Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 27


__ADS_3

“Apa? cerai?!”


Lisa memejamkan kedua matanya ketika mendengar pekikan penuh keterkejutan mamahnya. Tekad Lisa memang sudah benar benar bulat. Lisa ingin mengakhiri hubungan pernikahan-nya dengan Devan. Dan sore ini sepulang dari rumah sakit, Lisa langsung datang kerumah kedua orang tuanya dan mengatakan keniatan-nya untuk bercerai dengan Devan.


“Kamu jangan main main Lisa. Pernikahan itu bukan suatu hal yang bisa seenaknya kamu permainkan.” Ujar Rosa menatap Lisa marah.


“Mamah nggak setuju. Dan mamah pastikan papah juga nggak akan setuju.” Tegasnya.


Lisa berdecak pelan. Wanita itu sendiri tidak ingin sedikitpun mempermainkan hubungan-nya dengan Devan. Maka dari itu Lisa ingin mengakhiri hubungan-nya dengan Devan karena tidak ingin terus terusan tertekan dengan status pernikahan-nya sedang Lisa sendiri tidak pernah mencintai Devan sedikitpun.


“Tapi mah.. Dari awal kami menikah bahkan saat Devan datang untuk melamar, Sedikitpun aku tidak pernah mencintainya. Bahkan sampai sekarang aku masih belum bisa mencintai Devan. Tolong mamah mengerti.” Lisa berusaha menjelaskan pada Rosa mengapa dirinya ingin bercerai dengan Devan.


“Belum bisa bukan berarti nggak bisa kan?” Tanya Rosa tidak mau menerima alasan apapun dari Lisa.


“Mah tapi..”


“Kamu sadar tidak Lisa, pernikahan kalian dulu itu dirayakan sangat besar besaran. Dan semua orang tau itu. Kamu juga pasti tau siapa Devan. Kalau kalian sampai berpisah hal buruk pasti akan terjadi.”


Lisa melengos. Lisa tau apa yang Rosa maksud. Apa lagi jika bukan karena tidak ingin kehilangan menantu kaya raya seperti Devan.


“Kenapa dulu mamah paksa aku untuk menerima Devan? kenapa tidak mamah suruh saja Laona yang menikah dengan Devan mah? Bukankah itu akan bagus untuk karir Laona?” Tanya Lisa menghindari bertatap muka secara langsung dengan mamahnya.


Rosa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Kalau saja Devan mau memilih antara kalian berdua, tentu mamah akan mengajukan Laona sebagai calon istri untuk Devan Lisa. Tapi dia datang dan langsung mengutarakan niat untuk melamar kamu. Mamah tentu tidak bisa menolak.”


Lisa menelan ludah. Secara terang terangan sang mamah mengatakan bahwa Laona jauh lebih berarti dari pada Lisa. Dan itu sukses membuat hati Laona terasa teriris iris. Begitu sakit juga perih.


“Memangnya apa bedanya aku sama Laona mah? Bukankah kami sama sama anak mamah?”


Rosa diam sesaat. Wanita itu sendiri tidak tau kenapa setiap menatap Laona dan Lisa rasanya sangat berbeda. Pada Laona Rosa merasa segala sesuatu ingin bisa dia berikan. Kasih sayang serta perhatian melimpah juga selalu Rosa berikan. Tapi pada Lisa, sejak dulu rasanya biasa saja bahkan Rosa bisa langsung marah jika Lisa sedikit saja melakukan kesalahan. Padahal jika di pikir kembali keduanya sama sama anaknya dan sama sama terlahir dari rahimnya. Bahkan dulu saat tau dirinya sedang mengandung Lisa, Rosa merasa sangat bahagia. Begitu juga dengan Laona yang tidak sabar ingin cepat cepat Lisa lahir.


“Kamu tidak perlu memperpanjang masalah sampai merepet ke situ Lisa. Memangnya kamu merasa mamah ini pilih kasih? Iya?” Nada bicara Rosa kembali meninggi karena pertanyaan yang Lisa layangkan padanya. Wanita itu juga tidak ingin sampai di kira membeda bedakan kasih sayang pada kedua putrinya.


“Sudah, kamu tidak usah banyak tingkah. Yang jelas baik mamah ataupun papah tidak akan setuju dengan rencana kamu untuk bercerai. Ingat ya Lisa, mamah sama papah akan sangat marah kalau kamu sampai bercerai dengan Devan. Apapun alasan-nya.”


“Bahkan meski Devan menyakiti aku mah?” Lirih Lisa kembali bertanya tidak menyangka dengan ketegasan mamahnya.


Lisa menggelengkan kepalanya tidak menyangka. Mamahnya semakin hari semakin memperlihatkan sikap beda kasihnya. Bahkan saat Lisa ingin bebas memilih jalan hidupnya sendiri saja Rosa menentang dengan keras.


“Ada apa ini? Kenapa mamah marah marah? Suara mamah sampai kedengeran dari luar loh.”


Lisa hanya diam saja. Bahkan dia sama sekali tidak menoleh meski mendengar suara papahnya yang sudah berdiri di ambang pintu utama kediaman orang tuanya.


“Bagaimana mamah nggak marah pah.. Lisa tiba tiba mengatakan ingin bercerai dengan Devan. Padahal selama ini mereka terlihat mesra dan kompak kan?”


Kedua mata tuan Aditya melebar mendengarnya. Pria itu langsung memusatkan perhatian-nya pada Lisa yang hanya diam duduk di tempatnya. Dengan rasa penasaran yang begitu tinggi tuan Aditya menghampiri Lisa kemudian duduk tepat disamping putri bungsunya. Putri yang selalu membuatnya merasa bangga dengan segala pencapaian-nya.

__ADS_1


“Lisa.. Ada apa sebenarnya? Apa kamu dan Devan sedang ada masalah?” Tanya nya dengan nada selembut mungkin. Tuan Aditya tau bagaimana putri bungsunya yang tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa di sertai alasan.


“Aku hanya tidak ingin terus terusan terikat dengan Devan pah. Aku tidak mencintainya. Bukankah dari awal juga papah sudah tau itu?”


Tuan Aditya menghela napas pelan. Pria itu melirik sekilas pada istrinya yang merasa jengah dengan jawaban Lisa atas pertanyaan yang tuan Aditya ajukan.


“Papah tau kan kenapa aku mau menikah dengan Devan?”


Tuan Aditya memejamkan sesaat kedua matanya. Bukan tanpa alasan dulu dirinya memaksa Lisa agar menerima pinangan Devan. Tentu saja karena tuan Aditya tau Devan adalah pria yang baik.


“Aku hanya berpikir hubungan kami tidak sehat pah.. Aku nggak ingin terkekang dengan hubungan yang sedikitpun aku tidak bisa merasakan cinta.” Sambung Lisa lagi.


“Kamu benar benar sangat berlebihan Lisa.” Ujar Rosa yang kemudian memilih bangkit dari duduknya menyerahkan sepenuhnya Lisa pada suaminya untuk diberi nasehat. Rosa yakin Lisa pasti akan mendengarkan setiap apa yang di katakan papahnya.


Tuan Aditya memandang punggung istrinya yang menjauh. Selama ini pria itu menganggap tidak menyatukan Lisa dan Rosa dalam satu atap rumah adalah pilihan yang tepat. Tentu karena tuan Aditya sendiri tau bagaimana istrinya yang selalu membedakan kasih pada kedua putrinya. Tuan Aditya sudah beberapa kali menegur istrinya namun yang dia dapat adalah amukan disertai tangisan pilu. Hal itu membuat tuan Aditya merasa bahwa jalan satu satunya adalah dengan menikahkan Lisa dengan Devan. Tuan Aditya percaya Devan bisa melindungi Lisa dengan baik.


“Lisa, tidak ada satupun orang tua yang tidak menginginkan anaknya hidup dengan bahagia. Tapi kamu juga harus tau satu hal bahwa perceraian adalah suatu hal yang sangat di benci oleh Tuhan.”


Lisa menoleh menatap wajah sang papah yang sudah mulai muncul kerutan di beberapa bagian.


“Jadi papah juga tidak setuju dengan perceraian yang akan aku ajukan begitu?” Tanya Lisa tidak habis pikir.


Tuan Aditya tersenyum kemudian membelai penuh kasih sayang puncak kepala putri bungsu kebanggaan-nya itu.

__ADS_1


“Kamu adalah putri kebanggaan papah. Papah selalu berharap segala yang terbaik menyertai kamu nak. Devan, dia adalah laki laki yang baik. Percayalah bahwa suatu hari nanti kamu akan sangat mencintainya.”


__ADS_2