Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 29


__ADS_3

Devan menghentikan mobilnya tepat didepan taman yang berada tidak jauh dari kediaman-nya dan Lisa. Devan kemudian turun dan langsung mencari papah mertuanya karena disana juga sudah ada mobil milik tuan Aditya, papah mertuanya.


Bingung harus mencari di sebelah mana, Devan pun memutuskan untuk menelepon papah mertuanya itu untuk menanyakan dimana dia berada.


“Papah ada di bawah pohon duduk di kursi panjang Devan.”


Setelah tau dimana papah mertuanya, Devan bergegas menghampiri. Devan yakin papah mertuanya pasti akan mengajaknya untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan Lisa, istrinya.


Devan tersenyum ketika melihat papah mertuanya sedang duduk di kursi panjang dengan tatapan lurus ke depan. Pria itu tampak sedang memikirkan sesuatu.


Devan segera melangkah cepat mendekat pada papah mertuanya itu.


“Pah..” Panggil Devan membuat tuan Aditya langsung menoleh menatapnya.


“Devan.. Duduk.” Senyum tuan Aditya mempersilahkan untuk Devan duduk dengan menggeser sedikit posisi duduknya.


“Ya pah.. Terimakasih.” Angguk Devan tersenyum kemudian duduk disamping papah mertuanya.


Sesaat keduanya terdiam. Devan menunggu apa yang ingin di katakan papah mertuanya tanpa sedikitpun berniat untuk memulai pembicaraan. Karena Devan memang tidak ingin bertanya apapun.


“Apa Lisa sudah pulang?” Tanya tuan Aditya dengan suara serak seperti sedang menahan tangis.


Devan melirik sebentar pada papah mertuanya sebelum menjawab.


“Sudah pah. Baru saja Lisa pulang. Mungkin dia baru saja lembur. Ya, pasien-nya memang lumayan banyak.” Jawab Devan yang kemudian berusaha berbasa basi pada papah mertuanya itu.


“Lisa tidak dari rumah sakit Devan. Lisa dari rumah papah dan mamah.”


Devan hanya diam saja. Dugaan itu memang terbesit dibenak Devan tadi saat menyadari kedua mata Lisa yang membengkak seperti habis menangis.


“Oh ya? Lisa tidak bilang sama Devan pah..”


Tuan Aditya tersenyum miris mengingat perlakuan istrinya pada putri bungsunya. Heran juga sebenarnya mengingat Lisa juga adalah anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


“Dia datang kerumah dan mengatakan sama mamah papah, Lisa bilang dia ingin mengakhiri hubungan pernikahan kalian.”


Devan tertegun. Devan tidak menyangka Lisa akan secepat itu mengatakan keniatan-nya untuk bercerai pada kedua orang tuanya.


“Sebelumnya papah minta maaf sama kamu Devan kalau sampai sekarang sikap Lisa terus dingin sama kamu. Tapi memang dari awal papah dan mamah yang memaksa Lisa untuk mau menerima pinangan kamu. Tapi kamu juga harus tau Devan, papah memaksa Lisa untuk menerima kamu bukan karena papah tau siapa keluarga kamu. Tapi karena papah yakin dan percaya bahwa Lisa akan bahagia dengan menjadi istri kamu. Papah yakin kamu bisa menjaga Lisa dengan baik.”


Devan terus diam mendengarkan apa yang papah mertuanya katakan. Kalaupun memang papah mertuanya menerimanya sebagai menantu karena dirinya berasal dari keluarga ternama Devan juga tidak akan mempermasalahkan tanpa penjelasan apapun. Karena bagi Devan asal dirinya bisa memiliki dan menjaga Lisa dengan baik itu sudah membuatnya merasa sangat bahagia. Apa lagi jika Lisa bisa mencintainya.


“Selain itu papah juga sengaja mengeluarkan Lisa secara halus dari rumah Devan.”


Devan sangat terkejut kali ini mendengar apa yang papah mertuanya katakan.


“Maksud papah?” Tanya Devan tidak mengerti.


Tuan Aditya menghela napas. Sedikitpun dirinya tidak ingin mengatakan semuanya sebenarnya. Tapi karena tidak tahan melihat sikap istrinya, tuan Aditya terpaksa membuka semuanya berharap Devan bisa di ajak kerja sama dengan menjaga dan membahagiakan Lisa, putri bungsunya.


“Papah yakin kamu bisa melihat bagaimana sikap mamah pada Lisa dan Laona Devan. Dan itu sudah berlangsung sejak Lisa kecil. Papah sudah beberapa kali bahkan sering berbicara sama mamah tapi mamah tetap seperti itu. Baginya Lisa dan Laona itu berbeda. Meskipun mamah juga menyadari Lisa juga adalah putri yang dia lahirkan sendiri. Maka dari itu saat kamu datang dan melamar Lisa papah merasa sangat bahagia. Papah menganggap kamu adalah jawaban dari do'a yang selalu papah panjatkan pada Tuhan. Papah juga tau siapa dan bagaimana kamu Devan. Papah yakin kamu bisa menjaga Lisa dengan baik. Papah merasa sangat lega saat kamu mengajak Lisa untuk tinggal dirumah kamu. Karena dengan begitu Lisa akan jauh dari mamahnya. Papah berpikir Lisa tidak akan lagi menderita karena sikap mamahnya. Tapi ternyata papah salah. Mamahnya terus saja bersikap seperti itu. Padahal sejak kecil Lisa sangat membanggakan. Lisa pintar, cerdas, juga mandiri. Sangat berbeda dengan kakaknya yang manja dan keras kepala.”


Tuan Aditya tersenyum. Dari awal dirinya memang sudah yakin bahwa dirinya tidak salah menikahkan putri bungsunya dengan anak tunggal dari keluarga William.


“Yah.. Papah percaya sama kamu Devan.” Angguk tuan Aditya menepuk pelan bahu Devan.


---------


Sementara itu dirumah, Lisa baru saja selesai membersihkan dirinya saat tiba tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu.


Lisa menghela napas. Itu pasti bukan Devan karena tidak mungkin rasanya jika Devan mengetuk pintu. Pria itu akan langsung masuk begitu saja tanpa permisi.


Lisa melangkah pelan menuju pintu kemudian membukanya. Benar saja, yang berdiri didepan-nya bukan Devan, tapi bibi.


“Permisi nyonya. Maaf kalau saya mengganggu. Tapi di depan ada nona Margareth nyonya.”


Lisa berdecak. Margareth memang sangat dekat dengan Devan dulu. Tapi kedatangan-nya di malam yang sudah larut itu benar benar membuat Lisa merasa kesal.

__ADS_1


“Bilang saja Devan lagi nggak ada dirumah bi. Saya capek sekali bi, pengin langsung istirahat.” Kata Lisa menolak dengan halus untuk menemui Margareth.


“Jadi kamu sedang menyuruh asisten rumah tangga kamu untuk berbohong kak Lisa?”


Bibi dan Lisa langsung menoleh. Bibi terkejut karena Margareth naik ke lantai dua tanpa izin. Padahal bibi sudah mengatakan agar Margareth menunggu di ruang tamu saja sementara bibi memanggil Lisa. Karena bibi juga tau Devan sedang pergi.


Lisa menatap dingin pada Margareth yang begitu angkuh. Ya, Margareth memang selalu menggunakan kata sahabat untuk selalu bisa dekat dengan Devan. Dan Lisa tidak bodoh. Lisa tau perasaan Margareth pada Devan bukan sekedar perasaan sahabat saja.


“Saya curiga kamu selalu bolos saat sekolah dulu Margareth.” Ujar Lisa membuat Margareth mengeryit. Ekspresinya yang semula begitu angkuh langsung berubah seketika karena ucapan Lisa.


“Terlihat sekali. Kamu tidak punya sopan santun.” Lanjut Lisa lagi.


Margareth berdecak pelan. Sejak dulu hubungan persahabatan-nya begitu dekat sehingga Margareth merasa apa yang Devan miliki juga adalah miliknya. Tidak perduli meski Devan sudah menikah dengan Lisa.


“Jangan lupakan kalau aku adalah sahabat Devan.” Margareth menyombongkan diri dengan melipat kedua tangan-nya di bawah dada.


“Kamu juga jangan pura pura amnesia. Saya adalah istri dari Devan.” Balas Lisa dengan tegas.


Margareth mendelik sebal. Wanita itu selalu berpikir entah apa lebihnya seorang Lisa sehingga Devan memilihnya.


“Margareth?”


Suara Devan membuat Margareth urung membalas ucapan tegas Lisa. Wanita itu menoleh dan mendapati Devan sudah ada di belakangnya.


Sedangkan Lisa, Dia terus berdiri di tempatnya menatap malas pada Devan yang entah pergi darimana tadi.


“Devan, aku hanya mampir setelah dari kantor. Tapi istri kamu tidak menerimaku dengan baik.” Adu Margareth.


Devan melirik Lisa sesaat kemudian menghela napas.


“Ayo ikut aku.” Ajak Devan yang langsung di ikuti oleh Margareth. Namun sebelum berlalu Margareth sempat menatap pada Lisa dan tersenyum sombong.


Lisa yang melihat itu hanya menggeleng saja kemudian masuk kembali kedalam kamarnya tanpa sedikitpun ingin tau apa yang akan Devan dan Margareth lakukan.

__ADS_1


__ADS_2