Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 53


__ADS_3

Siang ini Lisa berdiri di balkon kamarnya, wanita itu kembali larut ke dalam masalah sikap mamah juga kakaknya. Awalnya Lisa berniat untuk istirahat siang, namun pemikiran tentang sikap mamah dan adiknya kembali mengusiknya membuat Lisa tidak bisa memejamkan kedua matanya dengan tenang.


“Ya Tuhan.. Kuatkan hati hamba..” Lirih Lisa menghela napas lalu memejamkan kedua matanya.


Di belakangnya, tanpa Lisa sadari Devan sudah ada disana. Pria itu yakin sesuatu pasti telah terjadi. Namun Devan tidak ingin bertanya karena jika dirinya bertanya Lisa pasti akan kembali merasa sedih.


Devan tersenyum menatap punggung istrinya. Devan yakin Lisa bukan wanita lemah apa lagi bodoh. Lisa pasti bisa menghadapi semuanya dengan tenang.


Devan semakin mendekat pada Lisa. Setelah berada tepat di belakang Lisa, Devan pun memeluknya dengan erat juga mesra.


Lisa yang merasakan pelukan hangat Devan tersenyum. Lisa tau Devan yang memeluknya dari aroma parfum yang Devan kenakan. Selain itu juga karena Lisa hapal bagaimana rasa nyamannya berada di dalam pelukan hangat suaminya itu.


“Kenapa tidak menunggu sampai aku pulang sayang? Atau kamu bisa meneleponku dan aku akan menjemput kamu dan mengantar kamu pulang.” Ujar Devan pelan.


Lisa tertawa pelan mendengarnya.


“Jangan kamu pikir kamu ini seperti superman yang bisa datang kapan saja di saat aku butuh Devan. Aku tau kamu sibuk dan aku sangat menghargai itu.” Balas Lisa yang membuat Devan tersenyum. Kali ini Devan tidak protes dengan apapun yang Lisa katakan.


“Aku bahkan bisa lebih hebat dari superman jika kamu mau sayang.”


Lisa hanya diam saja. Devan sering kali terlalu membanggakan dirinya.


“Apa kamu sudah makan Devan?”

__ADS_1


Enggan melanjutkan obrolan tidak penting itu, Lisa pun lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan apakah suami brondongnya itu sudah makan atau belum.


“Tentu saja belum. Aku pulang karena ingin makan siang dengan kamu Lisa.” Jawab Devan sambil menciumi leher Lisa yang membuat Lisa mendongak memberi ruang pada Devan agar bisa lebih leluasa melakukan apa yang menjadi kesukaannya atas diri Lisa.


“Aku sudah mengatakan pada bibi agar tidak perlu masak siang ini karena aku pikir kamu tidak akan pulang siang ini Devan. Apa perlu aku menyuruh bibi untuk memasak sekarang?”


Devan berhenti menciumi leher Lisa mendengarnya. Pria itu tersenyum. Kali ini Lisa benar benar pasrah dan tidak menolak ataupun protes dengan apapun yang Devan lakukan.


“Tidak perlu sayang. Jangan merepotkan bibi. Kasihan kalau kamu menyuruhnya secara mendadak untuk masak. Bagaimana kalau kita berdua makan diluar saja?”


Makan diluar memang sudah sempat terbesit di benak Lisa. Bahkan saat mengatakan supaya bibi tidak usah masak pun Lisa beralasan dirinya hendak makan di luar saja.


“Baik kalau begitu tolong lepaskan aku dan biarkan aku bersiap Devan.”


Awalnya Lisa hanya diam dan pasrah saja menerima ciuman mesra dari Devan. Namun pelan pelan akhirnya Lisa membalas ciuman itu dengan kedua tangan yang mengalung di tengkuk Devan.


Devan yang mendapat sambutan atas ciumannya dari Lisa tersenyum disela ciuman itu dan semakin memperdalam ciumannya pada Lisa tanpa memperdulikan pak satpam atau bibi akan melihat apa yang sedang mereka lakukan di balkon kamar siang itu.


Setelah puas mencium Lisa, Devan pun membiarkan Lisa masuk ke dalam kamar untuk bersiap karena mereka berencana makan diluar siang ini. Pria itu tersenyum sendiri. Lisa sudah benar benar tidak lagi menolak sentuhannya. Lisa bahkan mau membalas ciuman darinya. Itu Devan anggap bahwa Lisa mulai mau membuka hati untuknya. Dan Devan akan semakin berusaha agar Lisa bisa benar benar mencintainya seperti Devan yang sangat mencintai Lisa sejak dulu hingga sekarang. Cinta itu benar benar tidak berkurang meskipun Lisa selalu bersikap dingin dan acuh tak acuh padanya.


Setelah menunggu sekitar 20 menit, Lisa pun selesai dengan dandanan simpel namun tetap cantik dan menawan bagi Devan. Wanita itu mengenakan dress simpel warna orange yang begitu pas membalut tubuh rampingnya. Sedangkan tas kecil dan sepatu hak tinggi yang di pakainya berwarna hitam senada dengan jas yang dikenakan oleh Devan siang ini.


“Kita berangkat sekarang?” Tanya Devan yang langsung mendapat jawaban anggukan kepala dari Lisa.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian melangkah beriringan keluar dari kamar. Mereka juga tidak lupa berpamitan pada bibi sebelum keluar dari kediamannya.


“Kamu mau makan apa?” Tanya Devan saat dalam perjalanan menuju restoran yang sebenarnya sudah terlintas di benaknya.


“Hem.. Terserah kamu saja Devan.” Jawab Lisa menatap Devan sebentar.


Devan terdiam sesaat. Sebenarnya Devan ingin tau kenapa istrinya pulang begitu cepat. Padahal Devan pikir Lisa akan mengajaknya pulang besok atau mungkin lusa. Namun Devan bingung harus bertanya bagaimana karena Devan sendiri sudah bisa menebak pasti istrinya mendapat perlakuan yang tidak baik dari mamah dan kakaknya.


“Kamu kenapa?” Tanya Lisa yang tau Devan sedang memikirkan sesuatu.


Devan menghela napas. Istrinya sebenarnya wanita yang peka, hanya saja Lisa baru memperlihatkan kepekaannya sekarang.


“Kenapa pulang begitu buru buru?” Tanya Devan yang akhirnya memutuskan untuk bertanya secara langsung.


Lisa tersenyum. Lisa yakin Devan pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi sehingga suaminya sampai bertanya tentang kepulangannya yang terkesan mendadak itu.


“Semuanya persis seperti apa yang kamu pikirkan sekarang Devan. Tapi tidak perlu di pikirkan. Karena aku baik baik saja. Bukannya kamu sudah berjanji akan selalu ada untukku?”


Devan tertawa mendengarnya. Itu memang adalah janji yang selalu dia lontarkan pada Lisa. Tentu karena Devan memang juga berniat demikian. Devan ingin selalu ada untuk menjaga dan melindungi Lisa semampu yang Devan bisa.


“Bagus kalau kamu percaya itu sayang. Jadi mulai sekarang aku minta sama kamu untuk tidak lagi memikirkan apapun tentang sikap mamah dan Laona. Yang terpenting kamu sudah melakukan yang terbaik. Ingat, apapun yang terjadi aku akan selalu ada untuk kamu.”


Lisa menganggukkan kepalanya. Wanita cantik itu yakin pilihannya untuk menerima Devan sebagai suami yang dia cintai bukanlah suatu hal yang salah. Lisa merasa apa yang di putuskan nya sudah benar. Lisa akan menjalani sisa hidupnya dengan Devan. Pria yang sangat di percaya oleh mendiang papahnya bisa menjaga dan melindunginya dengan baik. Pria yang ke depannya juga akan sangat Lisa andalkan, sebagai suaminya, sebagai kepala rumah tangga, dan pemimpin dalam keluarganya di masa mendatang.

__ADS_1


__ADS_2