
Mobil Devan sampai di depan pemakaman umum tempat peristirahatan terakhir tuan Aditya berada. Pria itu turun dari mobil kemudian berjalan mengitari bagian depan mobilnya untuk membukakan pintu mobil untuk Lisa.
“Bisa jalan nggak? atau mau aku gendong?” Tawar Devan. Kali ini wajah tampan-nya begitu serius dan menatap lembut pada Lisa. Itu membuat Lisa tau Devan tidak sedang bercanda.
“Kalau kamu nggak keberatan.” Jawab Lisa pelan.
Devan tertawa mendengarnya.
“Bahkan kalau setiap hari kamu minta gendong sama aku, aku tidak akan pernah merasa keberatan Lisa. Kamu harus tau itu.” Balasnya dengan yakin.
Lisa hanya diam saja. Entah kenapa tiba tiba berpikir mungkin papahnya kecelakaan karena memikirkan perkataan-nya yang menginginkan perceraian dengan Devan. Apa lagi papahnya juga melarang dengan lembut keinginan Lisa untuk bercerai dengan Devan.
“Yee.. Dia malah ngelamun.” Sindir Devan karena Lisa yang malah diam.
Lisa tersenyum samar. Devan begitu setia mendampinginya bahkan saat Lisa hampir saja putus asa karena kehilangan papahnya.
“Ayo..”
Devan mendekat pada Lisa dan membopong tubuh Lisa dengan sangat lembut. Karena Lisa yang berada di gendongan-nya, Devan bahkan harus menggunakan kakinya untuk menutup pintu mobilnya.
“Maaf kalau aku selalu merepotkan kamu akhir akhir ini.” Ujar Lisa.
Devan tersenyum.
“Aku seneng kok di repotin sama kamu. Karena itu artinya kamu butuh aku.”
Lisa tertawa pelan. Devan benar benar sudah sedikit tidak waras pikirnya.
Devan mulai melangkahkan kakinya dengan Lisa yang berada di gendongan-nya memasuki area pemakaman. Banyak makam yang harus mereka lewati untuk sampai di makam tuan Aditya.
Dan selama Devan melangkah selama itu pula detak jantung Lisa semakin cepat berdetak. Rasa sesak juga mulai terasa di dadanya seolah ada dua batu besar yang saat ini sedang menghimpitnya sehingga Lisa kesulitan untuk bernapas.
Devan yang menyadari napas Lisa yang mulai tidak beraturan pun menghentikan langkahnya. Makam tuan Aditya sudah dekat. Tapi melihat Lisa yang seperti itu, Devan menjadi tidak tega. Devan juga takut Lisa kembali seperti kemarin.
__ADS_1
“Lisa, kamu baik baik saja?” Tanya Devan menatap Lisa yang sedang menahan air mata agar tidak jatuh membasahi kedua pipinya.
Lisa mendongak menatap Devan yang sedang menatapnya. Napasnya mulai memburu karena rasa sesak di dadanya. Pandangan Lisa bahkan sedikit mengabur karena air mata yang memenuhi kelopak matanya.
“Aku tidak apa apa..” Jawabnya lirih dengan suara serak karena sedang menahan tangis.
Devan menelan ludah. Siapapun tau Lisa sedang tidak baik baik saja sekarang.
“Jangan bohong Lisa. Kalau kamu tidak sanggup, kita pulang saja.”
“Enggak, enggak Devan. Aku mohon jangan. Aku ingin ke makam papah..” Geleng Lisa.
“Tapi Devan..”
“Aku baik baik saja Devan.” Sela Lisa yang tidak ingin Devan sampai mengurungkan niat membawanya ke makam sang papah.
Devan menghela napas. Pria itu kemudian menganggukkan kepalanya.
“Oke..” Katanya pelan.
“Ya, aku janji.” Lisa menyanggupi.
Devan tersenyum tipis kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju makam tuan Aditya. Begitu sampai disana, Devan menurunkan Lisa yang kemudian langsung duduk bersimpuh di samping kanan makam papahnya. Saat itu juga air mata Lisa jatuh menetes namun dengan cepat Lisa mengusapnya. Lisa tidak ingin terlihat lemah di depan papahnya. Karena Lisa tau papahnya tidak akan suka jika melihatnya lemah.
“Hay papah.. Lisa datang..” Senyum Lisa berusaha untuk tetap terlihat baik baik saja meski sekarang hatinya sedang sangat hancur melihat nisan bertuliskan nama sang papah.
Lisa tidak pernah membayangkan semuanya akan terjadi, papahnya pergi untuk selamanya tanpa berpamitan padanya.
“Papah tenang ya disana.. Papah nggak usah khawatirin Lisa, Lisa baik baik aja kok. Kan ada Devan yang akan selalu jagain Lisa seperti kata papah.”
Devan yang duduk disamping Lisa tersenyum mendengarnya. Senang rasanya karena Lisa mulai menganggapnya ada.
“Lisa minta maaf ya pah karena Lisa baru bisa datang kesini ngunjungin papah. Jujur pah, kehilangan papah itu rasanya sangat sakit. Rasanya Lisa ingin ikut sama papah. Tapi Lisa sadar semua yang terjadi sudah kehendak Tuhan. Tuhan lebih sayang sama papah makan-nya Tuhan pengin cepat cepat ketemu sama papah.”
__ADS_1
Lisa menahan napas sejenak kemudian menghela napasnya dengan kasar. Mengobrol bersama papahnya dengan keadaan sekarang rasanya sangat aneh. Dulu saat Lisa sedang menceritakan sesuatu papahnya selalu mendengarkan dan menatapnya dengan penuh perhatian. Tapi sekarang Lisa hanya bisa mengobrol dengan nisan bertuliskan nama papahnya. Itu sangat tidak mudah bagi Lisa. Tapi Lisa tau sesulit apapun dirinya tetap harus bisa menghadapinya.
“Pah walaupun kita tidak bisa bersama sama lagi tapi sampai kapanpun papah akan tetap ada di hati Lisa. Lisa akan selalu berdo'a untuk papah. Dan semoga saja suatu saat nanti jika waktunya tiba, Tuhan akan menyatukan kita lagi ya pah..”
Devan menyentuh lembut bahu Lisa dan mengusapnya dengan lembut. Devan tau Lisa sedang berusaha menahan kesedihan-nya.
“Papah.. Apapun yang terjadi, Devan janji akan tetap menjaga Lisa. Devan akan menjadi suami yang paling baik untuk putri kebanggaan papah ini.” Ujar Devan yang membuat air mata Lisa langsung menetes dan lagi lagi Lisa langsung mengusapnya.
“Jadi papah nggak perlu khawatir. Karena papah nggak salah percaya sama Devan.” Tambah Devan.
Lisa hanya bisa tersenyum dalam diam. Ucapan Devan sedikit menghiburnya.
Setelah puas mencurahkan segala isi hatinya di depan makam sang papah, Lisa pun mengajak Devan pulang. Dan Devan dengan sigap kembali menggendong Lisa membawanya melangkah menjauh dari makam tuan Aditya.
“Devan.” Panggil Lisa menatap Devan yang menatap lurus kedepan.
“Hem kenapa sayang?” Saut Devan menghentikan langkahnya kemudian membalas tatapan Lisa dengan penuh perhatian.
“Terimakasih.”
Devan mengeryit mendengar apa yang Lisa katakan.
“Kamu sudah mau mengajakku kesini bahkan sampai menggendongku.” Tambah Lisa.
“Aku bisa ngelunjak kalau mendengar kata terimakasih loh Lisa. Jadi mulai sekarang lebih baik kamu hati hati mengucapkan kata terimakasih ke aku.”
Lisa tertawa pelan mendengarnya.
“Ya sudah kalau begitu aku tarik kembali kata terimakasihnya.”
Devan ikut tertawa. Pria itu jujur mengatakan apa adanya. Devan memang tidak bisa mendengar ucapan terimakasih dari Lisa. Karena jika sampai Lisa mengatakan terimakasih, entah kenapa Devan selalu menginginkan balasan dari Lisa atas apa yang sudah dilakukan-nya.
“Begitu lebih baik sayangku.” Kata Devan kemudian kembali melanjutkan langkahnya membawa Lisa berlalu dari area pemakaman umum itu menuju mobilnya.
__ADS_1
Devan sangat berharap setelah ini Lisa tidak akan lagi menyinggung soal perceraian yang sebelumnya sangat di ingin kan-nya.