Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 30


__ADS_3

Lisa baru saja merasakan kantuknya saat tiba tiba Devan memeluknya dari belakang. Apa yang Devan lakukan berhasil membuat Lisa terkejut sehingga rasa kantuk itu sirna seketika.


“Kamu bisa..”


“Ssshhtt.. Sudah malam. Lebih baik sekarang kita tidur.” Sela Devan yang tidak mau berdebat dengan istrinya. Devan tau bagaimana perasaan Lisa sekarang. Dan pelukan tiba tibanya itu sebagai isyarat Devan memberi tahu bahwa dirinya akan selalu ada untuk Lisa dalam keadaan apapun.


“Aku tetap mau bercerai Devan.” Gumam Lisa yang sama sekali tidak di gubris oleh Devan. Devan mendengarnya, tapi Devan enggan membahasnya. Karena sampai kapanpun Devan tidak akan melepaskan Lisa. Apapun alasan-nya.


Lisa berdecak. Dia tau Devan sengaja menghindari pembahasan tentang perceraian yang Lisa inginkan.


“Kalian, maksud aku kamu dan Margareth cocok. Aku yakin kamu akan lebih bahagia kalau bersama dengan Margareth Devan.” Kali ini Lisa mencoba memancing dengan membawa nama Margareth. Karena sebenarnya Lisa juga sedang sangat kesal karena Devan yang bukan-nya menegur Margareth yang tidak sopan tapi malah mengajaknya turun entah untuk melakukan apa.


Devan tetap diam. Pria itu memejamkan kedua matanya dengan tenang dengan bibir yang sengaja di tempelkan di tengkuk Lisa.


Lisa yang merasa kesal karena Devan tidak menanggapinya berusaha melepaskan pelukan Devan namun tidak bisa karena Devan malah semakin mengeratkan pelukan-nya.


Saat sedang berusaha lepas dari pelukan Devan entah kenapa tiba tiba wajah sang papah membayanginya. Hal itu membuat Lisa berhenti mencoba melepaskan pelukan Devan. Lisa bahkan merasakan sesuatu yang sangat tidak enak di hatinya.


“Papah..” Batin Lisa yang tiba tiba mengingat nasehat sang papah padanya tadi.


Karena terus di bayangi oleh wajah tampan sang papah, Lisa pun tidak bisa benar benar memejamkan kedua matanya. Bahkan nasehat nasehat yang selalu di lontarkan oleh sang papah juga terus terngiang di telinganya membuatnya merasa tidak nyaman dengan rasa khawatir yang menguasai hati juga pikiran-nya. Lisa bahkan tanpa sabar meremat tangan Devan membuat Devan yang semula sudah terlelap langsung terbangun.


“Ada apa?” Tanya Devan dengan suara seraknya. Pria itu bahkan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Lisa yang menghadap ke depan.


“Papah.. Aku kangen papah..” Lirih Lisa yang membuat hati Devan terenyuh. Suara Lisa juga terdengar seperti sedang menahan tangis.

__ADS_1


Devan kemudian memutar pelan tubuh Lisa agar menghadapnya. Kesadaran Devan langsung pulih sepenuhnya. Rasa kantuknya hilang begitu mendengar suara serak Lisa.


“Besok pagi kita temui papah di kantornya yah..” Senyum Devan menyentuh lembut dagu Lisa.


Lisa hanya diam saja. Wanita itu tidak berontak bahkan meski Devan mengecup singkat bibirnya.


“Sekarang lebih baik kita tidur. Aku tau kamu lelah sayang. Istirahatkan tubuh, pikiran juga hati kamu. Kamu tidak perlu khawatir apa lagi takut. Aku akan selalu ada untuk kamu sayang.” Lirih Devan menatap tepat pada kedua bola mata Lisa.


Tanpa sadar Lisa menganggukkan kepalanya. Lisa juga pasrah dan menurut saja saat Devan mendekapnya dengan penuh kasih sayang.


Karena rasa nyaman dan hangat dalam dekapan hangat Devan, perlahan rasa kantuk pun mulai menyerang Lisa hingga akhirnya Lisa benar benar terlelap dalam dekapan hangat Devan.


Devan tersenyum. Senang sekali rasanya karena bisa mendekap Lisa tanpa ada perlawanan atau perdebatan seperti biasanya.


Devan berdecak merasa kesal karena bunyi ponselnya. Tidak mau sampai Lisa terbangun akibat deringan nyaring benda pipih miliknya itu, Devan pun pelan pelan melepaskan dekapan-nya pada Lisa. Setelah itu Devan bangkit dengan sangat pelan pelan pula. Tangan-nya terulur meraih ponselnya yang hampir saja jatuh karena bergerak saat bergetar.


Devan mengeryit ketika mendapati nama kontak papah mertuanya yang tertera disana. Devan merasa heran karena tadi mereka juga baru saja bertemu dan membicarakan tentang perlakuan mamah mertuanya pada Lisa.


“Ada apa ya?” Gumam Devan yang mendadak merasa tidak enak pada hatinya.


Karena penasaran Devan pun segera mengangkat telepon tersebut. Devan juga turun dari ranjang sedikit menjauh dari Lisa agar tidak mengganggu istrinya yang sudah terlelap.


“Halo pah..”


“Selamat malam. Maaf sebelumnya apa benar ini dengan tuan Devan William?”

__ADS_1


Devan mengeryit. Itu bukan suara papah mertuanya. Itu suara orang yang sama sekali tidak pernah Devan dengar sebelum ini.


“Ya, dengan saya sendiri. Ada apa ya? Dan kenapa handphone papah saya ada pada anda?” Tanya Devan mulai tidak tenang. Devan juga sesekali menoleh dan menatap pada Lisa yang terlelap tenang diatas ranjang.


“Begini tuan Devan. Tuan Aditya mengalami kecelakaan di jalan mawar. Mobilnya menabrak pembatas jalan. Dan dari keadaan-nya sepertinya kecelakaan tersebut terjadi sekitar setengah jam yang lalu. Karena darah dari luka tuan Aditya juga sudah mulai mengering.” Jelas seseorang di seberang telepon.


Kedua mata Devan membulat dengan sempurna mendengarnya. Mereka baru saja bertemu.


“Tuan Aditya dalam keadaan dengan luka yang cukup parah di bagian kepala tuan. Dan sekarang tuan Aditya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.” Tambah orang tersebut memberitahu Devan.


“Baik, saya akan segera kesana. Tolong kirim alamat rumah sakitnya sama saya segera.”


Devan memutuskan sambungan telepon-nya setelah itu. Pria itu menatap kembali pada Lisa yang baru bisa terlelap. Entah kenapa Devan merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi. Apa lagi sebelum tidur Lisa juga menahan tangis mengatakan merindukan papahnya.


Devan menelan ludah kemudian menghela napas. Tiba tiba ucapan papah mertuanya yang mengatakan percaya padanya bisa menjaga dan melindungi Lisa dengan baik terngiang di telinga Devan kembali. Ucapan itu seperti sebuah isyarat papah mertuanya menitipkan sepenuhnya putri kebanggaan-nya pada Devan.


“Enggak, aku nggak boleh mikir macam macam. Papah pasti akan baik baik saja.” Gumam Devan.


Tidak mau terlalu lama mengulur waktu, Devan pun bergegas membuka lemari bajunya meraih jaket dan mengenakan-nya. Devan juga tidak lupa membawa dompet dan kunci mobilnya. Setelah itu Devan mendekat pada Lisa dan mencium lembut kening Lisa.


Devan melangkah buru buru keluar dari kamarnya. Sebelum benar benar keluar dari rumah untuk menuju rumah sakit, Devan membangunkan bibi memerintahkan-nya untuk menemani Lisa. Devan tidak tega jika harus membangunkan Lisa sekarang.


Setelah bibi naik ke lantai dua menuruti perintahnya menemani Lisa, Devan pun keluar dari rumahnya dan masuk kedalam mobil. Devan sengaja membunyikan klakson dengan keras agar pak satpam terbangun untuk membukakan pintu gerbang.


“Tuhan.. Tolong selamatkan papah Aditya..” Batin Devan penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2