
Pagi ini seperti pagi biasanya. Lisa dan Devan sarapan bersama dimeja makan tanpa ada obrolan apapun. Sesekali Devan melirik Lisa yang selalu terlihat dingin dan tidak perduli dengan apapun yang berada disekitarnya.
“Lisa, bagaimana kalau kita bulan madu?”
Pertanyaan lolos begitu saja dari bibir Devan tanpa lebih dulu Devan pikirkan. Entah kenapa Devan selalu saja membuka obrolan yang kadang juga terdengar konyol. Yah.. Mungkin itulah Cinta dimana seorang yang genius seperti Devan saja bisa begitu sangat bodoh didepan wanita yang di cintainya.
Lisa langsung berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Lisa menatap Devan dengan ekspresi datarnya.
“Untuk sekarang aku tidak bisa Devan. Pasienku banyak. Dan aku tidak bisa begitu saja meninggalkan kewajibanku.” Jawabnya.
Devan menggeleng pelan. Lisa benar benar tidak pernah sekalipun memikirkan-nya sebagai suami sahnya.
“Lalu bagaimana dengan kewajiban kamu sebagai istriku Lisa?”
Lisa menyipitkan kedua matanya. Lisa merasa sangat tidak suka dengan pertanyaan Devan kali ini.
“Devan.. Bukan-nya aku sudah menegaskan sama kamu. Aku tidak mencintai kamu. Aku tidak memaksa kamu untuk selalu berada disampingku. Aku begini adanya. Jika kamu tidak suka dan merasa keberatan aku tidak meminta untuk kamu tetap stay.” Ujar Lisa dingin.
Devan menelan ludahnya. Ucapan Lisa benar benar menusuk tepat pada hatinya. Rasanya sakit tapi itu sudah biasa. Dan Devan merasa sudah kebal dengan apapun yang Lisa katakan.
“Baiklah. Maaf.. Aku salah.” Hela napas Devan.
Lisa berdecak. Entah kenapa Devan begitu sangat keras kepala. Devan terus saja bertahan disampingnya meskipun Lisa selalu menunjukan sikap dingin-nya.
“Terserah kamu saja.”
Lisa kemudian bangkit dari duduknya, meraih tas dan jas putih kebanggaan-nya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Devan yang hanya bisa diam ditempatnya duduk.
Devan menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya dengan kasar. Cintanya begitu besar pada Lisa sehingga dirinya mampu bertahan sampai detik ini dengan sikap Lisa yang begitu cuek dan dingin.
__ADS_1
“Hhh.. Cinta cinta.. Dasar cinta gila.” Tawa Devan kemudian meraih segelas air putih dan menenggaknya sedikit.
Devan bangkit dari duduknya dan melangkah dengan cepat mengejar Lisa yang meninggalkan-nya begitu saja dimeja makan.
Karena kurang cepat Devan pun akhirnya hanya bisa mendesah frustasi melihat mobil Lisa yang sudah mulai keluar dari pekarangan luas kediaman-nya.
“Hhh.. Lagi lagi kecewa.. Bangkit lagi, bangun lagi tapi jatuh lagi...”
Devan menggelengkan kepalanya. Hanya karna cinta dirinya bisa menjadi sangat bodoh.
Devan kemudian masuk kedalam mobilnya dan melesat dengan cepat menuju perusahaan. Devan tidak ingin berlarut larut memikirkan sikap dingin Lisa padanya. Toh pada kenyataan-nya meskipun Lisa begitu dingin namun Devan tetap saja mencintainya.
-----------
Siang ini Lisa mendapatkan sebuket bunga dengan kartu ucapan romantis yang pengirimnya tidak lain adalah Devan, suaminya sendiri. Namun kali ini bunga itu datang setelah Lisa selesai makan siang.
Lisa menatap kartu ucapan berwarna pink tersebut. Lisa tersenyum miring. Entah apa yang ada didalam kepala cerdas Devan sehingga bertindak begitu sangat bodoh untuk Lisa yang sudah jelas selalu mengatakan bahwa Lisa tidak mencintainya.
Suara ketukan pintu membuat Lisa mengalihkan perhatian-nya. Lisa mengeryit. Waktu bekerja belum dimulai tapi sudah ada yang mengetuk pintunya. Padahal sekarang masih waktunya istirahat.
Penasaran dengan siapa yang mengetuk pintu ruangan-nya, Lisa pun meletakan kartu ucapan romantis yang diberikan oleh Devan. Lisa bangkit dari duduknya kemudian melangkah pelan menuju pintu dan membukanya.
Lisa diam ketika mendapati mamahnya Rosa yang berdiri didepan-nya.
“Mamah sudah menelepon kamu berulang kali tapi kamu sama sekali tidak menjawabnya. Kamu sengaja menghindari mamah Lisa?”
Lisa masih diam. Jika mamahnya sudah murka seperti itu pasti masalah utamanya tidak lain adalah Laona.
“Aku baru selesai makan siang mah... Handphone aku tidak bawa.” Balas Lisa jujur. Ya, Lisa memang bukan wanita yang kemanapun dirinya pergi harus membawa serta ponselnya.
__ADS_1
“Sudahlah, itu tidak penting. Lisa lebih baik sekarang kamu ikut mamah.. Kita harus membantu Laona.”
Lisa berdecak pelan. Sudah dia duga. Laona pasti adalah penyebab utama Rosa menemuinya.
“Mah maaf.. Bukan-nya aku nggak mau. Tapi sebentar lagi waktu istirahat selesai. Aku ini dokter mah.. Pasienku banyak. Aku nggak bisa begitu saja mengabaikan mereka.” Ujar Lisa tenang.
“Jadi kamu lebih perduli pada orang lain dari pada kakak kamu sendiri Lisa? Laona sedang membutuhkan bantuan kita...”
“Kenapa mamah nggak minta bantuan papah aja?”
Rosa langsung bungkam. Suaminya adalah pria yang terlalu berpikir menggunakan logika. Suaminya bahkan seringkali menegurnya karna terlalu memanjakan Laona yang katanya ingin hidup mandiri.
“Kamu keterlaluan Lisa. Mamah kecewa sama kamu.”
Setelah berkata demikian, Rosa langsung berlalu dari hadapan Lisa. Rosa bahkan melangkah dengan sangat cepat bahkan tidak sekalipun menoleh lagi pada Lisa yang menatap punggungnya.
Lisa menarik napas dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Ini bukan kali pertama Rosa marah padanya karena Laona. Lisa bahkan merasa sudah terbiasa dengan amarah Rosa yang penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah kakak kandungnya sendiri, Laona.
Kadang Lisa membanding bandingkan dirinya sendiri dengan Laona.
Laona, dia selalu menyibukkan dirinya sendiri dengan urusan pribadinya. Laona bahkan tidak pernah perduli pada Rosa jika Rosa jatuh sakit.
Sedangkan Lisa, sebisa mungkin Lisa selalu berusaha ada untuk mamahnya. Bahkan sesibuk apapun dirinya Lisa selalu menyempatkan waktu untuk mamahnya itu. Tapi sedikitpun apa yang Lisa lakukan tidak pernah dibanggakan oleh mamahnya, Rosa. Padahal jika dipikir lagi profesinya sebagai seorang dokter jauh lebih membanggakan dari pada profesi Laona yang adalah sebagai model dengan skandal dan sensasi yang tidak pernah luput dari pemberitaan di berbagai media, baik media TV maupun media sosial.
Lisa menutup kembali ruangan-nya. Lisa berdiri dan menyenderkan punggungnya di daun pintu bercat putih itu.
“Mamah.. Sampai kapan mamah akan tetap seperti ini.. Sampai kapan mamah terus berat pada Laona dan tidak perduli pada Lisa...”
Lisa tidak tau harus melakukan apa supaya mamahnya mau menatapnya dengan segala apa yang sudah Lisa lakukan. Lisa bukan sedang mengingkari kasih sayang Rosa padanya. Hanya saja kasih sayang Rosa pada Laona jauh lebih besar dari pada untuknya. Lisa ingin mamahnya bersikap adil dan tidak berat sebelah antara dirinya dan Laona, kakaknya.
__ADS_1
Deringan ponsel dari atas meja kerjanya membuat Lisa menoleh. Lisa menghela napas lagi. Itu pasti adalah Devan yang memang tidak pernah telat menelepon-nya setiap waktu makan siang tiba. Pria itu selalu saja menanyakan pertanyaan yang sama setiap harinya. Seperti Lisa sedang apa? dan sudah makan atau belum.
Sedang malas berbicara, Lisa pun memilih untuk membiarkan saja ponsel miliknya terus berdering. Lisa terus fokus dengan berbagai pemikiran-nya sendiri tanpa berniat untuk mengangkat telepon dari Devan.