Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE TERAKHIR


__ADS_3

Tidak ada yang bisa Lisa maupun Devan lakukan untuk membela Laona. Apa lagi semua bukti sudah terbukti begitu jelas. Meski memang Laona terus mencoba membela diri dengan mengatakan dia melakukan itu karena membela diri. Laona mengatakan Rian menghina martabatnya sebagai seorang wanita yang akhirnya membuat Laona kalap dan akhirnya tanpa sadar melakukan pembunuhan tersebut.


Nyonya Rosa, dia terus menangis bahkan sampai bersimpuh di depan kedua kaki Devan meminta tolong agar Devan mau membantu Laona. Namun Devan dengan lembut menolak karena hukum tidak bisa di beli dengan apapun. Laona harus tetap mempertanggung jawabkan perbuatannya yang telah menghilangkan nyawa seseorang.


Untuk keluarga Rian, tidak ada tuntutan apapun dari mereka mengingat Bunda Rian hanya hidup sendiri bersama asisten rumah tangganya. Apa lagi kondisi bunda Rian juga sering sakit sakitan. Hal itu wanita itu hanya bisa menangis meratapi kepergian putra kebanggaannya yang begitu mendadak.


Lisa menghela napas setelah mamahnya tenang dan tertidur pulas. Dua hari ini nyonya Rosa terus saja menangis dan menolak untuk makan. Wanita itu menangis meraung sambil memanggil manggil nama Laona. Nyonya Rosa juga masih tidak percaya bahwa Laona adalah pelaku dari pembunuhan yang membuat Rian meninggal dunia dengan keadaan yang sangat mengenaskan.


Dengan lembut Lisa membelai pipi mamahnya. Mungkin nyonya Rosa memang tidak bisa membagi dengan adil kasih sayangnya pada Lisa. Nyonya Rosa jauh lebih menyayangi Laona dari pada Lisa. Nyonya Rosa juga begitu terang terangan memperlihatkan perbedaan kasihnya pada Lisa.


Sentuhan lembut tangan besar Devan membuat Lisa menoleh. Dokter cantik itu tersenyum begitu tatapannya bertemu dengan tatapan lembut Devan, suaminya.


“Kamu yang tenang ya.. Kamu harus bisa membuat mamah paham dan mengerti. Karena bagaimanapun juga semua bukti itu sudah jelas. Kita nggak bisa melakukan apa apa sayang.. Laona harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.” Ujar Devan.


Lisa menganggukkan kepalanya paham. Perbuatan Lisa memang sudah sangat di luar batas. Menghilangkan nyawa seseorang bukan lah perbuatan yang bisa dengan mudah di maafkan. Maka dari itu Lisa sama sekali tidak berniat memberi pembelaan pada Laona yang memang sudah terbukti bersalah.


“Ya udah, lebih baik sekarang kita istirahat. Ini sudah malam. Lusa juga akan di adakan sidang dan kita sebagai anggota keluarga harus turut menyaksikan sidang itu.” Senyum Devan.


“Ya...” Angguk Lisa lagi dengan senyuman yang kembali menghiasi bibirnya.


Mereka berdua kemudian melangkah menuju kamar mereka. Ya, Lisa memang memutuskan untuk membawa mamahnya pulang ke rumahnya dan Devan. Dan saat Lisa pulang, Devan sudah menunggunya dengan wajah gelisah. Devan mengetahui berita tersebut dari TV.


Perasaan Lisa sangat kacau sekarang. Walaupun memang Laona sudah terbukti bersalah, namun tetap saja sebagai seorang adik Lisa merasa kasihan melihat Laona yang berada di dalam penjara. Apa lagi melihat mamahnya yang terus saja histeris dan menolak percaya dengan kenyataan yang ada. Itu membuat Lisa merasa di lema.

__ADS_1


“Tidurlah sayangku.. Jangan memikirkan apa yang tidak perlu kami pikirkan. Biarkan Laona mempertanggung jawabkan perbuatannya.” Bisik Devan memeluk mesra perut rata Lisa.


Lisa menghela napas pelan. Laona memang harus menjalani hukuman atas perbuatannya. Hukuman yang sepadan dengan apa yang sudah Laona lakukan dengan menghilangkan nyawa Rian.


Lisa menuruti apa yang Devan katakan. Dia memejamkan kedua matanya sembari merilekskan pikirannya enggan terlalu larut memikirkan masalah tentang Laona.


“Nice dream sayangku..” Bisik Devan lagi sembari mencium tengkuk Lisa yang begitu mudah di jangkaunya karena posisi Lisa yang berbaring memunggunginya.


------------


DOK DOK DOK !!


Tiga kali ketukan palu pertanda usainya persidangan di sambut dengan suara riuh para awak media yang hadir. Sidang yang berjalan selama hampir dua jam itu menetapkan bahwa Laona adalah tersangka tunggal dan harus menjalani hukuman seumur hidup karena perbuatannya menghilangkan nyawa seseorang.


Namun sebisa apapun Laona berkilah, hukuman tetaplah hukuman. Apa lagi bunda Rian juga menyuruh orang kepercayaannya untuk menuntut atas hilangnya nyawa putra tunggal kesayangannya. Bunda Rian juga tidak bisa menerima begitu saja apa yang Laona lontarkan dengan memfitnah mendiang Rian yang mencoba memperkosanya. Sementara di CCTV yang beredar Rian sama sekali tidak melakukan apa apa dan hanya Laona yang terlihat bergerak.


Nyonya Rosa hanya bisa menangis dalam pelukan Lisa. Wanita itu tidak sedikitpun menduga putri sulung kesayangannya akan melakukan hal demikian. Dan nyonya Rosa juga tidak bisa berbuat apa apa karena tuntutan dari keluarga Rian sangatlah berat.


“Mamah yang sabar ya.. Laona harus bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Mamah nggak perlu memikirkan apapun. Lisa nggak akan biarin mamah merasa sendiri.” Ujar Lisa sambil mengusap lembut bahu bergetar nyonya Rosa.


Nyonya Rosa tidak mampu berkata apa apa. Wanita itu hanya bisa menangis dalam pelukan Lisa. Putri sulung yang sangat dia banggakan membuatnya sangat kecewa kali ini. Namun seberapa besarpun kecewanya, nyonya Rosa tetap sangat menyayangi Laona dan berharap hukuman yang Laona jalani akan di ringankan.


Setelah sidang pembacaan keputusan hukuman selesai, Lisa pun segera mengantar mamahnya pulang dengan Devan. Lisa sempat menawarkan agar mamahnya tinggal bersamanya atau sebaliknya, Lisa yang tinggal di rumah mamahnya. Namun nyonya Rosa menolak dan Lisa enggan untuk memaksa.

__ADS_1


“Lihat Kan? Bagaimana mamah begitu sangat menolak keberadaan aku?” Tanya Lisa pada Devan dengan senyuman kecutnya.


Devan menghela napas pelan. Pria itu menatap punggung mamah mertuanya yang semakin menjauh hingga akhirnya punggung wanita itu menghilang di balik pintu yang utama rumahnya yang langsung kembali di tutup begitu dirinya masuk.


Devan kemudian tersenyum dan merangkul lembut bahu istrinya. Nyonya Rosa memang tidak pernah menutupi perbedaan kasih sayang yang dia berikan pada Laona dan Lisa. Itu membuat Devan paham akan sikap mamah mertuanya.


“Tidak perlu memikirkan tentang itu lagi sayang. Yang penting kan aku akan selalu ada buat kamu. Kita jalani hidup ini dengan bahagia. Kamu juga harus ingat, bagaimanapun mamah dia tetap orang telah melahirkan kamu ke dunia ini.”


Lisa menoleh dan tersenyum lebar menatap wajah tampan suami brondongnya dari samping. Devan meskipun terkadang bersikap kekanak kanakan dan ajaib, namun pemikiran pria itu juga sangat dewasa. Kedewasaan itu lah yang perlahan membuat Lisa merasa nyaman di samping Devan.


“Kamu benar Devan. Bagaimana pun mamah dia tetap mamah yang harus aku sayangi.”


Devan menoleh dan mengangguk setuju. Pria itu lalu mengecup kening Lisa sebentar.


“Kita pulang sekarang?” Tanya nya.


“Ayo..” Jawab Lisa mantap.


Mereka berdua kemudian kembali masuk ke dalam mobil Devan dan berlalu dari pekarangan luas kediaman keluarga Lisa.


Tidak perduli dengan apa yang sudah terjadi, Lisa bertekad akan menjalani hidupnya dengan bahagia bersama Devan, suaminya.


END

__ADS_1


__ADS_2