
Devan baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya setelah selesai meeting saat mendapati Rosali yang sudah duduk dengan santai di kursi yang ada di depan meja kerjanya.
Devan berdecak. Rosali terlalu sering menemuinya membuatnya merasa kesal. Apa lagi mengingat Rosali yang adalah mantan kekasihnya saat di universitas dulu. Itu akan membuatnya di cap sebagai pria yang tidak setia karena masih sering bertemu dengan mantan kekasihnya sementara Devan sendiri sudah beristrikan Lisa.
Devan menghela napas kasar kemudian melangkah menuju meja kerjanya. Pria itu sedikitpun tidak ingin berbicara dengan mantan kekasihnya itu sehingga Devan mencoba bersikap cuek.
Rosali yang mendengar langkah kaki Devan menoleh. Wanita itu tersenyum dan meletakkan ponsel miliknya yang sejak tadi menjadi fokusnya saat menunggu Devan.
“Aku sudah menunggu kamu lama Devan.” Katanya dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
Devan hanya melirik sekilas pada Rosali kemudian memilih membuka laptopnya dan fokus pada layar benda elektronik tersebut. Devan benar benar enggan terlalu dekat lagi dengan mantan kekasihnya itu. Selain karena tidak ingin membuat Lisa salah paham, Devan juga tidak ingin membuat Rosali salah mengartikan respon baiknya.
“Aku sengaja kesini buat kamu Devan. Hemm.. Kita makan siang di restoran tempat favorit kita dulu ya.. Aku dengar restoran itu sudah semakin besar dan mempunyai banyak cabang. Yah.. Sekaligus bernostalgia kembali ke masa masa pacaran kita dulu Van. Bagaimana?”
Devan berdecak lagi. Rosali benar benar tidak memperhatikan ekspresi malasnya. Wanita itu terus bersikap manis dan mengajak makan siang bersama padahal Devan sudah bersikap cuek padanya.
“Aku masih ingat loh menu yang sangat kamu suka dulu Van. Aku juga masih sangat ingat saat pertama kali kamu mengungkapkan perasaan kamu sama aku. Itu tuh di restoran itu tau nggak Van. Aku yakin kamu juga masih sangat mengingatnya.” Rosali kembali mengoceh membuat Devan mau tidak mau harus menatapnya kali ini.
__ADS_1
Devan memang masih mengingat semua itu. Tapi itu bukan berarti karena Devan terus mengenang masa masa pacarannya dengan Rosali. Devan mengingatnya karena memang daya ingat Devan sangat kuat. Bagi Devan semua yang terjadi di antaranya dan Rosali hanyalah sebuah masa lalu yang tidak seharusnya kembali di ungkit ke permukaan. Apa lagi sekarang Devan sudah menikah dan memiliki Lisa sebagai istrinya. Meskipun memang Lisa mungkin tidak akan cemburu, namun sebagai suami yang baik menjaga statusnya sebagai pria setia adalah hal penting bagi Devan.
“Rosali, aku rasa kita tidak perlu lagi mengungkit tentang masa lalu kita dulu. Itu hanya bagian dari cerita perjalanan hidup kita yang tidak seharusnya kembali di bahas. Apa lagi hubungan kita juga sudah selesai dengan cara baik baik.” Ujar Devan.
Ucapan Devan membuat senyuman di bibir Rosali seketika sirna. Rosali tidak menyangka Devan akan merespon seperti itu.
“Devan kamu..”
“Aku bukan nggak mau berteman dengan kamu Rosali. Tapi sikap kamu itu sangat berlebihan. Jujur aku merasa tidak nyaman dengan sikap kamu. Dan sekarang aku berpikir akan lebih baik kalau kita tidak sering bertemu. Aku nggak mau ada kesalah pahaman di antara aku juga istriku. Aku sangat mencintainya dan sedikitpun aku tidak mau membuat istriku kecewa apa lagi sampai sakit hati.” Sela Devan menatap Rosali.
Rosali menggelengkan kepalanya tidak menyangka Devan akan berkata seperti itu padanya. Padahal Rosali pikir Devan juga masih mempunyai rasa padanya.
Rosali melengos. Wanita itu benar benar tidak menyangka jika Devan bisa begitu sangat mencintai Lisa. Wanita dingin yang memang terkenal sombong sejak di universitas dulu.
“Kamu keterlaluan Devan. Kamu bersikap kasar seperti ini sama aku cuma gara gara perempuan sombong dan dingin seperti Lisa.”
“Terserah apa kata kamu Rosali. Sekarang lebih baik kamu keluar dari ruangan aku. Dan untuk ke depannya tolong agar kamu tidak datang lagi kesini.” Kata Devan tidak perduli. Yang Devan mau saat ini hanya ketentraman hidup berumah tangganya dengan Lisa. Devan tidak ingin siapapun menghancurkan itu. Apa lagi sekarang Lisa sudah mulai bersikap baik padanya. Lisa juga sudah tidak lagi bersikap dingin padanya.
__ADS_1
Rosali menangis mendengar Devan mengusirnya. Ucapan Devan terlalu kasar padanya. Dan Rosali tidak bisa menerima begitu saja apa yang Devan katakan padanya.
“Tega ya kamu Devan sama aku. Kamu nggak punya perasaan. Kamu jahat. Kamu keterlaluan.” Lirih Rosali dengan suara bergetar.
Devan hanya diam saja. Devan menyesal karena tidak bersikap tegas dari awal pada Rosali. Padahal jika dirinya dari awal bersikap tegas pada Rosali, mungkin Rosali tidak akan mengejarnya terus menerus dan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi lagi di antara mereka berdua.
Setelah berkata dengan penuh rasa sakit hati dan kecewa, Rosali pun berlalu keluar dari ruangan Devan. Wanita itu bahkan melangkah sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya. Rosali sangat tidak menyangka Devan akan berkata seperti itu padanya. Padahal Rosali pikir Devan juga masih mempunyai perasaan padanya sama seperti dirinya yang masih sangat mengharapkan bisa kembali menjalin kisah dengan Devan tidak perduli meskipun Devan sudah menikah dengan Lisa sekarang.
“Devan, aku nggak bisa terima semua ini. Sampai kapanpun kamu hanya boleh mencintaiku. Bukan Lisa atau siapapun.” Batin Rosali sambil melangkah keluar dari gedung perusahaan Devan.
Saat melangkah menuju mobilnya, Rosali berpapasan dengan Margareth yang juga berniat menemui Devan. Namun sepertinya Rosali tidak menyadari keberadaan Margareth. Lain halnya dengan Margareth yang melihat jelas bagaimana Rosali yang terus mengusap air mata di pipinya dengan ekspresi penuh amarah dan dendam.
Margareth menoleh menatap Rosali yang langsung masuk ke dalam mobil tanpa menoleh padanya. Margareth yakin sesuatu pasti telah terjadi sehingga Rosali sampai menangis.
“Apa mungkin Devan yang membuat Rosali menangis?” Gumam Margareth penuh tanda tanya.
“Tapi kenapa?” Margareth tampak berpikir namun kemudian mengedikkan kedua bahunya tidak perduli.
__ADS_1
Margareth memutuskan untuk kembali melanjutkan niatnya untuk menemui Devan, sahabat yang diam diam di cintainya.
Margareth beberapa kali mendapat sapaan ramah dari karyawan di perusahaan Devan. Semua karyawan disana juga tau siapa Margareth karena Margareth memang sering datang untuk menemui Devan.