Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 41


__ADS_3

“Apa? Lisa sudah pulang dari jam tiga?”


Devan terkejut mendengar ucapan office girl yang mengatakan bahwa Lisa sudah pulang dari jam tiga sore tadi. Bahkan ruangan Lisa sudah sedang di bereskan oleh office girl tersebut.


“Ya tuan..” Angguk office girl tersebut tidak berani menatap Devan.


Devan berdecak. Padahal dirinya sudah mengatakan agar Lisa menunggu sampai dirinya menjemput. Namun Lisa tetap saja pulang lebih dulu tanpa mau menghiraukan ucapannya.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Devan pun berlalu dari depan ruangan Lisa. Pria itu melangkah lebar menjauh dari ruangan Lisa yang sedang di bersihkan itu.


---------------


Sementara itu di rumah, Lisa sedang merenung di balkon lantai dua. Perasaanya menjadi tidak menentu setelah melihat Devan dan Rosali bersama siang tadi. Lisa merasa tidak suka, namun Lisa berpikir tidak mempunyai hak untuk merasakan perasaan tidak suka itu. Devan berhak pergi dengan siapa saja yang Devan mau dan Lisa tidak berhak untuk melarang.


Lisa menghela napas. Siapapun tau bagaimana hubungan Rosali dan Devan dulu. Mereka sangat serasi.


“Setelah apa yang terjadi kamu masih bisa begitu tenang Lisa?”


Lisa mengeryit dan tersadar dari lamunannya saat mendengar suara kakaknya, Laona. Lisa langsung memutar tubuhnya dan terkejut begitu mendapati Laona yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya.


“Kamu..” Lirih Lisa menelan ludah. Lisa yakin Laona tidak mungkin datang tanpa alasan.


Lisa melirik sesaat ke bawah. Disana sudah terparkir mobil milik kakaknya. Lisa berdecak pelan. Bisa bisanya dirinya tidak menyadari kedatangan Laona.


“Mamah sakit.” Ujar Laona memberitahu.


Kedua mata Lisa melebar sesaat. Mamahnya pasti sakit karena terus memikirkan papahnya yang telah tiada.

__ADS_1


“Tidak kah kamu sadar Lisa? papah kecelakaan gara gara kamu.”


Lisa hanya diam. Lisa harus bisa tenang jika menghadapi Laona. Kakaknya itu memang selalu berusaha menggali kesalahan bahkan yang tidak Lisa lakukan sekalipun.


“Kalau saja kamu tidak membahas tentang perceraian dengan Devan malam itu, papah pasti masih ada sekarang. Papah itu stres, frustasi, mikirin kamu yang tidak pernah bisa memahami apa yang papah mau.” Laona terus menyudutkan Lisa.


“Sekarang mamah sakit, mamah nggak mau makan. Dan itu gara gara kamu juga Lisa. Pokonya kamu harus ingat ya Lisa, kalau sampai sesuatu terjadi sama mamah kamu satu satunya orang yang akan aku cari.”


Lisa mengepalkan kedua tangannya berusaha untuk menahan dirinya dari emosi. Laona benar benar tidak pernah memandangnya baik. Laona juga selalu mengadu domba Lisa dengan mamahnya.


“Kamu..”


“Jangan menyudutkan istriku.” Tegas Devan dari belakang Laona.


Lisa mengerjapkan kedua matanya. Entah sejak kapan Devan sampai dirumah. Sekali lagi Lisa melirik ke halaman luas kediamannya dan Devan. Disana mobil Devan sudah terparkir rapi di tempatnya. Untuk yang kedua kalinya Lisa tidak sadar bahkan tidak mendengar suara deru mobil.


Laona langsung bungkam. Wanita itu memutar tubuhnya dan berdecak ketika mendapati Devan yang sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Devan menatap tajam pada Laona. Pria itu tidak tau kenapa Laona seperti sangat membenci Lisa. Padahal sekalipun Lisa tidak pernah menyinggungnya. Tentu saja tidak pernah. Lisa bukan orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain.


Devan melangkah mendekat pada Laona dan berdiri tepat di depan Laona yang terus menatapnya dengan berani.


“Jangan terus menyalahkan Lisa. Apa yang terjadi tidak ada hubungannya dengan Lisa. Semuanya sudah takdir dari Tuhan.” Tekan Devan menatap Laona tajam.


Laona tersenyum sinis. Sejak kecil Laona tidak pernah menyukai Lisa. Selain karena Lisa yang selalu unggul darinya, Lisa juga selalu bisa menarik perhatian papah mereka secara penuh sehingga mendiang papah mereka selalu membangga banggakan pencapaian Lisa.


“Papah kecelakaan karena memikirkan ucapan Lisa yang ingin bercerai dengan kamu Devan. Apa kamu ini bodoh? Lisa berniat meninggalkan kamu. Untuk apa kamu terus membelanya? Semuanya sudah jelas. Papah kecelakaan setelah dari sini bukan? Kamu nggak usah pura pura tidak tau apa apa Devan hanya untuk menutupi kesalahan Lisa. Karena dari dulu Lisa itu memang pembawa sial.”

__ADS_1


“Tutup mulut kamu Laona. Atau aku tidak akan segan untuk merobek mulut murahan kamu itu?” Sela Devan membuat Laona mendelik mendengarnya.


“Asal kamu tau Laona, papah kesini bukan untuk menemui Lisa. Papah kesini malam itu untuk menemuiku. Tentu saja untuk mengingatkanku agar aku lebih berhati hati dan lebih ekstra lagi menjaga Lisa dari orang orang seperti kamu.”


Laona terkejut mendengarnya. Devan begitu sangat membela Lisa, padahal Laona sudah mengatakan Lisa berniat menceraikannya.


“Sebaiknya sekarang kamu pergi dari rumahku atau aku akan panggil satpam supaya melempar kamu keluar dari rumahku Laona.”


Laona menelan ludah. Devan terlihat sangat menyeramkan dengan tatapan tajamnya. Hal itu membuat Laona tidak berani untuk berkata lebih jelek lagi tentang Lisa. Apa lagi Devan juga sudan melontarkan ancaman padanya.


Tidak mau mendapat masalah karena berhadapan langsung dengan Devan, Laona pun memilih untuk segera berlalu. Hatinya sangat dongkol dan penuh dendam karena ucapan Devan.


Devan menghela napas setelah Laona berlalu. Pria itu menatap Lisa yang hanya diam saja di balkon lantai dua rumahnya. Devan tidak tau kenapa Lisa hanya diam saja saat Laona terus menyudutkan dan menyalahkannya.


Devan melangkah pelan mendekat pada Lisa. Pria itu berdiri menjulang di depan Lisa yang membuat Lisa harus sedikit mendongak untuk membalas tatapannya.


“Kenapa kamu diam saja di sudutkan seperti tadi oleh Laona, Lisa?” Tanya Devan lirih.


Devan tidak mengerti kenapa istrinya hanya diam saja mendengarkan ucapan menyudutkan Laona padanya. Padahal Lisa pasti bisa membela dirinya karena memang Lisa tidak tau apa apa tentang kecelakaan yang menimpa papahnya.


“Aku tidak bersalah, jadi aku pikir aku tidak perlu capek capek memikirkan kata untuk membela diri.” Jawab Lisa pelan.


Devan berdecak pelan. Lisa terlalu lemah jika sudah berhadapan dengan Laona dan mamahnya. Tidak heran jika mereka berdua terus saja bersikap seenaknya pada Lisa.


“Justru karena kamu nggak salah kamu harus bisa membela diri kamu Lisa. Jangan membuat Laona selalu merasa paling benar. Kamu harus tegas dan melawan. Dengan begitu Laona pasti tidak akan mudah menindas kamu.”


Lisa menghela napas pelan. Lisa juga sebenarnya ingin melawan, tapi Lisa tau jika dirinya melakukan perlawanan, mamahnya pasti akan semakin menyalahkannya.

__ADS_1


“Huft.. sudahlah. Yang penting kamu tidak terlalu memikirkan apa yang Laona katakan. Percayalah, apa yang terjadi sudah kehendak Tuhan. Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk semua umatnya.” Ujar Devan kemudian menarik Lisa kedalam pelukannya.


Lisa hanya diam dan pasrah saja saat Devan memeluknya. Lisa bahkan memejamkan kedua matanya saat merasakan usapan lembut penuh kasih sayang Devan di kepalanya.


__ADS_2