Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 43


__ADS_3

Setelah semua yang terjadi, Lisa akhirnya sadar bahwa memang hanya Devan orang yang perduli padanya selain mendiang papahnya, tuan Aditya. Devan selalu ada di sampingnya dalam keadaan apapun. Bahkan Devan juga tidak marah meski tau Lisa pernah membahas tentang perceraian bersama kedua orang tuanya.


“Sayang...”


Lisa tersentak saat tiba tiba Devan memeluknya dengan mesra dari belakang. Lamunan Lisa seketika buyar karena apa yang Devan lakukan padanya.


“Devan.. Kamu membuatku terkejut.” Ujar Lisa menghela napas.


Devan tersenyum geli mendengarnya.


“Maaf sayang. Tapi sejak tadi aku sudah memanggil kamu tapi kamu terus saja diam dan fokus dengan lamunan kamu sayang. Aku juga yakin kamu bahkan tidak mendengar suara klakson mobilku kan?”


Lisa hanya diam saja. Sejak tadi memang Lisa tidak mendengar apa apa. Semua itu karena Lisa terus melamun memikirkan segala apa yang telah terjadi.


“Sebaiknya kamu lepaskan aku Devan. Kamu cepatlah mandi. Bibi sudah membuatkan makan malam sejak tadi. Sayang kalau makanannya jadi dingin.” Ujar Lisa tenang.


Devan berdecak namun tetap melakukan apa yang Lisa katakan yaitu melepaskan pelukannya. Namun sedetik kemudian pria itu kembali meraih pinggang ramping Lisa dan memutarnya dengan lembut sehingga Lisa menghadap padanya.


“Seharian tidak bertemu denganku memangnya kamu tidak merasa rindu Lisa? Aku saja rasanya seperti mau mati karena bosan terus berkutat dengan pekerjaan terus.”


Lisa mendongak menatap tepat pada kedua mata Devan. Bayangan saat Devan sedang bersama dengan Rosali siang itu membuat Lisa kemudian melengos membuang muka enggan menatap Devan lagi.


“Aku tidak yakin kamu hanya fokus dengan pekerjaan kamu seharian ini Devan. Tapi kamu juga tidak perlu selalu terbuka dan mengatakan apa saja yang kamu lakukan diluar sana. Itu hak kamu dan aku mencoba untuk menghargai itu.”


Devan mengernyit mendengarnya. Devan merasa Lisa seperti sedang menuduhnya berbohong.

__ADS_1


“Aku benar benar fokus dengan pekerjaan hari ini Lisa. Aku tidak berbohong.” Devan mencoba meluruskan karena tidak ingin jika Lisa sampai salah paham.


Lisa tersenyum miris. Tidak seharusnya Lisa merasakan apa yang saat ini kembali dia rasakan. Yaitu rasa tidak suka melihat Devan bersama Rosali. Dan membayangkan Devan yang siang ini kembali menghabiskan waktu dengan Rosali membuat Lisa merasa sedikit malas pada Devan.


“Lisa aku..”


“Devan, aku tidak perlu penjelasan apapun dari kamu. Kamu berhak melakukan apapun entah itu dengan Rosali, Margareth atau perempuan lainnya. Tidak perlu bersikap berlebihan.” Sela Lisa.


Devan terdiam sesaat. Mulut Lisa mungkin bisa berbohong. Tapi kedua sorot mata istrinya itu tidak bisa menutupi bahwa Lisa sedang merasa marah dan tidak suka. Apa lagi nama Rosali dan Margareth sampai di cetuskan.


Detik berikutnya Devan tersenyum. Pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Lisa. Devan yakin Lisa sedang merasa cemburu namun belum menyadarinya.


“Rosali.. Kalau dia kemarin kemarin aku memang makan siang sama dia sayang. Tapi itu karena dia memaksa dan mengatakan ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Jangan cemburu sayang... Kami sudah tidak ada apa apa lagi. Hanya sebatas teman saja. Dan untuk Margareth, kami tidak bertemu beberapa hari ini karena dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dan sekali lagi tolong kamu jangan salah paham. Aku dan Margareth sejak dulu bahkan untuk selamanya akan tetap menjadi teman.” Devan berusaha menjelaskan agar Lisa tidak semakin salah paham pada hubungannya dan Rosali juga Margareth.


Devan tersenyum geli. Lisa masih tidak mau mengakui bahwa dirinya sedang cemburu.


“Baiklah.. Aku mengerti sayangku.” Angguk Devan yang tidak ingin membuat Lisa marah padanya.


Lisa melengos. Devan sedang meledeknya dan Lisa tidak suka dengan itu.


“Ya sudah kalau begitu, aku akan mandi.”


Devan melepaskan tangannya dari pinggang Lisa kemudian melangkah menjauh dan masuk ke dalam kamar mandi.


Lisa menghela napas setelah Devan menghilang di balik pintu kamar mandi. Mendadak Lisa merasa sangat bodoh karena mencetuskan nama Rosali dan Margareth di depan Devan. Hal itu membuat Devan meledeknya. Lisa menebak Devan pasti menganggapnya sedang cemburu padanya.

__ADS_1


Tidak sampai 20 menit Devan sudah selesai membersihkan dirinya. Pria itu keluar dari kamar mandi dengan kaos oblong putih yang di kenakan nya yang di padukan dengan celana pendek hitam yang membuat penampilan Devan terlihat fresh. Apa lagi di tambah rambutnya yang basah. Hal itu membuat Lisa tanpa sadar terpukau dengan ketampanan suaminya sehingga Lisa terdiam dengan mulut terbuka menatap Devan yang mendekat ke arahnya.


Devan yang melihat itu tersenyum kemudian langsung mengecup singkat bibir terbuka Lisa membuat si empunya tersentak kemudian langsung tersadar.


“Aku tau aku memang keren sayang. Tapi kamu tidak perlu begitu sangat terpesona sampai sampai kamu melongo begitu. Itu membuat aku tidak tahan.”


Lisa berdecak merasa kesal. Untuk kedua kalinya dia merasa dirinya sangat sangat bodoh. Tidak mau Devan meledeknya, Lisa pun berlalu menjauh dari Devan dan keluar dari kamar mereka untuk menghindar dari suaminya yang pasti akan kembali meledeknya.


---------------


Laona menatap jengah pada mamahnya yang terus saja diam dengan tatapan kosong dan lurus ke depan. Wanita yang berprofesi sebagai model itu sudah rapi dengan gaun berdada rendah warna hitam yang membuat penampilannya semakin terlihat memukau setiap harinya.


“Sampai kapan mamah akan terus seperti ini? Mamah tau tidak, diluar sana gosip tentang mamah gila itu bertebaran di berbagai artikel bahkan juga berita. Memangnya mamah mau nama aku jelek lagi gara gara mamah yang terus terusan seperti ini?”


Mendengar apa yang di lontarkan putri kesayangannya nyonya Rosa meneteskan air matanya. Dadanya terasa sangat sesak karena Laona sedikitpun tidak bisa mengerti dirinya yang sampai sekarang masih merasa sangat kehilangan suaminya.


“Mamah kangen papah nak..” Lirih nyonya Rosa terisak.


Laona berdecak. Wanita itu juga tidak pernah menginginkan hal itu terjadi. Tapi menurutnya bersedih berlarut larut juga tidak ada gunanya. Karena hal itu justru akan membuat suatu yang tidak baik terjadi. Lagi pun mau sesedih apapun mamahnya, Papahnya tidak akan mungkin bangkit dari kuburannya.


“Laona tau mah.. Laona tau mamah sangat kehilangan papah. Tapi please dong jangan begini. Laona itu harus kerja.. Laona butuh uang buat menuhin kebutuhan Laona sendiri. Kalau mamah terus terusan seperti ini dan Laona tetap bekerja, nama Laona akan jelek dimata publik mah. Karir Laona akan hancur. Mamah tolong mengerti dong.” Ujar Laona dengan nada kesalnya.


Nyonya Rosa menggelengkan kepalanya tidak menyangka Laona akan berkata seperti itu. Laona bahkan setiap hari selalu menegurnya dan menyuruh agar dirinya tidak selalu larut meratapi kepergian suami tercintanya.


“Kamu nggak ngerti nak.. Kamu nggak tau bagaimana rasanya menjadi mamah sekarang.” Batin nyonya Rosa pilu.

__ADS_1


__ADS_2