
Dalam perjalanan menuju pulang, Lisa terus memikirkan sikap mamahnya. Lisa masih bisa menerima dan maklum jika Laona yang terus bersikap sinis padanya. Tapi mamahnya, itu benar benar sangat membuatnya bingung. Bahkan Lisa juga pernah berpikir apakah dirinya bukan anak kandung mamahnya.
Karena keasikan melamun memikirkan sikap mamahnya, Lisa sampai tidak menyadari saat dirinya sampai tepat di depan gerbang kediamannya dengan Devan.
“Maaf nyonya, sudah sampai.” Ujar si supir taxi membuat Lisa tersadar dari lamunannya.
“Ah ya...” Saut Lisa yang kemudian segera mengambil beberapa lembar uang dari dalam tasnya dan memberikannya pada supir taxi tersebut sebagai ongkosnya.
“Terimakasih pak.” Ujar Lisa kemudian turun dari taksi tersebut.
Lisa memencet bel yang ada di samping gerbang membuat pak satpam dengan sigap berlari dan membukakan pintu gerbang tersebut untuk Lisa.
“Selamat siang nyonya..” Sapa pak satpam sopan dan ramah saat membukakan pintu gerbang untuk Lisa.
“Ya.. Siang juga pak. Terimakasih ya..” Senyum Lisa membalas dan tidak lupa mengucapkan terimakasih pada pak satpam yang sudah membukakan pintu gerbang untuknya.
“Sama sama nyonya.” Balas pak satpam menganggukkan kepalanya kemudian kembali menutup dan mengunci gerbang tersebut setelah Lisa masuk ke dalam pekarangan luas rumahnya.
Lisa melangkah santai melewati halaman luas rumahnya kemudian masuk ke dalam rumahnya. Meski pemikiran tentang sikap mamahnya terus saja berada di kepalanya, namun Lisa berusaha untuk tetap tenang. Yang terpenting Lisa tetap berusaha bersikap baik pada mamahnya. Karena bagaimana pun juga Lisa tetap berhutang banyak pada wanita yang telah melahirkannya itu. Lisa sadar tanpa jasa besar mamahnya yang sudah bertaruh nyawa melahirkannya dirinya tidak akan ada di dunia ini.
“Selamat siang nyonya..” Sapa bibi yang saat itu sedang mengelap meja makan.
“Ya bi.. Siang. Saya langsung ke atas ya.. Nggak usah masak buat makan siang, nanti biar saya makan diluar saja. Atau nggak bibi masak saja buat bibi sendiri.” Ujar Lisa tersenyum menatap bibi yang berdiri menghadapnya dengan menggenggam kain lap di tangannya.
“Baik nyonya.” Angguk bibi mengerti.
__ADS_1
Setelah bibi menjawab, Lisa pun melangkah menuju tangga. Wanita itu menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua. Lisa berniat untuk membersihkan dirinya, kemudian istirahat siang untuk menjernihkan pikirannya dari segala apa yang baru saja di alaminya di rumah kedua orang tuanya.
-----------
“Kamu dan Rosali kembali dekat?”
Pertanyaan Margareth membuat Devan yang sedang fokus dengan laptopnya mengeryit kemudian mengangkat kepalanya menatap Margareth. Pria itu tidak menyangka jika Margareth orang yang jelas tau bagaimana dirinya mencintai Lisa malah menanyakan tentang sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi itu.
“Apa kamu sedang bercanda Margareth? Kamu tau bagaimana aku sangat mencintai istriku Lisa bukan? Mana mungkin aku dekat lagi dengan Rosali?”
Margareth mengangkat kedua alisnya. Sebenarnya sejak dulu Margareth juga tidak menyukai Rosali. Selain karena Margareth yang diam diam mencintai Devan yang adalah sahabatnya, Margareth juga merasa jengah dengan sikap sombong dan angkuh Rosali.
“Ya mungkin saja cinta lama kalian belum kelar.” Ujar Margareth asal.
Margareth yang duduk di sofa di seberang meja kerja tempat Devan berada hanya bisa menghela napas saja. Margareth semakin merasa harapannya untuk bisa memiliki Devan semakin mustahil karena yang Devan sangat cintai hanya Lisa.
Setelah berkata dengan tegas pada Margareth, Devan pun kembali fokus dengan laptopnya. Sementara Margareth, beberapa kali wanita itu mencuri pandang pada Devan. Sejak dulu Margareth memang selalu setia berada di samping Devan. Margareth juga selalu membersamai Devan kemanapun Devan pergi dulu. Tidak heran jika dulu banyak yang mengira Margareth dan Devan adalah pasangan hingga akhirnya Devan bersama dengan Rosali dan isu Margareth adalah kekasih Devan pun seketika menghilang begitu saja. Namun itu tidak berarti Margareth menyerah. Margareth tetap berusaha menjadi yang terbaik dan terus memendam perasaannya sampai sekarang.
Margareth tidak tau kenapa sampai sekarang dirinya masih bertahan dengan harapan semunya. Harapan yang sampai kapanpun mungkin tidak akan pernah terwujud karena Margareth sendiri tau yang Devan cintai hanyalah Lisa.
“Kamu mau ngapain kesini? Memangnya kamu lagi nggak ada kerjaan? Atau kamu mau kaya Rosali juga? Bikin aku emosi?” Tanya Devan tanpa menatap pada Margareth.
Margareth berdecak dan mencebikkan bibirnya. Margareth memang mencintai Devan. Tapi Margareth tidak mau jika sampai Devan menyamakannya dengan Rosali yang menurutnya sangat tidak tau malu itu.
“Jangan samakan aku dengan mantan kamu.” Ketus Margareth.
__ADS_1
Devan tersenyum geli diam diam mendengar jawaban ketus Margareth. Devan sendiri bagaimana Margareth yang sejak dulu memang tidak menyukai Rosali. Margareth bahkan pernah mendiamkannya karena Devan yang terlalu sering menghabiskan waktu dengan Rosali.
“Baguslah kalau begitu. Aku memang tidak salah memilih kamu sebagai sahabat terbaik aku Margareth.” Kata Devan.
Margareth hanya diam saja. Menjadi sahabat terbaik untuk Devan sampai sekarang memang adalah cara terselubung bagi Jennifer agar bisa selalu dekat dengan Devan. Karena sejak dulu sebenarnya Margareth memang tidak bisa jauh dari Devan. Cinta terpendam yang Margareth miliki untuk Devan memang sangat besar sehingga membuat Margareth terkadang takut dan khawatir sendiri dengan perasaan itu.
Margareth melengos. Wanita itu tidak tau akan sampai kapan dirinya bertahan dengan perasaan terpendamnya pada Devan. Margareth juga tidak tau apakah perasaan cintanya pada Devan akan terus bertepuk sebelah tangan atau terbalaskan suatu saat nanti. Tapi yang pasti Margareth tidak akan berhenti berharap. Margareth yakin kebahagiaan akan menyapanya sebentar lagi.
“Aku harus pulang sekarang Margareth. Kamu kalau mau tetap disini silahkan. Aku akan panggil Kenny untuk menemani kamu.”
Margareth menatap pada Devan yang sudah menutup laptop dan tampak sangat terburu buru itu. Padahal Margareth pikir Devan akan pulang sore atau malam seperti biasanya.
“Loh, ini kan masih siang. Memangnya kerjaan kamu sudah selesai?” Tanya Margareth bingung.
“Lisa menungguku dirumah. Dan aku akan melanjutkan pekerjaanku dirumah.” Jawab Devan membuat Margareth mendesah kesal. Lisa memang selalu di utamakan oleh Devan.
“Nggak usah panggil Kenny. Aku juga mau pulang kok.”
Devan hanya mengangguk saja.
“Oke, aku duluan. Kamu hati hati nanti nyetirnya.” Ujar Devan sebelum berlalu keluar dari ruangannya meninggalkan Margareth sendiri.
Margareth hanya bisa diam saja. Ingin mencegah Devan tapi sangat tidak mungkin. Namun Margareth ingin sekali berteriak sekeras kerasnya pada Devan dan mengatakan dengan jujur perasaan yang Margareth pendam selama ini.
“Devan.. Kenapa aku harus mencintai kamu jika aku harus merasakan sakit ini..” Lirih Margareth sedih.
__ADS_1