Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 54


__ADS_3

Sejak saat itu hubungan Lisa dan Devan semakin hari semakin terlihat kemajuannya. Meskipun memang Lisa tidak bisa bersikap manis pada Devan, namun dengan wanita itu tidak lagi dingin dan cuek itu sudah membuat Devan merasa sangat senang. Lisa juga selalu mengirim pesan dan mengatakan terimakasih jika Devan mengiriminya bunga seperti biasa.


Tok tok tok


Lisa baru saja hendak menggoreskan ujung pulpen nya ke permukaan kertas putih saat tiba tiba terdengar suara ketukan pintu. Wanita itu menghela napas kemudian mengurungkan niatnya dan meletakan pulpen tersebut di samping kertas putih itu.


Lisa bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu bermaksud membukanya agar tau siapa yang mengetuk pintu ruangannya.


Begitu pintu dibuka Lisa terdiam ketika mendapati seseorang dari bagian masa lalunya berdiri didepannya. Tersenyum seolah tidak pernah melakukan kesalahan apapun.


“Kamu...” Gumam Lisa menatap Rian.


“Ya Lisa.. Ini aku.. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu. Sebentar lagi waktu makan siang tiba. Bagaimana kalau kita makan siang sama sama?”


Lisa mengeryit. Rian bukan pria bodoh yang akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan sesuatu. Rian juga adalah pria egois yang tidak mau mengakui kesalahannya. Bahkan saat mengkhianatinya dengan Laona, Rian begitu tegas mengakhiri hubungan mereka dan mengatakan lebih memilih Laona dari pada Lisa. Hal itulah yang sempat membuat Lisa trauma dan enggan lagi mengenal cinta. Lisa takut kembali kecewa dan di khianati.


“Maaf Rian, tapi aku sudah ada janji dengan Devan. Aku nggak bisa.” Tolak Lisa dengan nada dingin.


Rian tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pria itu memahami penolakan Lisa. Tentu saja Lisa masih sangat kecewa dan sakit hati karena apa yang pernah dulu Rian lakukan di belakangnya dengan Laona.


“Lisa.. Aku tau aku salah. Aku sangat salah. Tapi aku benar benar menyesal dengan semua yang sudah aku lakukan Lisa. Aku akan melakukan apa saja asal kamu mau memaafkan aku Lisa. Katakan saja apapun yang kamu inginkan.”


Lisa menghela napas kemudian melipat kedua tangannya di bawah dada. Wanita dengan jas putih kebanggaannya itu memang dulu sangat mencintai Rian. Lisa bahkan hampir saja putus asa dan mengakhiri hidupnya setelah Rian memutuskan begitu saja hubungan mereka dan mengatakan lebih memilih Laona ketimbang dirinya. Tapi apa yang Lisa alami itu juga menjadikan Lisa semakin mengerti dan paham. Lisa tidak ingin dendam dengan terus memelihara kebencian. Lisa menganggap apa yang terjadi adalah pelajaran dan pengalaman berharga dalam hidupnya.


“Apapun itu?” Tanya Lisa menatap Rian tenang.

__ADS_1


“Ya.. Apapun itu.” Jawab Rian mantap.


Lisa menghela napas pelan kemudian terdiam sesaat. Wanita itu menatap dari atas sampai bawah penampilan mantan kekasihnya itu. Tidak ada suatu apapun yang berubah dalam diri Rian. Pria itu tetap tampan meski tidak setampan Devan.


“Untuk semua yang sudah kamu lakukan aku tidak pernah memikirkannya lagi akhir akhir ini Rian. Aku nggak merasa dendam. Aku menganggap itu adalah pelajaran berharga untukku untuk lebih selektif lagi dalam memilih pasangan hidup. Kalau memang kamu benar benar tulus mengharap maaf dariku, aku sudah memaafkannya. Dan untuk permintaan aku, tolong Rian, jangan ganggu aku lagi. Aku sudah bahagia dengan Devan. Aku juga sudah yakin dengan apa yang menjadi pilihan hidup aku. Yaitu hidup bersama Devan. Kamu mengerti kan maksud aku?”


Rian menelan ludah membuat jakunnya naik turun. Pria itu tersenyum masam kemudian menganggukkan kepalanya. Lisa sudah benar benar tidak lagi mau kembali padanya.


“Baik kalau begitu. Aku akan menjauhi kamu, aku nggak akan ganggu kamu lagi Lisa. Aku harap kamu selalu bahagia dengan Devan.”


“Ya.. Terimakasih.” Senyum Lisa.


Rian menghela napas kasar kemudian perlahan membalikkan tubuhnya memunggungi Lisa. Tidak ada yang bisa Rian lakukan sekarang selain mengikhlaskan Lisa hidup bersama dengan Devan.


Sementara Lisa, wanita itu menatap Rian yang semakin melangkah menjauh darinya. Sedikitpun Lisa tidak merasa ragu dengan apa yang sudah menjadi keputusannya. Lisa percaya Devan memang adalah pilihan yang tepat untuknya.


“Semoga kamu juga bahagia Rian..” Gumam Lisa berharap sesuatu yang baik juga menghampiri Rian.


--------------


Menjelang makan siang tiba, Devan sudah sampai di depan gedung rumah sakit tempat Lisa bekerja. Pria itu turun dari mobilnya dengan membawa sebuket bunga mawar di tangannya yang akan dia berikan untuk Lisa, istri tercintanya.


“Cinta memang gila. Tidak heran kamu sampai hilang wibawa hanya karena seorang Lisa, Devan.”


Devan tertawa geli ketika mengingat apa yang Kenny katakan. Devan akui dirinya memang sangat tergila gila pada Lisa. Devan bahkan sampai melakukan segala cara demi bisa meluluhkan hati Lisa. Tapi itu benar benar tidak percuma karena akhirnya Lisa mau menerimanya tanpa membahas lagi tentang perceraian yang tentu sangat tidak di inginkan oleh Devan.

__ADS_1


Devan menghela napas kasar kemudian melangkah menuju gedung rumah sakit tersebut. Devan tidak sabar ingin memeluk dan mencium istri tercintanya itu.


Begitu Devan sampai tepat di depan pintu ruangan Lisa, saat itu juga Lisa pun keluar dari ruangannya. Pandangan mereka bertemu dan sesaat mereka berdua terdiam hingga akhirnya sama sama tertawa pelan.


“Aku baru saja sampai.” Ujar Devan.


“Ya.. Aku tau itu. Suamiku tidak mungkin terlambat menjemput ku.” Angguk Lisa membuat Devan menggeleng sambil tertawa.


“Tentu saja, aku bukan orang yang suka telat sayang..”


Lisa hanya mengedikkan bahu dengan senyuman manisnya. Dengan tekad bulatnya sekarang untuk menjalani hidup berdua dengan Devan, Lisa berharap tidak ada lagi halangan untuk mereka berdua bersama.


“Ini untuk kamu sayang.”


Lisa menerima sebuket bunga yang Devan sodorkan. Dokter cantik itu tertawa lagi saat Devan merentangkan kedua tanganya memberi kode agar Lisa memeluknya.


Mengerti dengan apa yang di inginkan oleh suaminya, Lisa pun segera memeluk Devan dan sebuah kecupan di kening Lisa dapat dari Devan begitu dirinya berada di dalam pelukan hangat dan nyaman suami brondongnya itu.


“I Love you..” Bisik Devan mesra.


Lisa hanya bisa tersenyum tanpa membalas ungkapan cinta suaminya. Beberapa menit berpelukan, Lisa pun akhirnya melepaskan diri dari dekapan hangat Devan yang berhasil membuat bibir Devan sedikit mengerucut sebal. Devan merasa belum puas memeluk tubuh ramping dan harum Lisa.


“Waktu istirahat makan siang hanya sebentar Devan. Lebih baik kita pergi sekarang atau kita akan melakukan kecurangan dengan melampaui batas waktu makan siang kita.” Ujar Lisa yang membuat Devan menghela napas.


“Ya ya.. Baiklah sayang.” Angguk nya pasrah saja.

__ADS_1


__ADS_2