Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 49


__ADS_3

Tidak perduli dengan bagaimanapun sikap mamahnya, Lisa tetap mengurusnya dengan telaten. Lisa juga tidak memperdulikan sikap sinis dan angkuh Laona padanya karena pada dasarnya niat Lisa menginap dirumah orang tuanya adalah untuk mengurus mamahnya yang sedang sakit, yaitu nyonya Rosa.


“Kalau begitu aku berangkat dulu ya sayang.. Kamu hati hati disini. Ingat untuk tidak memperdulikan apapun yang mamah katakan. Kamu juga nggak perlu memperdulikan Laona. Ingat tujuan kita menginap disini.”


Lisa tertawa geli mendengar apa yang Devan katakan padanya. Wanita itu juga tau apa yang harus dia lakukan. Tidak perduli bagaimanapun sikap mamahnya, yang terpenting adalah dirinya sangat menyayangi mamahnya, wanita yang telah berjasa melahirkannya ke dunia ini.


“Kamu nggak perlu mengajariku Devan. Aku tau apa yang harus aku lakukan.” Balas Lisa membuat Devan berdecak.


“Kamu memang selalu begitu. Kamu terlalu pintar sehingga sering membuat aku seperti tidak berguna sebagai seorang suami.” Sindir Devan.


Lisa hanya menggeleng. Suaminya memang sangat ke kanak kanakkan. Selain itu Devan juga sangat sensitif jika mengobrol dengannya.


“Sudahlah, lebih baik sekarang kamu berangkat. Jadilah contoh yang baik untuk semua karyawan kamu di perusahaan.”


“Aku pemimpin disana. Jadi suka suka aku mau datang jam berapapun. Toh aku juga yang membayar mereka.” Ujar Devan dengan begitu percaya diri.


“Lagi pula aku juga punya Kenny yang selalu bisa aku andalkan.” Tambah Devan yang membuat Lisa hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Terserah kamu saja Devan.” Katanya enggan menyauti apa yang Devan katakan yang selalu saja membanggakan dirinya sendiri.


Devan tertawa pelan mendengarnya. Pria itu kemudian merengkuh tubuh Lisa dan memeluknya lembut. Devan juga mendaratkan ciuman pada kening Lisa yang hanya diam dan pasrah saja di peluk dan di cium oleh Devan, suaminya.


“Aku akan kembali sebelum malam tiba sayang.” Bisik Devan sedikit menunduk untuk menatap wajah cantik Lisa.


Lisa hanya mengangguk saja. Di perlakukan begitu lembut dan romantis oleh Devan membuatnya merasa nyaman akhir akhir ini. Tidak seperti dulu.


Setelah berpamitan dengan begitu romantis pada Lisa, Devan pun melangkah menuju mobil mewahnya. Pria itu kembali menoleh dan tersenyum menatap Lisa yang berdiri di depan teras rumah kedua orang tuanya guna mengantar Devan yang sudah akan berangkat ke kantor. Devan kemudian masuk kedalam mobilnya dan membunyikan Klakson mobilnya sebelum berlalu dari pekarangan kediaman mertuanya.


Lisa menggeleng pelan. Wanita itu tidak tau kenapa tiba tiba rasa nyaman itu hadir setiap Devan memperlakukannya dengan lembut akhir akhir ini. Padahal biasanya Lisa akan merasa risih, kesal, bahkan marah karena menurutnya Devan sangat lebay saat memperlakukannya dengan lembut.


Laona melipat kedua tangannya dibawah dada kemudian melangkah mendekat pada Lisa yang masih berdiri di tempatnya.


“Aku mulai curiga sekarang sama kamu Lisa. Jangan jangan ucapan kamu ingin bercerai dengan Devan itu hanya akal akalan kamu saja supaya mamah sama papah stres? atau kamu ingin membuat mamah sama papah mati secara bersamaan supaya kamu bebas begitu?” Ujar Laona berdiri tepat di belakang Lisa.


Lisa menahan napasnya sejenak. Laona selalu berusaha menyulut api jika berkomunikasi dengannya sejak dulu.

__ADS_1


Pelan pelan Lisa memutar tubuhnya menghadap pada Laona yang berdiri dengan gaya angkuhnya dengan kedua tangan yang di lipat di bawah dada. Tatapannya bahkan begitu sinis dan meremehkan pada Lisa yang berdiri di depannya.


“Malam sebelum kecelakaan itu kamu datang dan mengatakan akan menceraikan Devan sama mamah sama papah. Tapi sekarang setelah papah meninggal sepertinya kamu semakin romantis dengan Devan. Harusnya kamu langsung cerai saja dengan Devan. Kan sudah tidak ada lagi yang menghalangi kamu untuk lepas dari seorang Devano William.” Lanjut Laona yang memang selalu berpikir negatif pada Lisa, adiknya sendiri.


Lisa menghela napas pelan kemudian tersenyum berusaha untuk menghadapi Laona dengan tenang. Lisa sudah tau apa yang akan terjadi jika dirinya emosi saat menghadapi Laona. Tentu mamahnya akan sangat marah dan menyalahkannya. Karena sejak dulu memang Laona seperti itu padanya.


“Kamu itu sudah banyak kesibukan di luar sana Laona. Kamu seorang publik figur yang bahkan jarang bisa ada di rumah untuk menemani mamah. Tapi kok kamu masih sempat sempatnya memikirkan urusan aku dengan Devan sih? atau sebenarnya sekarang kamu lagi sepi job ya? makannya kamu bisa ada waktu buat memikirkan urusan rumah tangga aku dan Devan?”


Ekspresi Laona langsung berubah. Dari sinis menjadi kesal. Wanita itu tidak menyangka Lisa akan begitu gampang membalas ucapan pedasnya.


“Jaga mulut kamu ya Lisa. Aku tidak pernah sepi job.” Marah Laona membuat Lisa tertawa geli. Laona terjebak oleh tingkahnya sendiri.


“Bagus lah kalau memang begitu. Karena dengan begitu aku yakin kamu nggak akan ada waktu buat ngurusin kehidupan rumah tangga aku dan Devan. Ah ya satu lagi Laona. Aku bertahan dengan Devan sampai detik ini juga karena pesan dari papah. Lagi pula Devan juga adalah suami yang baik. Dia sangat mencintaiku. Jadi aku nggak punya lagi alasan untuk meninggalkan dia. Kamu mengerti maksud aku kan?” Lisa kembali berkata dengan tenang. Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu merasa sudah berpengalaman dalam menghadapi Laona yang sejak dulu memang selalu berusaha mencari masalah dengannya.


“Dasar perempuan tidak punya pendirian. Kamu itu plin plan Lisa. Kamu tidak bisa menepati ucapan kamu sendiri. Kamu menjilat ludah kamu sendiri. Itu benar benar sangat menjijikan.” Kesal Laona sebelum berlalu dari hadapan Lisa.


Lisa tertawa geli melihat Laona yang melangkah menjauh darinya. Entah dimana letak kesalahannya sehingga Laona selalu saja mencari gara gara dan menyalahkannya jika di depan sang mamah. Laona juga selalu berhasil membuat nyonya Rosa menyalahkan Lisa.

__ADS_1


“Huft.. Lisa nggak tau sampai kapan mamah dan Laona akan bersikap sinis sama Lisa pah. Tapi yang jelas Lisa tidak akan pernah menyerah pah. Lisa tidak akan mau di salahkan atas kesalahan yang Lisa tidak pernah perbuat.” Gumam Lisa pelan.


Sekali lagi Lisa menghela napas. Wanita itu kemudian melangkah masuk ke dalam rumah untuk kembali mengecek keadaan mamahnya yang memang sudah membaik. Lisa berniat akan pulang kembali kerumahnya dan Devan jika memang mamahnya sudah baik baik saja. Karena sebenarnya Lisa merasa tidak betah dan tidak nyaman berada di rumah itu.


__ADS_2