Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 9


__ADS_3

Kesal karna Lisa tidak mengangkat telepon-nya, Devan pun memutuskan untuk mendatangi Lisa. Kebetulan hari ini Devan sedang tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan-nya.


Mobil Devan sampai tepat didepan gedung rumah sakit tempat Lisa bekerja. Devan benar benar harus bersikap sedikit tegas pada Lisa sepertinya. Begitu yang ada dipikiran Devan saat ini.


“Tolong bunda saya dok.. Saya mohon..”


Ketika baru turun dari mobilnya, Devan mengeryit saat mendengar suara yang tidak asing di indra pendengaran-nya.


Devan mengarahkan pandangan-nya ke sumber suara. Alangkah terkejutnya Devan ketika mendapati sosok yang tidak asing baginya. Sosok yang sudah lama tidak terlihat setelah mengakhiri hubungan-nya dengan cara sepihak dengan Lisa.


“Rian...” Gumam Devan pelan.


Yah, Rian adalah mantan kekasih Lisa. Rian juga yang membuat Lisa menjadi sosok yang begitu dingin dan enggan terbuka pada siapapun. Rian yang sudah mematahkan hati Lisa.


Devan terus berdiri ditempatnya menatap Rian yang sedang mendorong brankar dimana seorang wanita baya berbaju hitam sedang tidak berdaya diatasnya. Devan tidak tau siapa wanita itu. Tapi Devan menebak wanita tersebut adalah ibu dari Rian.


Devan menghela napas. Yang Devan tau Lisa masih memiliki rasa pada Rian. Entah kenapa Devan sendiri tidak tau. Padahal sudah jelas Rian pernah menyakiti Lisa. Rian bahkan pernah diam diam jalan bersama Laona dibelakang Lisa. Devan tau karna Devan pernah melihatnya. Apa lagi gosip dari beberapa media mengingat profesi Laona yang adalah seorang model.


Devan menatap sampai Rian dan beberapa perawat masuk kedalam rumah sakit membawa wanita baya itu. Sudah bisa dipastikan Rian pasti akan kembali bertemu dengan Lisa.


Pikiran pikiran buruk mulai menghampiri dan menghandle otak Devan. Devan mulai merasa ragu bahkan bimbang karna sampai sekarang Lisa bahkan masih belum bisa mencintainya. Dan semua itu karna Lisa yang masih memiliki perasaan pada Rian.


Sekali lagi Devan menghela napas. Devan kemudian memutar tubuhnya. Ketika hendak membuka pintu mobilnya Devan terdiam. Kedua tangan-nya mengepal erat. Devan tiba tiba berpikir dirinya tidak bisa membiarkan Lisa dan Rian kembali bersama. Apa lagi sekarang Lisa adalah miliknya. Lisa adalah istrinya.


“Aku harus mencegah mereka bertemu. Yah.. Lisa hanya milikku sekarang dan sampai kapanpun. Tidak ada yang boleh mengambilnya dariku.” Ujar Devan yakin.


Devan kembali memutar tubuhnya. Dengan langkah lebar dan mantap Devan masuk kedalam gedung rumah sakit tempat Lisa bekerja. Devan yakin statusnya sebagai suami Lisa lebih kuat dari pada Rian yang hanya masa lalu Lisa. Meskipun mungkin memang Lisa masih mencintai Rian tapi Devan tau istrinya adalah wanita baik baik yang tidak akan mengingkari statusnya sebagai istri sah Devan.


Begitu sampai didepan ruangan Lisa, Devan langsung membuka pintunya tanpa lebih dulu mengetuknya. Devan berdecak ketika tidak menemukan siapapun disana. Hanya ada sebuket bunga beserta kartu ucapan yang Devan kirim saat waktu makan siang tiba tadi.

__ADS_1


“Kemana dia?” Gumam Devan pelan.


“Apa mungkin Lisa sudah bertemu dengan Rian.. Lisa yang menangani orang tua Rian?”


Devan terus bertanya tanya hingga kedua matanya tidak sengaja mendapati ponsel milik Lisa yang terletak diatas meja didepan sofa diseberang meja kerja Lisa.


“Dasar ceroboh.” Gumam Devan kemudian melangkah menuju meja tersebut dan meraih ponsel milik Lisa.


Devan membuka ponsel Lisa yang memang tidak diberi pola ataupun pin sebagai penguncinya.


Devan membuka aplikasi chatting di ponsel Lisa seperti sedang memeriksa dengan siapa saja Lisa berkomunikasi.


Devan juga membuka buka galeri photo Lisa hingga tidak sengaja mendapati photo Lisa dan Rian dimasa lalu yang masih Lisa simpan. Rahang Devan mengeras. Lisa sepertinya masih sangat mencintai Rian.


Merasa kesal, Devan pun menghapus beberapa photo Lisa dengan Rian. Devan juga menghapus photo Rian yang sendirian di ponsel Lisa. Devan tidak mau jika Lisa masih mengingat ingat Rian yang jelas jelas sudah menorehkan Luka dihati Lisa.


“Devan..”


“Kamu ngapain diruangan Lisa? Dan itu kan handphone Lisa, kenapa ada sama kamu?” Tanya Laona menatap Devan penuh selidik.


Devan tersenyum miring. Entah kenapa Devan tidak pernah menyukai kakak iparnya itu.


“Memangnya kenapa kalau aku disini? Ini ruangan istriku. Dan ini.. Handphone istriku ada padaku dimana salahnya?”


Laona menyipitkan kedua matanya. Jawaban Devan sangat sinis.


“Harusnya aku yang nanya sama kamu Laona. Ngapain kamu disini? Kamu bahkan tidak mengetuk pintu lebih dulu. Bukankah itu sangat tidak sopan?”


“Lisa adikku.” Jawab Laona seperti sedang menegaskan bahwa dirinya bebas melakukan apa saja.

__ADS_1


“Tapi dia istriku.” Ujar Devan tegas.


“Aku lebih berhak atas Lisa.” Tambah Devan dengan penuh penekanan.


Laona mengepalkan kedua tangan-nya. Sejak pertama kali bertemu dengan Devan, Devan memang sudah menunjukkan sikap tidak suka padanya. Padahal jika dipikir Devan tidak terlalu mengenalnya. Laona yakin Lisa yang begitu tertutup dan dingin tidak mungkin menceritakan segala sesuatunya pada Devan. Termasuk kesalahan Laona yang pernah berkencan dengan Rian dulu.


Laona menghela napas kasar. Meladeni Devan hanya akan membuat tensi darahnya naik. Lagi pula Laona tidak ingin membuat kegaduhan yang pasti akan memancing perhatian orang orang disana.


“Aku kesini ingin bertemu dengan adikku. Apakah kamu keberatan dengan hal itu Devan?” Tanya Laona menatap Devan kesal.


“Bertemu dengan Lisa? Dalam rangka apa? Untuk meminta bantuan? Atau ingin memeriksakan diri?”


Laona menahan napasnya sejenak kemudian menghembuskan-nya kasar.


“Apa aku harus mengatakan-nya sama kamu?”


“Tentu saja. Aku hanya tidak mau kamu terlalu memanfaatkan kebaikan istriku.” Jawab Devan santai.


Lupa dengan kehadiran Rian dirumah sakit itu, Devan pun terus menanggap Laona membuat kakak dari istri tercintanya itu hampir saja berteriak emosi padanya.


“Ada apa ini? Laona? Devan?”


Lisa yang baru saja selesai memeriksa keadaan pasien-nya menatap bergantian pada Laona dan Devan hingga ponsel miliknya yang berada ditangan Devan berhasil menarik perhatian-nya.


Laona yang mengerti dengan tatapan Lisa pada ponsel yang berada ditangan Devan tersenyum miring.


“Aku baru beberapa menit datang dan mendapati suami kamu sedang asik memainkan handphone kamu Lisa.” Katanya mencoba mempengaruhi Lisa.


Lisa menoleh pada Laona yang berdiri disampingnya sebentar kemudian beralih menatap pada Devan yang masih memegang ponsel miliknya.

__ADS_1


“Sepertinya dia sedang mencari sesuatu di handphone kamu Lisa..” Ujar Laona mencoba mempengaruhi Lisa.


__ADS_2