
Rasa sedih karena kehilangan sang papah membuat Lisa seperti putus asa. Bahkan hingga 7 hari berlalu setelah kepergian sang papah Lisa masih tetap berbaring diatas tempat tidur. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan pipinya semakin tirus. Penampilan-nya pun sangat berantakan dan jauh dari kata rapi seperti hari biasanya. Lisa seperti orang yang sudah kehilangan gairah untuk hidup.
Namun itu semua tidak membuat Devan menyerah. Pria itu terus membujuk meski Lisa terus saja diam.
“Papah itu bangga banget sama kamu Lisa. Tau tidak? Sebelum kecelakaan itu terjadi papah nemuin aku dan dia ngobrol banyak tentang kamu. Papah juga cerita sama aku tentang sikap mamah kamu yang sejak dulu selalu membedakan kasih sayangnya untuk kamu dan Laona.”
Mendengar itu Lisa menoleh. Pantas saja kecelakaan itu terjadi di jalan yang tidak jauh dari kediaman-nya.
“Papah bilang sejak kecil kamu itu sangat mandiri. Meskipun mamah selalu membeda bedakan kasih sayangnya untuk kamu dan Laona tapi kamu tetap semangat. Kamu selalu bisa melakukan segala hal. Bahkan papah juga cerita dia sangat bangga setiap mengambil raport kamu karena kamu selalu mendapat peringkat satu. Dan karena kamu yang selalu mendapat peringkat satu itu membuat papah dikenal oleh banyak orang tua teman teman kamu. Papah selalu menghampiri guru kamu dengan bangga dan rasa percaya diri yang begitu besar.”
Lisa mengerjapkan kedua matanya pelan. Lisa selalu ingat, papahnya memang selalu tersenyum lebar setiap mengambilkan raportnya dulu. Bahkan meski mamahnya sudah datang untuk mengambil, papahnya selalu ngotot ingin mengambil raport Lisa sendiri.
“Papah juga bilang entah kenapa setiap mengusahakan sesuatu untuk kamu pasti rasanya akan sangat mudah. Kamu adalah penyemangat buat papah Lisa. Aku yakin saat ini papah melihat kamu yang seperti ini dan papah sangat sedih karena putri bungsu kebanggaan-nya tidak semangat seperti biasanya. Tidak menggunakan lagi jas putih kebanggaan kamu selama satu minggu ini.”
Lisa menghela napas pelan. Meski mamahnya selalu membedakan kasih sayang untuknya dan Laona, tapi papahnya tidak pernah seperti itu. Papahnya selalu berlaku adil bahkan seperti lebih berpihak kepadanya.
“Papah pasti nggak mau kamu begini Lisa. Papah ingin kamu tetap kuat dan semangat. Kamu tangguh. Dan kamu bisa menolong banyak orang. Bukankah itu adalah keinginan kamu juga? Supaya tidak ada satupun orang yang meremehkan kamu.”
Mendengar setiap penuturan Devan, hati Lisa yang semula putus asa seperti tergugah kembali. Wanita itu memejamkan sebentar kedua matanya kemudian membukanya lagi. Lisa sadar mau lemah seperti apapun dirinya, papahnya tidak akan mungkin lagi bangkit dari kuburannya. Keadaannya sekarang mungkin malah akan membuat orang lain menertawakannya dan menganggapnya lemah.
“Sekarang lebih baik kamu makan. Kamu itu harus kuat Lisa. Supaya kamu nggak di remehin sama orang.” Senyum Devan sambil meraih kedua bahu Lisa dan menariknya pelan.
Lisa menurut saja saat Devan membantunya duduk dengan bantal sebagai alas untuk punggungnya. Lisa juga menurut saat Devan menyuapinya makan hingga habis tak tersisa.
__ADS_1
Devan menghela napas lega. Satu minggu kesabarannya benar benar sangat di uji oleh Lisa. Tapi sekarang tepat 7 hari setelah kematian papahnya Lisa tiba tiba mau makan tanpa harus Devan memaksa. Itu benar benar membuat Devan merasa sangat senang. Yah.. Meski Lisa tetap bersikap dingin padanya.
“Sudah seminggu loh kamu sama sekali nggak gerak Lisa. Kamu cuma diem di atas kasur. Kamu juga kan belum ke makam papah kan? Sekarang lebih baik kamu mandi terus dandan yang cantik. Aku akan ajak kamu ke makam papah. Papah pasti seneng banget kalau putri kesayangannya mengunjunginya.”
Lisa tetap diam dengan wajah datarnya. Namun meski begitu hatinya membenarkan apa yang Devan katakan.
“Ya udah, aku tunggu kamu diluar ya sayang..”
Sebelum bangkit dari duduknya di tepi ranjang, Devan mencium kening Lisa lembut. Setelah itu Devan pun berlalu keluar dari kamar dengan membawa bekas makan Lisa.
Setelah pintu kamar di tutup dengan pelan oleh Devan, Lisa pun menoleh. Devan memang beberapa kali murka karena Lisa yang tidak mau perduli dengan dirinya sendiri. Tapi sekalipun Devan tidak pernah putus asa dan tetap berusaha membujuknya hingga akhirnya hati Lisa tergerak setelah Devan menceritakan tentang apa yang papahnya katakan tentangnya pada Devan di malam sebelum kecelakaan itu merenggut nyawanya.
Lisa tersenyum samar. Dengan gerakan pelan Lisa menyingkap selimut yang menutupi kaki sampai perutnya kemudian Lisa menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Namun saat hendak berdiri Lisa merasa kesusahan. Kakinya terasa sangat lemas dan lututnya bergetar.
Lisa menoleh ke arah nakas. Tangannya meraih ponsel miliknya yang tergeletak disana dan tidak pernah lagi di sentuhnya selama seminggu ini.
Begitu Lisa membuka ponselnya, Lisa tersenyum karena banyak notifikasi disana. Teman teman sesama dokter, para perawat dan teman beda profesi lainnya mengucapkan bela sungkawa. Ajeng juga banyak sekali menghubunginya namun tidak satupun terjawab. Tentu karena Lisa yang tidak perduli dengan apapun dan terus meratapi kepergian papahnya.
Karena membuka pesan dari teman temannya Lisa sampai lupa niat awalnya meraih ponselnya. Yaitu untuk menelepon bibi dan meminta bantuan asisten rumah tangganya itu. Namun saat hendak mencari kontak bibi, ponsel Lisa mati. Ya, benda pipih itu kehabisan baterai.
“Loh, bukannya siap siap kok malah mainan handphone sih?”
Itu suara Devan. Lisa menoleh dan merasa Devan datang di waktu yang tepat.
__ADS_1
Devan mendekat pada Lisa yang hanya diam menatapnya. Pria itu kemudian berdiri di depan Lisa yang duduk di tepi ranjang.
“Kakiku sangat lemas Devan.” Ujar Lisa lirih.
Devan terkekeh geli mendengarnya.
“Ya ampun sayang.. Kok nggak bilang dari tadi kalau kamu pengin di gendong sama aku sih?”
Lisa berdecak pelan. Becandaan suaminya benar benar sangat tidak lucu.
“Baiklah, karena aku adalah suami yang keren dan baik hati, aku akan gendong kamu ke kamar mandi. Atau kamu mau aku mandiin sekalian sayang?”
“Tida lucu Devan.” Ketus Lisa membuat Devan tertawa pelan.
“Oke oke.. Aku hanya bercanda. Jangan di tanggapi serius sayang. Ayo...”
Lisa hanya pasrah saat Devan menggendongnya dan membawanya melangkah menuju kamar mandi. Harus Lisa akui, kali ini Devan benar benar sangat membantunya. Pria itu bahkan terus berada dirumah untuk mengurusnya. Devan sama sekali tidak pergi kemanapun dan tetap berada disampingnya meski terkadang pria itu kalap dan marah karena sikap batu Lisa.
“Kamu duduk ya.. Biar aku siapin air hangatnya.” Ujar Devan menurunkan Lisa dan mendudukkannya di WC.
Lisa tersenyum melihat Devan yang begitu telaten menyiapkan air hangat, handuk, juga menurunkan sabun dan shampo yang mungkin akan susah di jangkau oleh Lisa mengingat Lisa yang sedang merasa lemas.
“Devan.. Papah benar, kamu memang suami yang baik.” Batin Lisa.
__ADS_1