Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 15


__ADS_3

Siang ini Lisa didatangi oleh sahabat jauhnya. Kebetulan saat ini sahabatnya itu sedang ada pekerjaan dikota tempat Lisa tinggal.


Ajeng namanya. Dulu mereka sekolah bersama sampai di universitas kemudian akhirnya keduanya berpisah karna sudah memiliki profesi masing masing dan mengharuskan Ajeng untuk pindah pindah tempat secara tidak menentu.


“Jadi bagaimana hubungan kamu dengan suami berondong kamu itu?” Tanya Ajeng dengan nada meledek pada Lisa.


Lisa berdecak kesal. Entah bisa disebut apa hubungan-nya dengan Devan Lisa sendiri tidak tau. Lisa tidak bisa meninggalkan Devan meskipun dirinya sampai sekarang tidak mencintai pria itu. Dan semua itu tentu saja Lisa lakukan agar hidupnya tidak dipandang sebelah mata oleh mamah juga kakaknya Laona.


“Aku malas jika harus membahas tentang dia jeng.” Jawab Lisa pelan.


Ajeng mengeryit.


“Kenapa? Menurutku dia laki laki yang manis.. Yaa.. Meskipun koleksi mantan-nya cukup banyak.”


Devan memang terkenal suka gonta ganti wanita dulu. Playboy adalah julukan-nya saat masih menimba ilmu di universitas.


Lisa menghela napas kemudian meminum sedikit es jeruknya. Devan memang cukup menyebalkan menurutnya.


“Bagaimana kabar kedua orang tuamu jeng?”


Lisa sengaja mengalihkan topik pembicaraan karna enggan membahas tentang Devan, suaminya.


“Kabar mereka berdua sangat baik. Hanya saja yah.. Mereka selalu menyudutkan aku agar aku segera menikah.”


Lisa tersenyum samar. Sahabatnya itu memang terkenal jomblo sejati anti cinta.


“Lisa tapi aku selalu berpikir seburuk buruknya Devan dia pasti jauh lebih baik dari Rian.”


Lagi lagi Devan. Ajeng memang tidak akan diam jika belum puas membicarakan seseorang. Dan dipertemuan kali ini Devan adalah bahan pembicaraan-nya.


“Kamu tentu tau tidak semua orang itu sama Jeng. Setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing masing.” Kata Lisa.


Ajeng memutar jengah kedua bola matanya.


“Kamu masih saja membela Rian si brengsek itu?”


Nada bicara Ajeng mulai kesal karena menganggap Lisa membela Rian.

__ADS_1


“Aku tidak membelanya.” Lisa membela dirinya sendiri.


“Oh ya? Kalau begitu katakan sesuatu tentang Devan.” Tantang Ajeng.


Lisa berdecak. Lisa benar benar tidak punya pemikiran apapun tentang Devan. Devan tampan, kaya itu sudah bukan lagi rahasia umum. Selebihnya Lisa sama sekali tidak tau.


“Dia cukup menyebalkan.”


Ajeng menggeleng tidak menyangka dengan apa yang Lisa katakan. Kekecewaan Lisa pada Rian dimasa lalu benar benar sangat berpengaruh buruk pada hatinya. Lisa berubah menjadi dingin dan terus saja menutup pintu hatinya untuk pria lain.


“Bukan itu yang ingin aku dengar Lisa. Maksudku bagaimana Devan menurut kamu? Kamu bisa menceritakan bagaimana keseharian Devan selama kalian bersama. Ah atau kamu juga bisa menceritakan tentang rencana kamu dan Devan untuk mempunyai anak. Aku akan dengan senang hati mendengarkan-nya.”


Lisa menatap aneh pada Ajeng. Wanita dengan rambut dikuncir tinggi itu bahkan menatapnya dengan beberapa kali mengedipkan ngedipkan kedua matanya.


“Kamu terlalu berlebihan Ajeng.”


Ekspresi Ajeng langsung berubah. Melunakkan hati Lisa memang tidak semudah membalikan telapak tangan.


“Ya sudahlah terserah. Terus saja kamu berpaku pada mantan brengsek kamu itu.”


Ajeng marah karena Lisa terus saja menghindari pembicaraan tentang Devan. Padahal Ajeng hanya ingin tau seberapa jauh perkembangan hubungan Lisa dengan Devan.


Setelah makan siang selesai, Ajeng langsung pamit karena Lisa juga harus kembali bekerja.


Lisa mendudukan dirinya dikursi kerjanya. Wanita itu memijit pelan pangkal hidungnya. Pertanyaan demi pertanyaan yang Ajeng lontarkan membuat Lisa merasa pusing. Sampai sekarang memang Lisa belum bisa membuka hati untuk Devan setelah berbagai cara manis yang Devan lakukan untuknya. Lisa masih merasa takut akan kembali merasakan patah hati karena terlalu dalam mencintai seorang pria.


Rian, pria itu adalah dalang dari ketertutupan hati Lisa pada pria manapun.


“Lisa..”


Kedua mata Lisa membulat. Itu adalah suara berat seorang Devano William. Lisa menatap pintu ruangan-nya. Pintu itu tertutup rapat.


“Aku disini..”


Lisa menoleh mengikuti sumber suara Devan dan terkejut saat mendapati suaminya itu sedang duduk disofa panjang yang berada tidak jauh dari meja kerjanya.


“Devan.. Kamu sudah lama disini?” Tanya Lisa bangkit dari duduknya.

__ADS_1


“Ya. Aku bahkan sampai makan siang sendiri disini tadi. Aku mau ngajak kamu tadinya. Tapi kata asisten kamu, kamu sedang pergi dengan seorang teman. Jadi ya.. Aku menunggu disini.” Jawab Devan panjang lebar.


Lisa hanya diam. Wanita itu menatap Devan yang membawa sebuket bunga yang memang setiap hari Devan berikan padanya. Hanya saja biasanya Devan menyuruh orangnya bukan datang secara langsung seperti sekarang.


Devan melangkah mendekat pada Lisa yang berdiri didepan kursi kerjanya. Setelah berada tepat disamping Lisa, Devan pun menyodorkan bunga yang dibawanya pada Lisa.


Lisa tidak langsung menerimanya. Lisa menatap bunga tanpa kartu ucapan tersebut sebelum akhirnya menerimanya.


“Makasih..” Katanya pelan.


“I Love you..” Ungkap Devan.


Lisa hanya diam saja kemudian meletakan bunga pemberian Devan diatas meja kerjanya.


“Tentang semalam..”


“Devan tolong. Aku malas membahas sesuatu yang tidak penting.” Sela Lisa membuat Devan berdecak.


Devan tau dirinya salah karena sudah berprasangka buruk pada istrinya sendiri. Tapi Devan juga tidak mau jika Lisa terus marah padanya.


“Sayang.. Kalau kamu bersikap seperti ini terus sama aku bagaimana mungkin kita bisa cepat mendapatkan mong mongan. Kamu tau kan mamah sama papah, mommy sama daddy sangat menunggu itu. Mereka ingin cepat cepat kita memiliki cucu.”


Lisa memejamkan kedua matanya sebentar sebelum akhirnya membukanya lagi.


“Aku sudah bilang sama kamu Devan. Aku belum siap memiliki anak. Kamu tau kan kenapa?”


Devan tersenyum dengan menganggukkan pelan kepalanya.


“Karena kamu tidak mencintai aku?” Tanya Devan miris.


Lisa melengos. Lisa tidak ingin membohongi siapapun apa lagi jika sampai membohongi dirinya sendiri.


“Aku selalu yakin Lisa kamu bisa mencintai aku. Mungkin memang perlu waktu.. Dan aku.. Aku akan dengan sabar menunggu waktu itu tiba. Aku akan menunggu sampai kata cinta itu keluar dari bibir kamu buat aku Lisa. Aku tidak akan sedikitpun merasa bosan ataupun jenuh menunggu kamu.. Karena aku melakukan semua ini demi cinta aku untuk kamu. Aku nggak akan menyerah Lisa. Aku akan terus disini untuk menunggu kamu..” Ujar Devan dengan suara pelan juga lembutnya.


“Aku harus kerja Devan.” Kata Lisa enggan mendengarkan apapun yang Devan katakan.


“Oke.. Pulang nanti aku jemput kamu ya.. Selamat bekerja dan selamat ketemu nanti..” Senyum Devan.

__ADS_1


Sebelum berlalu keluar dari ruangan Lisa, Devan mengecup singkat pipi Lisa. Pria itu tidak pernah perduli meskipun Lisa selalu saja menolaknya. Karena cintanya pada Lisa begitu besar sehingga Devan mampu bertahan sampai saat ini dan mungkin akan terus bertahan apapun rintangan-nya.


__ADS_2