
“Tadi Margareth kesini.”
“Hah?!” Devan yang baru saja mendudukan dirinya dikursi kebesaran-nya terkejut mendengar apa yang Kenny katakan.
“Margareth kesini? Ngapain?”
Kenny mengedikkan kedua bahunya tidak perduli. Margareth adalah teman dekat Devan dari mereka SMP dulu. Hubungan mereka memang hanya hubungan teman sepermainan saja. Namun sepertinya Margareth mengartikan lain hubungan tersebut.
“Apa dia mengatakan sesuatu?”
“Tidak. Dia hanya menanyakan kamu dimana kemudian menunggu sebentar dan pergi tanpa mengatakan apapun.” Jawab Kenny sambil membaca berkas yang sedang dipegangnya.
Devan mengangguk pelan. Margareth adalah teman sepermainan-nya. Margareth juga adalah anak teman dari mommy nya, Reyna.
Enggan memikirkan akan maksud kedatangan Margareth, Devan pun mulai fokus dengan laptopnya. Devan ingin cepat menyelesaikan pekerjaan-nya kemudian pulang menemui Lisa, istrinya. Apa lagi Devan sudah mengatakan akan menjemput Lisa sore ini.
------------
Dirumah sakit Lisa kembali disibukkan dengan para pasien-nya. Lisa adalah dokter yang terkenal ramah dan baik hati. Semua keluarga pasien yang Lisa tangani mengenal dengan baik siapa Lisa.
“Bagaimana keadaan papah saya dokter?” Tanya gadis cantik yang berdiri disamping brankar tempat sang papah berbaring.
“Papah kamu sudah baik baik saja. Kalau perubahan-nya semakin baik papah kamu bisa pulang.”
Gadis cantik itu tersenyum haru mendengarnya. Air mata menetes membasahi kedua pipi chuby nya merasa sangat bahagia karna akhirnya sang papah mengalami perkembangan yang baik setelah dioperasi.
“Terimakasih dokter. Saya tidak tau apa jadinya papah saya kalau nggak ada dokter..” Tangis gadis itu terisak.
Lisa tersenyum.
Gadis itu memang serba berkekurangan. Bahkan untuk biaya rumah sakit papahnya saja dia harus bekerja banting tulang sendiri diusianya yang masih sangat muda.
19 Tahun. Diusia itu Lisa masih bermain main tanpa harus memikirkan biaya kuliahnya. Tapi gadis didepan-nya diusia itu sudah melakukan segala hal demi bisa membeli obat untuk papahnya yang terkena penyumbatan di jantungnya.
__ADS_1
“Berterimakasihlah pada Tuhan dan pada dirimu sendiri Putri. Karena semua ini tentu saja atas kehendak Tuhan juga usahamu sendiri.” Ujar Lisa pelan.
“Tapi kalau bukan karna kebaikan anda juga papah saya tidak mungkin bisa dioperasi segera dokter.”
Lisa tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Baiklah.. Kamu harus ingat Putri, segala sesuatu itu tidak ada yang tidak mungkin. Asal kita mau berusaha semuanya pasti bisa kita lakukan.”
Putri mengangguk dengan senyuman yang mulai menghiasi bibirnya.
“Sekali lagi saya benar benar mengucapkan banyak banyak terimakasih pada dokter..”
“Jangan terlalu berlebihan Putri. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Saya keruangan saya dulu.”
“Eemm.. Ya dokter.” Angguk Putri.
Lisa mengusap pelan bahu putri sebelum berlalu melangkah menjauh dari putri untuk menuju ruangan-nya.
Saat baru beberapa langkah menjauh dari ruang rawat pasien-nya, ponsel dalam saku jas khas dokter Lisa berdering. Lisa memelankan langkahnya sambil meraih ponsel miliknya.
“Mamah...” Gumamnya bertanya tanya. Tidak biasanya sang mamah menelepon-nya saat Lisa sedang bekerja.
Sesaat Lisa terdiam tampak memikirkan sesuatu. Mamahnya tidak mungkin menghubunginya tanpa alasan.
Menghela napas, Lisa pun kemudian mengangkat telepon tersebut.
“Halo mah...”
“Ya halo sayang.. Lisa, kamu sedang apa sayang? Apa kamu sibuk hari ini?”
Lisa mulai merasakan sesuatu yang aneh. Jelas jelas mamahnya selalu tau jam jam saat Lisa sedang sibuk dengan pekerjaan-nya.
“Ada apa mah?” Tanya balik Lisa tidak ingin banyak berbasa basi.
__ADS_1
“Kakak kamu Lisa.. Laona..”
Lisa mengeryit. Sudah bisa Lisa tebak jika tentang Laona mamahnya pasti akan sangat khawatir. Seperti sekarang ini misalnya.
“Kenapa dengan Laona?” Tanya Lisa lagi.
Selisih umur keduanya memang tidak jauh. Hanya 2 tahun saja. Itu yang membuat Laona menolak dipanggil kakak oleh Lisa.
“Dia terkena flu dan demam katanya. Tadi Laona telepon mamah. Bisa tidak kamu luangkan waktu untuk memeriksa keadaan-nya sekarang? Mamah akan jemput kamu sekarang juga.”
Lisa menelan ludah. Mamahnya selalu saja begitu. Padahal jelas jelas jarak dari rumah kedua orang tuanya kerumah sakit tempat Lisa lumayan jauh. Apa lagi jika harus kerumah Laona juga. Pasti akan memakan waktu yang sangat lama. Apa lagi sekarang Lisa juga sedang sibuk dengan beberapa pasien yang harus dia tangani.
“Mamah mohon Lisa. Mamah nggak mau kalau sampai kakak kamu kenapa napa.. Apa lagi kakak kamu kan tinggal sendiri..”
Lisa berdecak pelan.
“Mah.. Laona itu tidak sendiri. Dia punya asisten. Dia juga punya pekerja dirumahnya. Mamah nggak perlu terlalu khawatir. Cuma demam dan Flu dibawa istirahat juga bakal sembuh.”
Jika boleh jujur, Lisa sebenarnya sangat malas jika harus bertemu dengan Laona. Selain karna Laona yang tidak bisa menjaga ucapan saat berbicara, Laona juga selalu saja melimpahkan kesalahan padanya. Ditambah lagi dengan sikap mamahnya yang terlalu menyanjung Laona yang tentu saja membuat Lisa merasa tidak diadili. Lisa selalu merasa mamahnya memberikan kasih sayang yang berbeda padanya dan sang kakak.
“Lisa kamu ini adiknya Laona. Kamu juga dokter. Kamu bisa bermanfaat bagi orang lain. Tapi kenapa tidak untuk kakak kamu sendiri? Laona sedang sakit dan butuh penanganan dari dokter.”
Lisa menahan napas sejenak. Selalu saja begitu. Rosa selalu berlebihan saat mengkhawatirkan Laona.
“Pake hati kamu Lisa. Laona itu kakak kamu.”
Lisa memejamkan kedua matanya. Setiap membicarakan tentang Laona dirinya selalu disalahkan.
“Oke.. Aku kesana sekarang mah.”
Jika sudah seperti itu mengalah adalah pilihan yang tepat menurut Lisa. Bukan tidak berani membantah. Tapi karna Lisa tau mamahnya sangat menyayangi kakaknya. Mamahnya sangat membanggakan dan meng elu elu kan profesi kakaknya sebagai model. Padahal jika dipikir lagi karir Lisa sebagai dokter juga patut diacungi jempol. Lisa bisa memanfaatkan ilmunya untuk membantu sesama. Sedangkan Laona, dia hanya fokus dengan dirinya sendiri dan sibuk menghias dirinya demi mendapatkan banyak dukungan dari fansnya.
Lisa menutup sambungan telepon-nya kemudian mempercepat langkahnya menuju ruangan-nya. Lisa tidak ingin membuat Rosa salah paham dan semakin memandang dirinya tidak baik.
__ADS_1
Sebelum pergi dari rumah sakit, Lisa lebih dulu memberitahu asisten-nya bahwa dirinya mempunyai urusan yang tidak bisa ditunda dan menyerahkan seluruh penanganan pada para pasien-nya.
Dengan perasaan kesal bercampur sakit Lisa mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata. Jika pada umumnya anak bungsu adalah yang paling penuh mendapatkan kasih sayang tapi tidak dengan kisah Lisa. Meskipun bungsu Lisa selalu saja disalahkan oleh Rosa jika sudah menyangkut tentang Laona. Lisa selalu salah dan tidak berharga dimata Rosa meskipun Lisa sudah banyak hal untuk menyenangkan mamahnya itu.