
Sejak siang itu Lisa menjadi berpikir bahwa mungkin Devan adalah pria yang di kirim oleh Tuhan untuk membuka kembali hatinya yang sempat tertutup karena luka yang di torehkan oleh Rian dan Laona.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Lisa menoleh. Lisa mengeryit. Tidak mungkin jika itu adalah Devan.
“Masuk saja, pintunya tidak dikunci.” Seru Lisa.
Pelan pelan pintu kamarnya dibuka dari luar. Lisa menunggu siapa yang akan muncul disana hingga saat pintu tersebut benar benar terbuka, Lisa bisa melihat siapa yang berdiri disana.
“Bibi..” Gumam Lisa pelan melihat asisten rumah tangganya yang berdiri disana.
“Permisi nyonya, maaf saya mengganggu. Saya hanya ingin memberitahukan pada nyonya kalau dibawah ada nyonya Rosa.”
Lisa mengeryit. Mamahnya datang tanpa memberitahunya lebih dulu. Sesaat Lisa berpikir hingga akhirnya Lisa bisa menebak apa tujuan mamahnya datang malam ini.
“Ya sudah, tolong bikinin minum ya bi. Sebentar lagi saya turun.” Ujar Lisa pelan.
“Baik nyonya.” Angguk bibi yang kemudian berlalu dari depan pintu kamar Lisa dan Devan.
Lisa menghela napas. Kedatangan mamahnya malam ini pasti tidak jauh jauh dari permintaan tolongnya tempo hari padanya. Mamahnya pasti ingin kembali membujuk dirinya agar Lisa mau membantu Laona yang sedang terjerat masalah yang tentu terjadi karena kelakuan Laona sendiri. Sebenarnya Lisa bisa saja membantu jika itu tidak menyangkut tentang Rian, mantan kekasihnya. Tapi jika memang semua itu berkaitan dengan Rian seperti berita yang sedang beredar, Lisa merasa dirinya tidak bisa sedikitpun membantu. Bukan tidak bisa, lebih tepatnya tidak ingin membantu. Lisa benar benar tidak ingin lagi berhubungan dengan Rian.
Dengan langkah pelan Lisa keluar dari kamarnya dan Devan untuk menemui mamahnya. Lisa juga yakin mamahnya pasti tidak datang dengan papahnya. Mamahnya pasti datang sendiri.
“Hay sayang.. Mamah kira tadi kamu sudah tidur.”
__ADS_1
Senyuman manis Rosa membuat Lisa sesaat melupakan tebakan-nya tentang tujuan mamahnya datang. Karena jika mamahnya sedang bersikap manis, Lisa tidak bisa munafik dirinya mengharapkan kasih sayang itu bisa bertahan tanpa sedikitpun ada perbedaan.
“Belum kok mah.. Aku masih nunggu Devan. Soalnya Devan belum pulang.” Jawab Lisa sambil mendudukan dirinya di samping sang mamah.
Rosa menganggukkan kepalanya mengerti. Wanita itu menghela napas pelan dan terdiam sesaat sebelum akhirnya meraih tangan Lisa dengan kedua tangan-nya, menggenggamnya erat, lembut, seperti sedang menaruh harapan yang begitu besar pada Lisa.
“Lisa, kali ini mamah benar benar memohon sama kamu. Tolong kakak kamu. Tolong kasihani dia. Jangan biarkan dia hancur hanya karena berita yang sangat tidak benar itu.”
Lisa menelan ludah. Tebakan-nya benar benar tidak meleset secuilpun. Kedatangan mamahnya karena ingin Lisa membantu kakaknya, Laona.
“Apa perlu sekarang mamah bersujud di kaki kamu Lisa? Apa perlu mamah mencium kaki kamu sekarang? kamu tau sendirikan Lisa, menjadi model adalah impian kakak kamu sejak kecil. Dia bahkan begitu sangat berusaha tanpa kenal lelah demi bisa mencapai cita citanya itu. Mamah tidak ingin dia merasa hancur karena apa yang sangat dia banggakan musnah begitu saja hanya karena berita yang disebarkan luaskan oleh orang tidak bertanggung jawab. Hanya karena berita yang sama sekali tidak benar.”
Lisa menggelengkan kepalanya. Bahkan di depan korban dari kekejaman dan ke egoisan Laona mamahnya masih menutupi kenyataan yang memang benar adanya.
“Tapi mah, berita itu benar. Laona berselingkuh dengan Rian.” Lirih Lisa menatap mamahnya dengan kedua mata berkaca kaca.
Rosa menggeleng.
“Mamah yakin Laona punya alasan untuk itu Lisa. Pasti Rian yang bersalah. Rian yang merayunya. Dan mungkin ini juga adalah jebakan Rian. Dia sakit hati karena Laona tidak mau dengan-nya.”
Dada Lisa terasa semakin sesak. Bahkan Lisa merasa susah sekali bernapas sekarang. Secara tidak langsung mamahnya meremehkan-nya.
Lisa memejamkan kedua matanya. Saat itulah air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Mamahnya terus memihak pada Laona meski faktanya Laona memang bersalah. Tapi Lisa tau sebenar apapun dirinya mamahnya tetap tidak akan menatapnya jika masalah yang Lisa hadapi menyangkut Laona.
“Lisa mamah mohon...”
__ADS_1
Lisa melepaskan genggaman kedua tangan mamahnya. Dengan cepat Lisa menyeka air matanya. Karena Lisa sadar air mata kesedihan-nya hanya akan membuat mamahnya semakin tidak menyukainya. Terkadang Lisa bingung. Dirinya dan Laona adalah saudara kandung. Mereka sama sama dilahirkan dari rahim Rosa. Mereka juga punya keahlian masing masing di profesinya. Tapi anehnya Rosa hanya membanggakan Laona. Sejak dulu mereka masih sama sama duduk di sekolah dasar bahkan sampai sekarang keduanya tumbuh dewasa.
Lisa menghela napas kasar berusaha melegakan sendiri dadanya yang terasa sesak. Lisa tidak ingin terus di pandang sebelah mata oleh mamahnya sendiri. Lisa juga tidak ingin di anggap durhaka oleh mamahnya sendiri karena tidak mau membantu Laona, kakaknya.
“Baik, aku akan membantu. Aku akan berbicara pada publik besok tentang semua yang aku tau. Aku akan memberitahu semuanya.” Putus Lisa akhirnya.
Rosa tersenyum merasa sangat lega. Wanita itu kemudian memeluk Lisa dengan sangat erat.
“Terimakasih, terimakasih Lisa. Mamah tau kamu tidak akan tega membiarkan kakak kamu berada dalam masalah. Mamah tau kamu sangat menyayangi kakak kamu.”
Di balik punggung sang mamah Lisa kembali meneteskan air matanya. Lisa tidak tau akan sampai kapan mamahnya membedakan kasih sayang antara dirinya dan Laona, kakaknya.
Setelah mamahnya pulang, Lisa langsung menuliskan klarifikasinya lewat akun media sosial yang dia miliki. Lisa memberi tanggapan sekaligus keterangan tentang isu yang sedang beredar tentang perselingkuhan antara Rian dan Laona.
Dan setelah Lisa menuliskan tanggapan disertai klarifikasinya itu, semua awak media langsung berbondong bondong memburunya. Mereka bahkan sampai menunggu Lisa di depan rumah sakit tempat Lisa bekerja.
“Hubungan saya dan Rian sudah selesai saat itu. Dan sampai sekarang kami sudah baik baik saja. Jadi isu tentang perselingkuhan Laona, kakak saya dan Rian itu tidak bisa dikatakan benar.” Terang Laona saat para pemburu berita mengepungnya.
Sejak saat itu berita tentang perselingkuhan antara Rian dan Laona surut begitu saja. Tentu saja semua itu karena keterangan Lisa pada awak media. Keterangan yang sebenarnya juga tidak benar.
“Kenapa kamu berbohong pada publik Lisa?”
Lisa hanya diam saja dengan tatapan lurus kedepan saat Devan bertanya padanya. Saat ini keduanya sedang berada di balkon kamar sambil menikmati teh yang di buatkan oleh bibi. Lisa memejamkan sesaat kedua matanya. Lisa benar benar merasa sudah tidak punya pilihan lagi selain mengiyakan kemauan mamahnya.
“Kamu tau apa konsekuensinya jika sampai kebenaran itu muncul Lisa? Kamu akan disalahkan. Kamu akan..”
__ADS_1
“Devan tolong jangan bicara lagi. Aku tau apa yang akan terjadi. Tapi aku juga nggak punya pilihan. Aku lelah dengan semua ini Devan.. Tolong jangan bahas ini lagi..” Lirih Lisa dengan suara bergetar.
Devan menggeleng pelan. Lisa terlihat sangat menyedihkan saat ini. Tidak tega melihatnya, Devan pun meraih tubuh ramping Lisa memeluknya dengan erat dan penuh kasih sayang.