
Karena kondisi nyonya Rosa yang tidak juga membaik, Akhirnya Lisa pun memutuskan untuk menginap. Lisa bahkan hari ini sampai tidak bekerja di rumah sakit karena sibuk mengurusi nyonya Rosa yang sedang sakit.
“Kamu nggak ke kantor Devan?” Tanya Lisa yang baru bisa mendekat pada Devan karena sejak tadi sibuk mengurusi mamahnya yang sakit.
Devan tersenyum kemudian menepuk pelan tempat di sampingnya menyuruh agar Lisa duduk di sana.
Lisa yang mengerti dengan maksud suaminya menurut saja. Wanita itu mendudukkan dirinya di samping Devan.
“Aku tidak mungkin membiarkan kamu sendiri disini hanya dengan mamah sayang. Meski memang tidak ada Laona, tapi aku tidak akan bisa tenang membiarkan kamu hanya berdua dengan mamah.”
Lisa tertawa pelan mendengarnya. Ke khawatiran Devan terlalu berlebihan menurutnya. Apa lagi Lisa juga tidak hanya berdua dengan mamahnya mengingat ada bibi juga pak satpam dirumah itu.
“Kamu terlalu berlebihan Devan. Aku akan baik baik saja.”
Devan mengedikkan kedua bahunya.
“Aku tidak berani menjamin itu. Dan aku pikir akan lebih baik jika aku ikut dan melihat sendiri apa saja yang kamu lakukan disini.”
Lisa mengangguk anggukkan kepalanya. Devan memang sudah seperti anak kecil yang selalu mengekori ibunya kemanapun ibunya pergi.
“Aku akan menginap disini hari ini Devan.” Ujar Lisa.
“Aku tidak keberatan.” Balas Devan tenang.
Lisa mengeryit dan menyipitkan kedua matanya mendengar apa yang Devan katakan. Jika sampai Devan ikut menginap itu tentu akan merepotkannya sendiri mengingat jarak perusahaan Devan jika di tempuh dari kediaman kedua orang tua Lisa lumayan jauh.
“Apa kamu serius Devan?” Tanya Lisa sedikit meragu dengan keputusan Devan mengikutinya untuk menginap guna menemaninya nyonya Rosa yang sedang sakit.
“Aku memang suka bercanda sayang. Tapi jika untuk masalah serius seperti sekarang ini aku tidak akan bercanda. Aku tidak keberatan sedikitpun jika memang kita harus menginap disini menemani mamah. Aku punya Kenny yang selalu bisa di andalkan.”
__ADS_1
Lisa berdecak. Bukan rahasia lagi memang kalau Devan begitu sangat percaya pada Kenny, teman sekaligus orang kepercayaannya.
“Bagaimana dengan Rosali dan Margareth. Mereka pasti akan mencari kamu.”
Devan mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti kenapa Lisa menjadi senang mengungkit tentang Rosali dan Margareth.
Devan kemudian mendekatkan wajahnya pada Lisa yang refleks memundurkan kepalanya untuk menghindar dari Devan yang begitu sangat dekat menatapnya.
“Kenapa sekarang kamu menjadi sering sekali mengungkit tentang Rosali dan Margareth? Memangnya harus berapa kali aku jelaskan sama kamu kalau aku tidak ada hubungan apa apa dengan mereka berdua. Rosali memang dulu adalah kekasihku. Tapi itu dulu dan hubungan kami sudah selesai secara baik baik.”
Lisa hanya diam saja. Lisa sendiri tidak mengerti kenapa sekarang dirinya seperti ingin selalu tau segalanya tentang Devan. Bahkan Lisa sempat merasa kesal dan marah melihat Devan bersama dengan Rosali.
Devan meraih dagu Lisa dan mengusapnya penuh dengan kelembutan. Pria itu tersenyum penuh arti menatap Lisa yang hanya diam saja.
“Sepertinya kamu sudah mulai mencintaiku sayang. Kamu cemburu dengan Rosali dan Margareth. Aku benar benar sangat senang.”
“Jangan besar kepala Devan. Aku tidak akan mungkin bisa mencintai kamu.” Ujar Lisa melengos menghindari tatapan Devan.
Devan tertawa lagi. Pria itu yakin di dalam dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.
“Kalian !”
Suara Laona membuat Devan dan Lisa langsung menoleh kearah pintu. Mereka berdua langsung bangkit dari duduknya ketika mendapati Laona yang sudah berdiri di depan pintu kamar nyonya Rosa dengan pakaian sangat minim yang menurut Lisa sangat tidak pantas untuk di kenakan itu.
Lisa melirik mamahnya. Jika sampai tidur mamahnya terganggu itu tidak akan mempercepat proses penyembuhannya.
Karena tidak ingin membuat gaduh sehingga mamahnya terbangun, Lisa pun segera melangkah menghampiri Laona.
Devan yang melihat itu bergegas mengikuti Lisa. Devan tidak perduli jika sampai orang lain menganggapnya orang bodoh karena terus membuntuti kemanapun Lisa bergerak.
__ADS_1
Lisa meraih tangan Laona kemudian menarik tangan kakaknya itu untuk menjauh dari kamar mamahnya. Devan yang tau Lisa tidak ingin mengganggu istirahat nyonya Rosa pun berinisiatif menutup pintu kamar itu.
“Apa apaan sih? Lepas !!”
Laona menghempaskan tangannya membuat cekalan Lisa langsung terlepas.
“Berani sekali kamu menarik kasar tanganku Lisa?!” Marah Laona tidak terima dengan apa yang baru saja Lisa lakukan dengan menarik tangannya menjauh dari kamar mamah mereka.
“Demam mamah tinggi. Dan mamah baru bisa tertidur dengan lelap setelah minum obat. Tolong mengerti dan jangan ganggu mamah.”
Ucapan Lisa membuat Laona menyipitkan kedua matanya tidak terima dengan apa yang Lisa katakan. Laona merasa Lisa seperti sedang mencoba berkuasa disana.
“Kamu ngomong apa Lisa? Kamu pikir kamu siapa berani ngomong begitu sama aku? Mamah itu benci sama kamu karena kamu yang membuat papah meninggal Lisa. Jadi tidak seharusnya kamu disini sekarang. Mamah nggak butuh kamu. Yang mamah butuhin itu hanya aku. Aku yang mamah butuhin Lisa.”
Lisa menelan ludah mendengarnya. Kali ini Lisa tidak akan termakan oleh omongan kakaknya. Lisa yakin sebenarnya mamahnya tidak membencinya. Mamahnya hanya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa papahnya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Devan yang mendengar itu menggeleng tidak percaya. Devan tidak menyangka Laona bisa berkata begitu nyelekit pada adiknya sendiri. Padahal jika di pikir, Laona sendiri tidak bisa selalu ada untuk mamahnya karena Laona yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai publik figur.
“Laona, aku ini juga anak mamah. Aku juga lahir dari rahim mamah. Dan aku, aku perduli sama mamah makannya aku ada disini. Aku disini untuk mamah. Masalah untuk kamu nyaman atau enggak ada aku disini aku tidak perduli Laona.”
Rahang Laona mengeras mendengar apa yang Lisa katakan. Wanita itu kemudian mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan pada Lisa namun sebelum tangannya berhasil mendarat di pipi Lisa, Lisa dengan sigap menahan pergelangan Laona.
“Kamu..” Laona terkejut, Lisa berani melawannya sekarang.
Lisa menghempaskan tangan Laona dengan kasar membuat tubuh Laona hampir saja oleng ke samping.
“Aku diam bukan berarti aku nggak berani sama kamu Laona. Tapi karena aku menghargai kamu sebagai kakak aku. Tapi sekarang, aku pikir itu sudah tidak perlu lagi. Kamu sudah melewati batas dan aku tidak akan membiarkan kamu terus berbuat seenaknya sama aku.” Tegas Lisa menatap Laona datar.
Devan sangat terkejut sekaligus tidak menyangka dengan apa yang Lisa lakukan juga Lisa katakan pada Laona. Kali ini Lisa sepertinya memang tidak ingin lagi Laona terus semena mena padanya.
__ADS_1