Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 23


__ADS_3

Sejak berita tentang perselingkuhan Laona dan Rian surut, Rosa kembali bersikap lembut pada Lisa. Rosa bahkan sudah tiga kali dalam seminggu ini mengunjungi Lisa dan Devan saat malam hari. Bahkan Rosa juga membawakan makanan Favorit Lisa.


Devan yang merasa aneh dengan sikap mamah mertuanya hanya diam saja. Sebenarnya Devan ingin membicarakan-nya dengan Lisa. Namun Devan khawatir Lisa akan merasa sedih seperti saat itu. Karena Devan sendiri juga tau bagaimana mamah mertuanya itu membedakan kasih sayangnya pada Lisa dan Laona, kakaknya.


Devan menatap Lisa yang baru saja selesai dari kamar mandi. Pria itu menatap dengan seksama pergerakan istrinya yang kini sedang membuka sebuah botol kecil berisi pil pencegah kehamilan yang memang hampir setiap malam di konsumsi oleh istrinya. Pil yang memang bermanfaat sesuai namanya, yaitu untuk mencegah kehamilan.


“Bisa tidak kamu berhenti meminum pil sialan itu Lisa?”


Lisa hanya memutar kedua bola matanya merasa tidak perlu menanggapi pertanyaan Devan. Lisa sendiri juga sebenarnya bosan mengkonsumsi pil tersebut. Namun Lisa yang tidak ingin mengandung benih dari pria yang sama sekali tidak di cintainya itu terpaksa harus rutin meminumnya.


Tidak kunjung mendapat jawaban dari Lisa, Devan pun beranjak dari duduknya diatas tempat tidur. Devan melangkah menghampiri Lisa kemudian mengambil botol berisi pil yang berada diatas meja kecil didepan Lisa. Setelah mengambil botol berisi pil tersebut, Devan pun membuka tutupnya dan menumpahkan segala isinya ke tong sampah yang berada tepat disamping kakinya.


Lisa yang melihat aksi suaminya hanya diam saja. Wanita itu merasa suaminya sangat aneh malam ini.


“Mulai sekarang berhenti membeli pil sialan ini Lisa.” Tegas Devan menatap Lisa tajam.


Lisa menggelengkan kepalanya. Ini pertama kalinya Devan protes karena Lisa meminum pil pencegah kehamilan tersebut.


“Kamu aneh Devan.” Katanya pelan.


“Bukan aku yang aneh Lisa, tapi kamu. Kamu tidak keberatan aku menyentuh kamu. Kamu juga terlihat menikmati dan pasrah dengan apa yang aku lakukan ke kamu. Tapi kamu juga mengkonsumsi pil sialan itu.” Nada bicara Devan sedikit meninggi sembari membanting botol kosong bekas tempat pil pencegah kehamilan milik Lisa ke lantai.


“Aku tau kamu belum mencintaiku Lisa. Tapi bisa tidak kamu berusaha sedikit saja membuka hati kamu buat aku? Aku mencintai kamu. Apa lagi yang kurang Lisa?”

__ADS_1


Lisa menghela napas kemudian memutar tubuhnya merasa tidak perlu meladeni suaminya yang memang terkadang sangat ke kanak kanakkan. Seperti saat ini misalnya. Devan tiba tiba marah dan mengamuk hanya karena Lisa mengkonsumsi pil pencegah kehamilan. Padahal biasanya Devan juga tidak pernah mempermasalahkan-nya.


Lisa melangkah menuju ranjang mengabaikan Devan yang tiba tiba marah tidak jelas menurutnya.


“Lisa aku sedang bicara sama kamu...”


“Apa pantas kamu bertingkah seperti ini Devan? Sementara sebagai istri aku sudah berusaha memberikan apa yang seharusnya untuk kamu. Aku tidak pernah protes kamu menyentuhku karena aku tau kamu punya hak atas tubuhku. Seharusnya kamu menghargai keputusanku.” Ujar Lisa begitu sampai di depan ranjang.


Tangan Devan mengepal mendengarnya. Lisa bersikap seolah dirinya tidak sudi mengandung benih Devan. Dan itu membuat emosi Devan memuncak sampai pria itu merasa ubun ubun-nya mendidih.


“Aku hanya ingin kamu mengandung anakku.” Tekan Devan berusaha menahan emosinya. Tatapan-nya begitu tajam menyorot pada Lisa yang memunggunginya.


“Aku tidak ingin mempunyai anak dengan kamu Devan.” Balas Lisa tenang.


Karena tidak bisa lagi menahan emosinya, Devan pun melangkah menghampiri Lisa. Dengan kasar Devan memutar tubuh Lisa kemudian menghempaskan-nya keatas ranjang. Lisa yang terkejut tidak sempat melawan saat tiba tiba Devan melingkupi tubuhnya, menguncinya, dan mencumbunya dengan sangat kasar.


Paginya Devan membuka kedua matanya dengan Lisa yang sudah tidak ada disampingnya. Pria itu mengerang merasa sangat frustasi mengingat apa yang dilakukan-nya semalam pada Lisa.


Devan sadar, dirinya sudah sangat bersalah karena memaksa Lisa. Padahal Devan sendiri tau bahwa Lisa memang belum mencintainya. Namun Devan benar benar kalap semalam karena Lisa yang begitu tenang mengatakan tidak ingin mempunyai anak dengan-nya.


“Sial !! Apa yang ku lakukan?” Gumam Devan marah pada dirinya sendiri.


Devan bergegas turun dari ranjang kemudian melangkah menuju kamar mandi. Pria itu membersihkan dirinya dengan sangat cepat lalu turun ke lantai satu untuk menemui Lisa yang Devan pikir sedang sarapan di meja makan dengan hanya mengenakan kaos putih polos dan celana piyama panjang berwarna gelap.

__ADS_1


Devan mengeryit, Lisa tidak ada di meja makan. Bahkan hidangan yang tersaji disana sepertinya sama sekali belum tersentuh.


“Bi.. Bibi !!” Seru Devan memanggil asisten rumah tangga yang saat itu sedang sibuk didapur.


Mendengar suara Devan, bibi pun bergegas menghampiri Devan dan mengesampingkan pekerjaan-nya.


“Saya tuan..” Hadap bibi pada Devan.


“Lisa mana?” Tanya Devan langsung. Devan sebenarnya sudah bisa menebak mungkin Lisa sudah berangkat lebih awal ke rumah sakit untuk menghindarinya. Ya, Devan tau Lisa pasti sangat marah padanya.


“Nyonya sudah berangkat dari satu jam yang lalu tuan. Nyonya bahkan menolak untuk sarapan.” Jawab bibi dengan kepala terus tertunduk.


“Ya sudah kalau begitu.” Kata Devan.


Devan kembali melangkah menuju tangga dan menaikinya satu persatu dengan cepat. Pria itu hendak bersiap untuk menyusul Lisa kerumah sakit.


Devan benar benar sangat menyesal karena tidak bisa menahan emosinya hingga akhirnya secara tidak sadar menyakiti Lisa.


-----------


Sementara itu di ruangan-nya Lisa terus saja diam dengan pandangan lurus kedepan. Kilasan kejadian semalam dimana Devan begitu brutal menjamahnya terus saja berputar di kepalanya. Lisa tidak menyangka Devan yang biasanya begitu penuh kelembutan bisa bertindak begitu kasar padanya hanya karena perkara sepele. Devan bahkan sampai menyakitinya dengan meninggalkan lebam di pergelangan tangan Lisa. Selain itu Devan juga meninggalkan begitu banyak tanda kepemilikan-nya di tubuh Lisa.


Lisa memejamkan kedua matanya. Kehidupan pernikahan yang dia jalani dengan Devan memang sudah salah sejak awal. Lisa berpikir tidak seharusnya Lisa menerima pinangan Devan sementara dirinya saja sama sekali tidak mencintai Devan. Kini Lisa sadar, hubungan-nya dengan Devan hanya membuatnya dan Devan merasa tersiksa. Hubungan itu juga akan terus membuat Devan berharap pada apa yang belum tentu bisa Devan dapatkan darinya.

__ADS_1


“Lisa..”


Lisa tersadar dari lamunan-nya ketika mendengar suara berat Devan. Lisa terpaku ditempatnya duduk begitu mendapati sosok tampan Devan yang sudah berdiri di ambang pintu ruangan-nya yang terbuka lebar.


__ADS_2