
Malam ini Devan dan Lisa memutuskan untuk menginap tidak perduli dengan bagaimanapun respon Laona. Karena niat keduanya memang murni untuk menjaga dan menemani nyonya Rosa yang sedang dalam keadaan tidak baik baik saja.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu berhasil menarik perhatian Devan yang sedang fokus dengan laptopnya. Pria itu memutuskan untuk bekerja dari rumah orang tua Lisa. Laptopnya, Kenny yang mengantar saat waktu makan siang tiba.
“Biar aku yang buka.” Ujar Lisa yang baru selesai dari kamar mandi. Devan yang saat itu hendak bangkit pun mengurungkan niatnya dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
Sementara Lisa, dia melangkah menuju pintu untuk membukanya.
“Permisi nona, maaf mengganggu. Saya hanya mau memberitahu bahwa makan malam sudah siap.” Ujar bibi dengan sopan.
Lisa tersenyum tipis.
“Ya bi.. Sebentar lagi saya dan Devan akan turun. Makasih ya bi..”
“Sama sama nona. Saya permisi mau ke kembali ke dapur.”
“Ya bi..” Angguk Lisa.
Setelah bibi berlalu, Lisa kembali menutup pintu kamarnya. Wanita itu menghela napas kemudian melangkah mendekat pada Devan yang begitu fokus dengan laptopnya.
“Apa masih lama Devan?”
Pertanyaan Lisa membuat Devan menoleh padanya. Pria itu tersenyum lalu meletakan laptop yang berada di pangkuannya ke atas meja yang ada di depan sofa warna ungu yang dia duduki.
__ADS_1
“Kenapa sayang?” Tanya nya penuh perhatian.
Lisa diam sebentar. Entah seberapa besar rasa cinta yang Devan miliki untuknya sehingga pria itu bisa begitu sabar menghadapinya. Padahal sedikitpun Lisa tidak pernah memperdulikannya.
Karena Lisa yang diam, Devan pun mengeryit. Pria itu kemudian bangkit dari duduknya mendekat dan berdiri menjulang tepat di hadapan Lisa.
“Hey.. Kenapa malah ngelamun sih?” Devan menoel ujung hidung mancung Lisa lembut membuat Lisa tersentak dan langsung tersadar dari berbagai pemikirannya sendiri.
“Kamu..”
“Jangan memujiku keren. Karena tanpa kamu mengatakan itu padaku, kaca disana sudah menyadarkan aku lebih dulu sayang.” Sela Devan dengan penuh percaya diri yang begitu tinggi.
Lisa memutar jengah kedua bola matanya. Devan memang sangat narsis dan konyol. Pria itu sedikitpun tidak pernah merendahkan dirinya di depan Lisa.
“Oke oke.. Tidak perlu naik darah sayang. Aku hanya tidak ingin kamu merasa bosan jika terlalu serius. Yah.. Sedikit menghibur diri sendiri aku rasa bukan sesuatu yang salah bukan?” Senyum Devan lebar.
“Terserah kamu saja.” Balas Lisa malas.
Ketika Lisa memutar tubuhnya dan hendak menjauh dari Devan, Devan dengan sigap menahannya dengan meraih pinggang Lisa memeluknya dengan mesra.
“Baiklah, aku minta maaf. Kita makan malam sekarang.” Senyum Devan sambil menempelkan dagunya di bahu Lisa.
Lisa menghela napas pelan. Devan benar benar pria ajaib menurutnya. Devan bisa bersikap sangat dewasa dan penuh perhatian juga pengertian. Tapi Devan juga kadang bersifat sangat kekanak kanakan yang akhirnya membuat Lisa merasa jengkel.
Lisa kemudian melepaskan kedua tangan Devan yang memeluk pinggangnya. Setelah itu, Lisa pun berlalu keluar dari kamarnya lebih dulu meninggalkan Devan yang malah menggeleng dan tertawa karena Lisa yang marah marah padanya.
__ADS_1
Ketika hendak menuruni anak tangga pertama, Lisa mengeryit melihat pintu kamar mamahnya yang terbuka. Karena penasaran, Lisa pun melangkah mendekat lalu masuk ke dalam kamar mamahnya itu.
“Mamah..” Panggilnya pelan. Lisa kemudian melangkah mendekat.
Nyonya Rosa menoleh dan menatap sebentar pada Lisa yang berdiri disamping ranjang tempatnya berbaring kemudian kembali melengos membuang muka tidak ingin menatap Lisa terlalu lama.
“Kenapa kamu masih disini Lisa? Kenapa kamu nggak pulang saja? Laona menjadi tidak betah dirumah karena ada kamu dan Devan disini.”
Lisa menahan napasnya sejenak kemudian menghelanya dengan sangat pelan. Mamahnya sedang mengusirnya secara tidak langsung. Namun, Lisa tidak akan memasukkan ke dalam hati apapun yang mamahnya katakan sekarang. Lisa tau bagaimana egoisnya Laona yang tidak mungkin mau mengurusi mamahnya yang sedang sakit. Dan sebagai anak yang baik, Lisa berusaha untuk ada di samping mamahnya dalam keadaannya yang sedang tidak baik baik saja itu. Tidak perduli meskipun sebenarnya yang selalu mamahnya inginkan untuk selalu ada di sampingnya adalah Laona, kakaknya.
“Aku disini karena aku perduli sama mamah. Aku tau mamah marah sama aku dan menganggap aku adalah penyebab kecelakaan papah terjadi. Tapi aku juga nggak mungkin membiarkan mamah sendiri sementara mamah saja sedang sakit. Aku sayang sama mamah dan aku nggak mau kalau sampai mamah kenapa napa.” Ujar Lisa ingin mamahnya tau bahwa Lisa perduli dan menyayanginya.
“Kalau kamu sayang dan perduli sama mamah, kamu nggak mungkin terus terusan menyusahkan mamah. Pembahasan perceraian yang kamu inginkan dengan Devan itu berhasil membuat mamah kehilangan papah sekarang Lisa. Sekarang papah sudah tidak ada. Lalu kenapa sampai sekarang kamu masih bersama dengan Devan? Kenapa kalian tidak bercerai? Bukankah itu yang kamu mau? Bukankah kamu bilang kamu tidak mencintai Devan? Lalu untuk apa sekarang kamu mempertahankan hubungan yang tidak di dasari dengan cinta itu? Bukankah kamu ingin sekali berpisah dengan Devan?”
Lisa menelan ludahnya. Sebelumnya Lisa memang sangat menginginkan perceraian dengan Devan. Namun setelah mendengar apa yang Devan ceritakan padanya sebelum kecelakaan itu merenggut nyawa papahnya Lisa pun menjadi berpikir dua kali untuk kembali dengan niat awalnya yaitu bercerai dengan Devan. Lisa berpikir mungkin dengan dirinya terus bersama dengan Devan, papahnya akan tenang disana karena ada Devan yang papahnya percaya bisa melindungi dirinya dengan baik.
“Devan tau Lisa memang tidak mencintai Devan mah.”
Suara Devan membuat Lisa langsung menoleh dengan cepat padanya begitu juga dengan nyonya Rosa. Pria itu kemudian dengan santai masuk ke dalam kamar mamah mertuanya tanpa sedikitpun merasa canggung dan berdiri tepat di samping Lisa.
“Tapi Devan sangat mencintai Lisa mah. Devan juga sudah berjanji pada papah dan diri Devan sendiri akan terus menjaga Lisa dengan baik bagaimanapun caranya. Devan tidak akan pernah melepaskan Lisa apapun yang terjadi. Karena Devan tidak akan pernah bisa tanpa Lisa. Dan tentang kecelakaan yang menimpa papah, sebelum kejadian itu papah menemui Devan dan menitipkan Lisa pada Devan. Karena papah bilang mamah selalu membedakan kasih sayang untuk Lisa dan Laona.” Ujar Devan panjang lebar dengan begitu sangat berani pada mamah mertuanya.
“Devan kamu..”
“Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan dan aku tau dari papah Lisa.” Sela Devan menatap Lisa dengan tenang.
__ADS_1