
Beberapa hari setelah mengunjungi makam papahnya, Lisa mulai bisa kembali menata hatinya. Lisa juga sadar tidak ada gunanya dirinya terus meratapi kepergian sang papah. Karena pada dasarnya segala sesuatu yang di kehendaki oleh Tuhan pasti adalah yang terbaik. Lisa yakin Tuhan begitu sangat menyayangi papahnya sehingga memanggilnya untuk kembali begitu cepat dan tak terduga.
Lisa menatap pantulan dirinya di cermin di depan-nya. Wanita itu tersenyum mengingat masa masa dirinya saat terpuruk karena meratapi kepergian sang papah. Lisa merasa sangat konyol karena mengingat pertanyaan-nya pada Devan saat Devan menyuruhnya untuk makan. Dan pertanyaan itu sukses membuat Devan murka padanya.
“Ya Tuhan... Ini benar benar sangat sulit untuk aku jalani. Tapi aku tau Tuhan.. Engkau lebih menyayangi papah.” Lisa memejamkan sesaat kedua matanya. Semuanya terjadi begitu saja. Begitu sangat tiba tiba dan mengejutkan-nya.
“Aku tidak tau apa jadinya aku jika tidak ada Devan yang begitu setia berada disampingku.”
Lisa kembali membuka kedua matanya menatap pantulan wajahnya yang sudah tidak lagi pucat. Meski memang berat badan-nya memang turun begitu derastis karena Lisa yang terus saja mengabaikan waktu makan-nya selama seminggu setelah di tinggalkan oleh papahnya, mendiang tuan Aditya.
“Pah.. Lisa akan mencoba menjalani semuanya meskipun berat. Lisa yakin Lisa meski memang harus menjalaninya tanpa dukungan dan semangat dari papah secara langsung.” Batin Lisa.
Tanpa sadar Lisa meneteskan air matanya. Namun dengan cepat Lisa mengusapnya. Lisa tidak ingin terlihat lemah bahkan di depan bayangan-nya sendiri.
“Aku bisa.. Yah.. Aku bisa.” Gumamnya yakin.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Lisa menghela napas. Wanita dengan dress rumahan selutut warna orange itu kemudian melangkah menuju pintu dan membukanya.
“Nyonya, maaf saya mengganggu. Dibawah ada tamu nyonya. Katanya namanya tuan Rian dan tuan Rian mengaku sebagai teman dari nyonya juga tuan.” Ujar bibi.
“Sebentar lagi saya turun ya bi.. Tolong buatkan minum saja dulu.” Senyum Lisa pada bibi.
“Baik nyonya, kalau begitu saya permisi.”
Lisa berdecak pelan. Rian memang banyak mengirim pesan padanya. Entah darimana pria itu tau nomor telepon-nya. Yang jelas Lisa merasa tidak pernah memberikan-nya.
__ADS_1
Tidak ingin di anggap tidak menghormati tamu, Lisa pun segera keluar dari kamarnya untuk menemui Rian. Meski sebenarnya Lisa malas sekali jika bertatap muka dengan pria brengsek yang sudah menghancurkan hati dan perasaan-nya dimasa lalu itu.
Di ruang tamu, Rian tersenyum saat melihat Lisa yang melangkah mendekat ke arahnya. Pria itu kemudian bangkit dari duduknya dan mencegat langkah Lisa dengan cepat.
“Lisa...”
“Mau apa kamu kesini Rian?” Tanya Lisa memotong apa yang ingin di katakan Rian padanya.
Rian tersenyum. Pria itu tau dirinya salah. Tapi Rian merasa sudah menyadari kesalahan-nya dan berniat untuk mengulang semuanya lagi dengan baik tanpa berniat untuk menyakiti Lisa lagi.
“Aku sangat khawatir sama kamu Lisa. Aku juga beberapa kali mengirim pesan sama kamu tapi tidak ada satupun yang di balas. Aku yakin pasti handphone kamu ada sama Devan ya? Soalnya aku juga beberapa kali kesini tapi Devan selalu melarangku untuk masuk Lisa. Aku bukan tidak perduli sama kamu. Tapi Devan, dia selalu menghalangi aku untuk menemui kamu.”
Lisa tersenyum sinis mendengarnya. Wanita itu tidak tau apa yang di inginkan oleh Rian darinya. Pria itu dulu menyakitinya dengan begitu kejam. Tapi sekarang dia bertingkah seolah dirinya sangat perduli pada Lisa.
“Aku ikut sedih mendengar apa yang terjadi sama papah kamu Lisa. Kamu yang sabar dan tabah ya.. Ini semua sudah kehendak Tuhan dan mungkin juga ini adalah yang terbaik.” Lanjut Rian.
“Kamu tidak perlu pura pura baik sama aku Rian. Kamu juga tidak perlu repot repot kesini.”
“Lisa aku..”
“Rian, di antara kita itu sudah tidak ada apa apa lagi. Aku sudah menikah dan tidak seharusnya kamu muncul lagi di hadapanku apapun alasan-nya.” Sela Lisa tidak ingin mendegar apapun lagi dari mulut Rian.
Rian menghela napas. Lisa masih tidak mau memaafkan kesalahan-nya.
“Tentang dulu.. Aku menyesal Lisa. Aku benar benar sangat menyesal. Aku akui aku salah sama kamu. Aku minta maaf.”
Lisa menggelengkan kepalanya mendengar apa yang Rian katakan. Lisa tidak habis pikir dengan Rian yang masih bisa mengatakan maaf tanpa sedikitpun merasa malu setelah apa yang dilakukan-nya dulu.
__ADS_1
“Andai saja waktu bisa aku putar kembali Lisa, aku tidak akan mengkhianati kamu dan berselingkuh dengan Laona. Aku benar benar menyesal. Aku..”
“Wah.. Sedang ada tamu ya sayang?”
Lisa dan Rian menoleh ketika mendengar suara Devan. Lisa tersenyum. Devan pulang di waktu yang tepat. Namun tidak dengan Rian yang malah mengeraskan rahangnya menatap Devan yang melangkah mendekat ke arahnya dan Lisa.
“Kok tamunya nggak di suruh duduk sih sayang? Udah di buatin minuman belum hem?”
Devan meraih pinggang Lisa dan memeluknya dengan mesra. Pria itu bahkan mencium bibir Lisa di depan Rian membuat Rian mengepalkan kedua tangan-nya dengan erat.
Lisa menghela napas. Devan benar benar mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi Lisa tidak bisa marah sekarang karena ada Rian di depan-nya.
“Aku sudah meminta tolong sama bibi untuk membuatkan minuman. Mungkin sofanya kurang nyaman Devan jadi Rian merasa enggan untuk duduk.” Senyum Lisa berakting di depan Rian mengimbangi Devan.
Devan tertawa mendengarnya.
“Mungkin lain kali aku harus membeli sofa yang harganya lebih mahal sayang supaya para tamu kita bisa nyaman dan betah duduk.”
Devan menyeringai menatap Rian. Devan tau siapa Rian. Devan juga sudah lama mengenalnya. Tentu saja karena sejak dulu sebenarnya Devan sudah mencintai Lisa. Bahkan saat Lisa masih berpacaran dengan Rian dulu.
“Itu ide yang bagus Devan.” Saut Lisa.
Karena tidak tahan melihat kemesraan keduanya, Rian pun melengos membuang pandangan-nya ke arah lain. Rian tau Lisa hanya berakting untuk memanas manasinya. Karena Rian juga tau Lisa sebenarnya tidak mencintai Devan.
“Ah ya Devan, apa kamu sudah makan?” Tanya Lisa perhatian. Kali ini Lisa serius bertanya pada Devan, bukan karena ingin membuat Rian panas.
“Belum sayang.. Ah aku tau. Bagaimana kalau kita makan sama sama sekalian saja Rian?”
__ADS_1
Devan tersenyum meledek pada Rian yang terus saja membuang muka tidak mau menatapnya dan Lisa.
“Tidak perlu. Saya sudah makan. Lisa, aku pulang.” Saut Rian yang kemudian langsung berlalu dari hadapan keduanya.