
Hari ini Lisa kembali berniat untuk bekerja di rumah sakit seperti biasanya. Dan kali ini Devan sudah benar benar setuju karena Devan sendiri tau bahwa hanya dengan Lisa berbaur dengan teman teman serta melayani pasiennya Lisa bisa melupakan semuanya. Dan mungkin salah satunya adalah Lisa tidak akan terus meratapi kepergian sang papah. Juga mengingat ucapan mamahnya yang menyalahkan Lisa atas semua yang telah terjadi.
“Ingat ya Lisa, kalau sampai Rian mendekati kamu lagi kamu cuekin aja. Nggak usah di ladenin. Aku nggak suka kamu deket deket sama dia.”
Lisa hanya menghela napas pelan. Sejak tadi Devan memang terus saja mewanti wanti padanya tentang Rian. Padahal tanpa Devan mewanti wanti pun Lisa juga enggan dekat dekat dengan mantan kekasihnya itu.
“Dia itu brengsek Lisa. Dia udah nyakitin kamu.” Tambah Devan.
Lisa menatap Devan sesaat kemudian menghela napas sekali lagi. Devan benar benar tidak menyadari bagaimana dirinya di masa lalu.
“Sesama laki laki brengsek tidak boleh saling mencela Devan. Ingat kamu juga dulu suka membagi hati kamu bukan hanya untuk satu perempuan saja.”
Devan mencebikkan bibir tipisnya. Lisa selalu saja berhasil membuatnya diam dengan ucapannya. Devan akui dulu dirinya memang brengsek. Tapi Devan juga tidak pernah memaksa para wanita itu mengerti dirinya. Karena sebenarnya mereka sendiri yang datang kemudian menyatakan cinta pada Devan.
Tidak mau Lisa mengulitinya dengan membahas masa lalu, Devan pun memilih untuk diam. Pria itu melanjutkan melahap sarapan paginya dengan perasaan jengkel.
Sementara Lisa, wanita dengan dress orange selutut model simpel itu diam diam tersenyum geli melihat ekspresi suaminya. Lisa sedikitpun tidak berniat menjelekkan Devan, Lisa hanya tidak ingin Devan terus membahas tentang Rian. Dan hanya dengan cara itu Devan bisa berhenti mengoceh tentang Rian.
Selesai sarapan, Devan pun segera mengajak Lisa untuk berangkat bersama. Pria itu mengendarai mobilnya dalam diam. Devan tidak mau jika sampai Lisa mengulitinya lewat masa lalu dimana dirinya begitu senang mengoleksi pacar.
Tidak butuh waktu lama, mobil Devan sampai di depan rumah sakit tempat Lisa bekerja. Devan segera turun dari mobilnya kemudian bergegas membukakan pintu mobil untuk Lisa.
Devan mengulurkan tangannya yang membuat Lisa diam. Namun sesaat kemudian Lisa pun tersenyum dan menerima uluran tangan Devan. Wanita itu menurut saja saat Devan menuntunnya turun dari mobilnya.
“Nanti pulangnya aku jemput ya.. Kamu jangan pulang dulu. Tunggu sampai aku kesini buat jemput kamu. Oke?” Senyum Devan.
__ADS_1
“Oke..” Angguk Lisa menurut saja.
Devan merasa sangat senang mendengarnya. Kali ini Lisa tidak menolak niat baiknya untuk menjemputnya. Karena memang seharusnya dari dulu memang begitu.
“Ya sudah kalau begitu aku berangkat ya.. Kamu jangan lupa makan siang nanti. Sepertinya aku sibuk hari ini dan nggak bisa makan siang sama kamu.”
Lisa hanya mengangguk saja. Lisa tidak percaya jika siang nanti tidak akan datang untuk makan siang bersamanya. Karena Devan sendiri memang sering mengatakan hal itu namun nyatanya tetap datang untuk mengajaknya makan siang bersama meski sering kali Lisa menolak namun sekalipun Devan tidak pernah menyerah.
Cup
Lisa memejamkan sesaat kedua matanya saat tiba tiba Devan mengecup keningnya. Rasa nyaman dan terlindungi kali ini Lisa rasakan saat Devan mengecup keningnya. Rasa nyaman yang sebelumnya tidak pernah Lisa rasakan.
Setelah berpamitan dengan lembut, Devan pun masuk kembali ke dalam mobilnya. Pria itu menurunkan kaca mobil dan tersenyum pada Lisa yang menatapnya. Devan melambaikan tangannya pada Lisa sebelum benar benar melajukan mobil mewahnya berlalu dari depan rumah sakit tempat Lisa bekerja.
Lisa tersenyum samar. Rasa itu begitu asing namun membuatnya merasa nyaman. Kali ini Lisa tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Devan berhasil membuatnya merasa damai dan tenang.
Lisa menghela napas kemudian memutar tubuhnya. Wanita itu melangkah cepat masuk kedalam gedung rumah sakit tempatnya bekerja. Lisa akan memulai semuanya dari awal lagi. Lisa akan kembali dengan aktivitasnya menjadi seorang dokter. Meski rasa kehilangan itu terus saja menggerogoti hatinya, namun Lisa sadar terlalu lama meratapi kepergian sang papah juga tidak ada gunanya. Yang harus Lisa lakukan adalah kembali menegakkan kepalanya dengan berani untuk menghadapi semuanya meski tanpa dukungan penuh lagi dari sang papah yang telah tiada.
-----------
Di perusahaan Devan.
Pagi ini Devan sangat ceria. Pria itu bahkan sampai membalas dengan ramah sapaan dari setiap karyawan yang berpapasan dengannya. Hal itu membuat Kenny bertanya tanya. Padahal Devan baru saja kehilangan papah mertuanya, namun bisa bisanya pria itu bersikap begitu sangat ceria seolah tidak terjadi apa apa.
Merasa di perhatikan terus oleh Kenny, Devan pun mengeryit.
__ADS_1
“Hey, kenapa kamu menatapku seperti itu Kenny?” Tanya Devan merasa risih dengan tatapan Kenny padanya.
Kenny menghela napas. Apapun itu Kenny berharap apa yang sedang di rasakan oleh Devan adalah sebuah kebahagiaan.
“Tidak, tidak apa apa. Ah ya Devan, siang nanti kamu ada pertemuan dengan tuan Agung.”
Devan mengedikkan kedua bahunya. Bertemu dengan client sudah bukan lagi hal asing bagi Devan. Meski memang terkadang Devan merasa malas Karena Devan yang tidak ingin melewatkan waktu makan siangnya bersama dengan Lisa, istri yang sangat di cintainya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Devan dan Kenny kompak menoleh kearah pintu. Mereka berdua kemudian saling menatap. Waktu kerja belum benar benar di mulai, namun sudah ada yang mengetuk pintu ruangan Devan.
“Hem, biar aku buka.” Ujar Kenny yang kemudian langsung melangkah menuju pintu.
Sementara Devan, pria itu hanya diam saja menatap Kenny yang mulai membuka pintu agar mereka berdua tau siapa yang ada di balik pintu ruangan Devan.
Begitu pintu di buka oleh Kenny, terlihatlah sosok cantik Rosali yang berdiri dengan baju yang super duper sexy itu.
“Hay Devan..” Sapa Rosali tersenyum kemudian masuk begitu saja tanpa Kenny mempersilahkan padanya.
Kenny hanya diam saja namun diam diam melirik pada Devan yang menghela napas pelan melihat kedatangan Rosali pagi ini.
Rosali mendudukkan dirinya di kursi yang ada didepan meja kerja Devan. Wanita itu duduk dengan posisi menggoda berharap Devan akan kembali tertarik padanya.
“Rosali, aku tidak ada waktu untuk mengobrol sama kamu. Aku sibuk banget hari ini. Jadi lebih baik kamu pulang saja.” Ujar Devan langsung yang berhasil membuat senyuman menggoda di bibir Rosali seketika menghilang.
__ADS_1