumah sakit dan bilang kalau papah mengalami kecelakaan.”
Ajeng hanya bisa diam saja. Ajeng juga sangat merasa ikut kehilangan sosok ramah dan baik tuan Aditya, mendiang papah Lisa.
“Tapi ya sudahlah, mungkin memang ini yang terbaik. Tuhan lebih sayang sama papah.” Tambah Lisa yang tidak ingin terus meratap dengan mencoba sabar, ikhlas, dan berpikir positif.
Ajeng menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Lisa katakan. Wanita itu juga tau Tuhan tidak menghendaki sesuatu tanpa sebab juga alasan.
“Lalu bagaimana dengan hubungan kamu dan Devan?” Tanya Ajeng berusaha mengalihkan topik agar Lisa tidak terus teringat pada mendiang papahnya.
Sesaat Lisa terdiam dan tampak berpikir kemudian tersenyum tipis. Keinginannya untuk bercerai dengan Devan sudah tidak lagi menggebu gebu seperti saat itu. Apa lagi sebelum pergi untuk selamanya papahnya juga melontarkan alasan kenapa dia percaya pada Devan. Lisa juga kemudian berpikir jika sampai dirinya berpisah dengan Devan, belum tentu dirinya akan kembali di pertemukan dengan pria baik dan penuh kesabaran seperti Devan. Terlepas dari semua tingkah konyol dan ajaib pria itu.
“Tidak ada yang berubah. Semuanya masih sama seperti dulu.” Jawab Lisa.
Ajeng berdecak. Ajeng juga tau bagaimana Devan dulu. Tentu saja karena Devan adalah pria yang terkenal playboy dan tengil. Namun setelah putus dengan Rosali dulu, Devan benar benar berubah hingga akhirnya tiba tiba Devan melamar kemudian menikah dengan Lisa. Ajeng juga sempat tidak percaya pada Devan. Tapi melihat bagaimana upaya pria itu menarik perhatian Lisa, Ajeng menjadi yakin bahwa Devan memang benar benar serius mencintai Lisa.
“Apa perasaan kamu yang tetap sama itu pada Devan karena Rian?”
Lisa mengeryit kemudian menatap tidak mengerti pada Ajeng. Rian, lagi lagi nama pria itu di sebut.
__ADS_1
“Ini sudah tidak ada hubungannya lagi dengan masa lalu Jeng. Aku sudah benar benar bisa melupakan Rian.”
“Lalu kenapa sampai sekarang perasaan kamu tetap sama pada Devan? Devan baik, dia sabar menunggu kamu. Devan juga tidak pernah marah bukan meski kamu selalu menganggapnya tidak ada.”
Lisa hendak menjawab dengan membuka mulutnya, namun suaranya tidak keluar karena pandangannya sudah lebih dulu tertuju pada sosok Devan yang berada tepat di belakang Ajeng. Ya, mereka berada di tempat yang sama tanpa di sengaja.
Ajeng yang merasa bingung karena pandangan Lisa pun menoleh dan ikut mencari apa yang menjadi pusat perhatian sahabatnya hingga akhirnya Ajeng melihat dengan kedua matanya sendiri Devan yang sedang menikmati makan siangnya dengan Rosali. Mantan kekasih Devan yang menurut isu dulu sangat di cintai oleh Devan.
Ajeng menggelengkan kepalanya. Ajeng yakin apa yang dilihatnya sekarang tidak sesuai dengan apa yang di pikirkannya.
“Hem.. Mungkin mereka hanya tidak sengaja bertemu saja Lis.” Ujar Ajeng yang kembali menatap pada Lisa.
Lisa tertawa pelan. Ada perasaan aneh yang hinggap di hatinya melihat Devan sedang bersama Rosali. Meski Lisa sendiri sudah menduga hal itu akan terjadi. Rosali dan Devan pasti akan kembali bersama mengingat mereka dulu saling mencintai.
----------
“Aku tidak menyangka loh Devan kamu bakal menikah dengan kak Lisa. Aku pikir isu tentang kamu mengagumi kak Lisa dulu itu hanya isu tidak jelas saja. Tapi ternyata setelah aku pergi kamu malah bersama dengan kak Lisa. Itu benar benar sangat mengejutkan aku. Dan jujur aku sedikit merasa kecewa karena pernikahan kalian.”
Devan tertawa pelan mendengar apa yang Rosali katakan. Devan sendiri juga tidak pernah menyangka dirinya akan bisa mendapatkan Lisa.
“Devan.. Padahal aku berpikir kita masih punya kesempatan untuk bersama.” Tambah Rosali.
“Ayolah Rosali.. Antara kita itu hanya masa lalu. Jadi aku rasa sudah tidak ada yang perlu lagi di ungkit dari masa lalu itu.” Ujar Devan tenang.
__ADS_1
Rosali tersenyum miris. Menyesal sekali dulu dirinya mengikuti orang tuanya pindah. Padahal bisa saja Rosali tetap tinggal di indonesia agar bisa terus bersama Devan.
“Tapi perpisahan kita bukan kemauan kita kan Devan? Aku yakin saat itu kamu juga tidak ingin kehilangan aku. Kenapa kamu nggak mencegah aku Devan?”
Devan mengangkat sebelah alisnya. Devan tidak ingin membahas tentang masa lalu sedikitpun. Bagi Devan semua yang sudah berlalu biarlah berlalu. Yang terpenting baginya adalah masa depannya bersama dengan Lisa sekarang.
“Rosali aku menuruti kemauan kamu untuk makan siang bersama karena kamu bilang ada sesuatu yang penting yang ingin kamu bicarakan. Dan aku pikir itu bukan tentang masa yang sudah berlalu.”
Rosali menatap sedih pada Devan. Baginya tidak ada masa lalu di antara mereka berdua. Sampai sekarang Rosali ingin mereka bisa bersama.
“Devan.. Apa kamu sudah tidak lagi mencintaiku sedikitpun? Apa semua yang terjadi di antara kita dulu sama sekali tidak ada artinya buat kamu? Dan apa kamu juga menganggap aku sama seperti mantan mantan kamu yang dulu itu?”
Devan semakin merasa tidak mengerti dengan maksud ucapan Rosali yang terus saja mengungkit tentang masa lalu. Padahal bagi Devan semuanya sudah berlalu dan tidak perlu lagi di ungkit. Adapun dirinya menerima ajakan Rosali itu hanya karena Devan menghargai Rosali sebagai teman dan tidak lebih dari itu.
“Aku nggak pernah menginginkan perpisahan kita Devan. Aku yakin kamu tau itu.”
Devan menghela napas. Malas sekali rasanya jika sudah berbicara tentang masa lalu.
“Sudahlah Rosali, kalau memang kamu meminta kita makan siang bersama hanya untuk membahas tentang masa lalu lebih baik aku pergi. Masih ada banyak hal penting yang harus aku kerjakan.”
Devan bangkit dari duduknya. Sebelum berlalu, Devan juga meninggalkan uang untuk membayar makanannya dan Rosali di atas meja.
Rosali yang melihat Devan berlalu menjauh darinya hanya diam saja dengan rahang mengeras marah. Sampai sekarang Rosali masih tidak bisa menerima keputusan Devan menikah dengan Lisa. Karena yang Rosali mau Devan hanya bersamanya saja.
__ADS_1
“Sampai kapanpun aku akan tetap menunggu kamu Devan.” Lirihnya.