Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 28


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang air mata Lisa terus menetes deras membasahi kedua pipi tirusnya. Lisa sangat tidak menyangka jika sang mamah begitu tegas menolak ke inginan-nya untuk bercerai dengan Devan. Di tambah dengan sikap sang papah yang terus berusaha meyakinkan Lisa bahwa Devan adalah pria yang baik untuknya.


Tidak kuasa menahan rasa sesak dan sakit di dadanya, Lisa pun memutuskan untuk menghentikan mobilnya. Lisa menepikan mobilnya di jalanan yang cukup ramai malam itu. Beberapa kali ponselnya berdering namun Lisa sama sekali tidak memperdulikan-nya. Lisa tau siapa yang terus menghubunginya. Siapa lagi kalau bukan Devan.


“Kenapa? Kenapa hidup ini begitu tidak adil. Mamah selalu saja mengutamakan Laona tapi melupakan kehadiranku Tuhan? Untuk apa aku ada di dunia ini kalau perempuan yang melahirkan aku saja tidak pernah mau menyayangiku?”


Lisa benar benar kalap oleh tangisnya kali ini. Dalam kesendian-nya di dalam mobil Lisa menangis sejadi jadinya. Lisa juga berteriak menumpahkan rasa kecewa juga sakit hatinya karena sikap dan perlakuan berbeda yang di terimanya dari sang mamah, Rosa.


“Mamah.. Lisa juga pengin di sayang sama mamah. Lisa juga pengin di sikapi dengan lembut seperti mamah menyikapi Laona. Lisa juga anak mamah.. Lisa butuh kasih sayang dari mamah..” Isak Lisa. Wajah cantiknya memerah dan basah karena linangan air mata yang terus berlomba meluncur dengan bebas di kedua pipi Lisa.


Kali ini Lisa bena benar tidak bisa menahan semua rasanya. Luka hati akibat bedanya pengasuhan sang mamah sejak dulu mencuat begitu saja membuat rasa sakit dan perih itu semakin dalam. Tangisan pilu itu Lisa tumpahkan tanpa ada siapapun yang tau. Entah itu Devan suaminya ataupun Rosan dan tuan Aditya, kedua orang tuanya.


Puas melampiaskan amarah dan sakit hatinya dengan menangis sejadi jadinya, Lisa pun akhirnya kembali melanjutkan perjalanan pulang. Lisa tau Devan pasti akan bertanya tanya padanya dari mana dirinya sehingga pukul dinihari baru pulang kerumah.


“Aku kerumah sakit dan orang orang disana bilang kamu pulang sejak sore Lisa. Kemana kamu sebenarnya? dan kenapa teleponku tidak kamu angkat?”


Benar saja, belum juga masuk kerumah Lisa sudah di todong pertanyaan oleh Devan. Pertanyaan yang membuat Lisa merasa semakin malas pada Devan.

__ADS_1


“Kamu enggak perlu tau aku kemana Devan. Karena itu bukan urusan kamu. Kemanapun aku pergi, itu urusan aku.” Jawab Lisa dengan tatapan lurus kedepan menatap Devan dengan tatapan datarnya.


Devan mengeryit ketika menyadari kedua mata istrinya yang sembab bahkan terlihat membengkak dan merah di sekitarnya. Tidak hanya mata saja, namun juga hidung mancung dan bibirnya yang memang tidak di polesi lipstik oleh Lisa.


Devan mendekat pada Lisa dengan perasaan khawatir. Jika Lisa sampai seperti itu pastilah masalah yang di hadapinya begitu berat. Dan Devan merasa semua itu ada hubungan-nya dengan Laona, kakak Lisa.


Lisa melengos saat Devan mendekat dan berdiri tepat di depan-nya. Lisa tidak ingin Devan tau apa yang sedang di rasakan-nya sekarang.


“Maaf.. Seharusnya saat seperti ini aku selalu ada di samping kamu sayang..” Lirih Devan menatap Lisa penuh sesal. Bodoh sekali dirinya karena tidak menyadari dari awal mata sembab dan wajah memerah istrinya itu. Devan malah langsung menanyakan darimana Lisa.


Lisa tersenyum miring. Lisa merasa tidak ada satupun orang yang bisa mengerti dirinya. Tidak mau Devan semakin mengorek perasaan-nya sekarang, Lisa pun berlalu begitu saja dari hadapan Devan dan masuk kedalam rumah dalam diam. Perasaan-nya benar benar hancur sekarang.


Ketika hendak melangkah masuk kedalam rumah untuk menyusul Lisa, tiba tiba ponsel dalam saku celana pendek warna merahnya berdering. Devan berdecak pelan namun tetap merogoh saku celananya meraih benda pipih itu untuk melihat siapa yang menelepon-nya di malam yang bahkan sudah hampir menjelang pagi itu.


“Papah..” Devan mengeryit ketika mendapat nama kontak papah mertuanya yang ada dilayar ponselnya. Dan entah kenapa tiba tiba Devan merasa semua itu ada hubungan-nya dengan Lisa.


Karena penasaran, Devan pun segera mengangkat telepon dari papah mertuanya dan mengesampingkan niatnya untuk menyusul Lisa.

__ADS_1


“Halo pah...” Devan mengangkat telepon tersebut dengan berbagai pertanyaan yang bersarang di benaknya.


“Ya Devan.. Bisa kita bertemu sekarang Devan? Papah ada di taman dekat perumahan kalian.”


Devan semakin yakin semua itu ada hubungan-nya dengan Lisa. Tanpa pikir panjang, Devan pun menyanggupi untuk bertemu dengan papah mertuanya.


Devan buru buru masuk kedalam rumah untuk mengambil kunci mobil miliknya. Pria itu yakin papah mertuanya tidak meminta bertemu tanpa alasan. Dan alasan itu pasti masih ada kaitan-nya dengan Lisa yang pulang dalam keadaan kacau malam ini.


“Pak satpam, buka gerbangnya.” Perintah Devan sedikit berseru menyuruh pak satpam agar membukakan pintu gerbang untuknya.


“Baik tuan.” Angguk pak satpam yang kemudian dengan sigap segera membuka lebar pintu gerbang tinggi menjulang itu untuk Devan.


Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria itu keluar dari pekarangan luas rumahnya berniat menemui papah mertuanya yang sudah menunggu di taman yang tidak jauh dari area perumahan tempatnya dan Lisa tinggal.


Dari balkon kamar Lisa melihat Devan pergi. Wanita itu tertawa merasa sangat konyol karena sempat berpikir Devan mengkhawatirkan-nya. Lisa pikir Devan terus menghubunginya dan menodong pertanyaan begitu dirinya turun dari mobil karena mengkhawatirkan-nya. Apa lagi Devan juga menatapnya dengan tatapan khawatir yang tidak bisa sedikitpun disembunyikan oleh pria itu. Tapi nyatanya, sekarang Devan malah pergi dan tidak menyusulnya ke kamar. Devan sibuk dengan urusan-nya sendiri.


“Untuk apa aku mengharapkan sesuatu yang tidak penting. Harusnya aku senang kalau memang sedikitpun Devan sudah tidak lagi perduli padaku. Itu artinya keputusanku memang sudah benar benar tepat. Hubungan pernikahan ini tidak bisa lagi di lanjutkan. Tidak perduli dengan atau tidaknya persetujuan mamah sama papah.” Gumam Lisa dengan air mata yang kembali menetes membasahi pipinya.

__ADS_1


Lisa benar benar merasa hidup sendiri tanpa siapapun yang perduli. Kakaknya tega menusuknya dari belakang. Mamahnya membedakan kasih antara dirinya dan kakaknya. Dan papahnya, pria itu selalu menyuruh Lisa untuk sabar dan mengerti meski sudah tau sendiri bagaimana keadaan-nya. Lisa merasa semua orang yang ada di dekatnya sangat sangat tidak adil memperlakukan-nya.


__ADS_2