
Lisa menangis dalam perjalanan pulang dari kediaman kedua orang tuanya. Meski sejak awal Lisa sudah menduga itu akan terjadi, tapi nyatanya kenyataan dari dugaan itu lebih menyakitkan. Padahal Lisa juga sudah mewanti wanti dirinya untuk bisa kuat. Tapi ucapan dan sorot mata penuh kebencian sang mamah membuat pertahanan yang dia bangun itu runtuh seketika.
Devan yang juga mendengar sendiri apa yang nyonya Rosa katakan pada Lisa juga sangat terkejut. Tapi Devan juga tidak bisa menyalahkan mamah mertuanya yang berkata demikian pada Lisa. Devan tau bagaimana perasaan mamah mertuanya itu yang masih sangat di rundung pilu karena kehilangan suami yang sangat di cintainya.
“Kamu yang sabar ya sayang.. Aku yakin maksud mamah bukan seperti itu. Mamah hanya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa papan sudah tidak ada lagi di sampingnya.” Devan mencoba memberi pengertian pada Lisa berharap istrinya tidak merasa tersudutkan karena apa yang di katakan oleh mamahnya.
Lisa hanya diam saja dengan air mata yang terus mengalir deras di kedua pipinya. Lisa merasa sangat sedih karena apa yang di ucapkan oleh mamahnya.
Begitu sampai di rumah, ternyata disana sudah ada kedua orang tua Devan. Tuan dan nyonya William. Mereka berdua terkejut saat melihat Lisa yang menangis.
“Ya tuhan.. Lisa, kamu kenapa sayang?”
Khawatir, nyonya Reyna pun langsung mendekat pada Lisa. Wanita itu menangkup lembut kedua pipi basah Lisa. Nyonya Reyna juga mengusap lembut air mata yang membasahi kedua pipi Lisa.
Devan hanya bisa menghela napas. Pria itu tidak tau harus bagaimana menjelaskan pada kedua orang tuanya kenapa Lisa menangis. Devan enggan menjelekkan mamah mertuanya di depan Lisa secara langsung. Meski memang yang ingin Devan jelaskan adalah sebuah kenyataan.
“Devan, kenapa dengan Lisa? kenapa Lisa menangis?” Tanya nyonya Reyna pada Devan.
Devan hanya diam saja. Devan sendiri memahami bagaimana perasaan mamah mertuanya yang pasti merasa sangat sedih karena kehilangan. Apa lagi kecelakaan itu terjadi di jalan yang dekat dengan daerah tempat tinggalnya yang pasti akan membuat siapa saja menyangka bahwa tuan Aditya baru saja menemui Lisa sebelum kecelakaan itu menimpanya.
Lisa menggelengkan kepalanya. Hatinya kembali hancur mengingat apa yang di katakan oleh mamahnya.
__ADS_1
Tidak tega melihat menantu kesayangan-nya menangis, nyonya Reyna pun segera menarik Lisa ke dalam pelukan-nya. Hal itu justru membuat tangis Lisa semakin kencang. Lisa merasa sangat rapuh dan lemah karena ucapan mamahnya.
Tuan William yang juga penasaran sekaligus tidak tega melihat Lisa menangis pun segera mendekat. Pria itu menatap sendu pada Lisa yang menangis dalam pelukan istrinya. Tuan William juga mengusap penuh kasih sayang kepala Lisa yang bersandar di bahu istrinya.
Karena merasa Lisa memerlukan waktu agar tenang, Setelah Lisa berhenti menangis nyonya dan tuan William pun memutuskan untuk pulang dan mempercayakan ketenangan Lisa pada Devan.
“Kamu nggak usah sedih ya Lisa.. Apa yang terjadi itu bukan kesalahan kamu.. Karena kalaupun papah nggak kecelakaan mungkin tetap akan terjadi sesuatu sebagai jalan Tuhan mengambil papah dari kita. Mungkin mamah hanya masih sangat terpukul dengan kepergian papah. Kamu jangan mikirin apa yang mamah katakan tadi.” Ujar Devan sambil menggenggam tangan Lisa.
Saat ini mereka berdua sudah berada dikamar dan sama sama duduk di tepi ranjang dengan Devan yang terus menggenggam erat tangan Lisa.
Lisa menatap tangan besar Devan yang menggenggam tangannya. Wanita itu kemudian beralih menatap wajah tampan Devan yang menatap sendu padanya.
Devan menggelengkan kepalanya mendengar Lisa yang malah menyalahkan dirinya sendiri.
“Lisa kamu..”
“Kalau saja malam itu aku nggak mengatakan tentang rencana aku yang ingin kita bercerai mungkin papah nggak akan kecelakaan Devan. Mungkin papah masih ada sekarang. Semuanya memang salah aku Devan. Papah nggak setuju aku merencanakan perceraian kita. Dan mungkin karena apa yang aku katakan papah menjadi kepikiran hingga akhirnya tidak fokus menyetir dan akhirnya, akhirnya papah mengalami kecelakaan.” Lirih Lisa menyela apa yang ingin Devan katakan untuk menolak Lisa yang menyalahkan dirinya sendiri.
“Enggak Lisa. Kamu nggak salah. Apa yang terjadi memang sudah takdir dari Tuhan. Papah kecelakaan itu memang cara Tuhan mengambil papah dari kita.”
“Tapi Devan..”
__ADS_1
“Lisa tolong jangan seperti ini. Papah akan sangat sedih melihat kamu seperti ini. Aku yakin kok nanti kalau mamah sudah tenang mamah juga akan sadar bahwa apa yang dia katakan tadi itu salah besar.” Sela Devan yang membuat Lisa langsung diam.
Lisa memejamkan kedua matanya membuat air mata yang sejak tadi di tahannya akhirnya menetes.
Devan yang melihat itu dengan lembut langsung menyeka air mata yang membasahi pipi tirus istrinya.
“Jangan menangis sayang. Kamu harus tetap tangguh. Arlisa Suryani yang aku kenal adalah perempuan hebat yang tidak terkalahkan oleh apapun.” Lirih Devan membuat Lisa tertawa dalam tangisnya. Devan memang terlalu berlebihan. Pria itu selalu mengada ngada setiap mengatakan kata manis atau gombalan untuk Lisa.
“Kamu berlebihan Devan. Dasar tukang gombal.” Tawa Lisa membuka kedua matanya.
Devan tersenyum merasa lega karena Lisa tertawa. Pria itu merasa tenang karena akhirnya Lisa tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi.
“Lisa dengar, mulai sekarang dan seterusnya aku nggak mau mendengar kamu menyalahkan diri kamu sendiri lagi. Ingat apa yang papah banggakan dari diri kamu Lisa. Kamu bukan orang yang gampang menyerah. Kamu hebat dan kamu sangat membanggakan. Jadi aku harap walaupun sekarang papah nggak ada lagi bersama kita tapi kamu tetap semangat. Karena aku akan selamanya berada di samping kamu Lisa. Apapun yang terjadi. Kamu nggak perlu takut menghadapi apapun karena kamu nggak pernah sendiri. Ada aku yang akan selalu setia menemani setiap langkah kamu.” Ujar Devan panjang lebar dengan tatapan lembut yang dilayangkan pada Lisa.
Lisa terdiam mendengarnya. Wanita itu tidak tau terbuat dari apa hati seorang Devan William sehingga Devan tidak pernah marah atau berniat meninggalkannya padahal Lisa selalu saja menganggapnya tidak ada.
“Kenapa? Kenapa kamu lakukan semua ini untuk aku Devan?” Tanya Lisa sembari menelan ludah membalas tatapan penuh kelembutan Devan padanya.
“Cinta Lisa. Karena cinta yang aku miliki untuk kamu sehingga membuat aku tidak pernah sekalipun berniat menyerah. Aku juga yakin suatu saat kamu pasti bisa membuka hati kamu untuk aku. Aku percaya suatu hari nanti kamu juga akan sangat mencintai aku dan takut kehilangan aku.” Jawab Devan pelan.
Lisa tersenyum samar. Devan terlalu percaya diri menurutnya. Karena sebenarnya sampai sekarang Lisa belum sama sekali merasa mencintai Devan.
__ADS_1