
Devan menghentikan mobilnya begitu sampai didepan teras depan rumahnya. Malam sudah larut. Bahkan lampu di ruang utama rumahnya saja sudah dimatikan. Saat membunyikan klakson mobilnya bahkan Devan harus sedikit sabar menunggu karena mungkin pak satpam yang juga sudah tertidur di pos tempatnya berjaga.
Devan menghela napas. Devan memang sengaja menghindari Lisa karena tidak ingin lagi ada pembahasan tentang perceraian yang memang sangat tidak Devan inginkan.
Devan turun dari mobilnya kemudian melangkah menuju pintu utama rumahnya. Devan mengeryit ketika tidak bisa membuka pintu tersebut. Pintunya di kunci.
“Loh kok di kunci sih?” Gumam Devan disertai decakan sebal.
Devan kemudian merogoh saku celana hitamnya mengeluarkan benda ponsel miliknya kemudian segera menghubungi bibi untuk meminta tolong pada asisten rumah tangga yang bekerja dengan-nya itu membukakan pintu. Namun beberapa kali Devan menelepon, bibi sama sekali tidak mengangkatnya. Bahkan saat Devan mengirimi pesan dengan marah pada bibi, bibi juga sama sekali tidak membukanya.
“Ya Tuhan.. Kenapa orang orang sangat menyebalkan hari ini.” Keluh Devan merasa frustasi sendiri.
Tidak tau harus meminta tolong pada siapa lagi untuk bisa masuk kedalam rumah, Devan pun dengan sangat terpaksa mendudukkan dirinya di kursi yang ada di teras depan rumahnya. Devan tidak tau akan sampai kapan dirinya menunggu. Karena tidak mungkin jika Devan menghubungi Lisa untuk meminta di bukakan pintu. Minta tolong pak satpam apa lagi mengingat pak satpam yang tidak mungkin memegang kunci rumah.
Devan menguap. Rasa kantuk mulai menyerangnya. Karena tidak bisa menahan-nya, Devan pun akhirnya tertidur di kursi dengan posisi duduk dengan berselimutkan jas hitam miliknya.
Paginya.
Lisa menuruni satu persatu anak tangga dengan penampilan-nya yang sudah rapi. Wanita itu tidak menyangka jika Devan benar benar tidak pulang semalam.
“Pagi nyonya..” Sapa bibi yang saat itu sedang menata sarapan diatas meja makan.
“Ya, pagi juga bi. Oh iya bi, semalam Devan nggak ada telepon bibi?”
Bibi langsung berhenti dari aktivitasnya menata hidangan diatas meja makan mendengar pertanyaan Lisa. Semalam bibi menahan diri untuk tidak mengangkat telepon dari Devan karena permintaan Lisa. Dan sekarang Lisa seolah lupa dengan perintahnya sendiri dengan menanyakan apakah Devan menelepon bibi atau tidak.
“Jadi dia beneran nggak pulang? Dia menghabiskan waktunya dengan Rosali?” Lisa kembali bersuara dengan nada bertanya yang membuat bibi tidak tau harus bagaimana. Tentu saja, bibi hanya menuruti perintah Lisa untuk tidak mengangkat telepon dari Devan karena memang Lisa sendiri yang mengunci pintu utama sebelum Devan pulang.
__ADS_1
“Memangnya kenapa kalau aku menghabiskan waktu dengan Rosali? Kamu cemburu? Kamu nggak terima? Mau marah?”
Mendengar suara Devan, Lisa langsung menoleh. Wanita itu langsung melayangkan tatapan datarnya begitu mendapati Devan yang melangkah mendekat dengan jas hitam yang ter sampir di bahunya.
“Jangan konyol. Aku justru senang kalau kamu sudah kembali bertemu dengan Rosali. Bukankah kamu sangat mencintainya dulu? Jadi kamu sudah tidak keberatan dengan apa yang aku bilang kemarin kan?”
Rahang Devan mengeras. Lisa masih tetap ngeyel ingin berpisah dengan-nya.
“Bahkan dalam mimpi saja aku nggak akan pernah melepas kamu Lisa. Karena kamu sudah menjadi milikku dan selamanya akan tetap seperti itu.” Tegas Devan kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Lisa yang hanya diam saja duduk dikursi di meja makan.
Lisa menoleh menatap Devan yang menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua dimana kamar mereka berada. Lisa tidak habis pikir dengan sikap Devan yang begitu keras kepala. Devan menolak bercerai dengan-nya padahal Devan sendiri tau Lisa sedikitpun tidak pernah mencintainya.
Lisa berdecak. Selera makan-nya hilang seketika karena sikap Devan yang begitu keras kepala. Lisa kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu dari meja makan meninggalkan bibi yang tidak bisa berkutik ditempatnya berdiri mendengar perdebatan singkat antara Devan dan Lisa.
Lisa melangkah keluar dari dalam rumah dengan lebar. Wanita itu sangat kesal karena sikap seenaknya Devan padanya.
“Enggak. Aku nggak bisa begini terus. Aku nggak mau terus terikat dengan pernikahan tanpa cinta ini.” Batin Lisa sambil masuk kedalam mobil sport merahnya.
Dalam waktu singkat mobil Lisa sampai dirumah sakit. Begitu Lisa turun Lisa harus kembali menahan kekesalan-nya karena mendapati Rian yang sudah berdiri didekat pintu masuk gedung rumah sakit. Rian sedang mengobrol dengan satpam yang bekerja disana. Tapi Lisa bisa menebak ada maksud apa Rian datang ke rumah sakit. Yang jelas bukan untuk menemani bundanya karena bundanya sudah pulang dari rumah sakit.
Malas ber basa basi dengan Rian, Lisa pun berpura pura tidak melihat pria itu. Lisa terus melangkah tanpa sedikitpun memperdulikan Rian yang malah mengejarnya begitu menyadari kehadiran Lisa.
“Lisa tunggu Lisa. Lisa.”
Lisa terus melangkah menghindar dari Rian. Lisa benar benar tidak ingin berhubungan lagi dengan pria itu. Pria yang membuat Lisa merasakan luka hati yang begitu parah bahkan sampai Lisa merasa trauma dan enggan lagi berhubungan dengan pria manapun.
“Lisa.”
__ADS_1
Langkah Lisa terhenti saat Rian mencekal pergelangan tangan-nya. Lisa menahan napas sejenak kemudian menghelanya dengan kasar.
“Kamu sangat tidak sopan Rian.” Ujar Lisa dingin.
Menyadari apa yang dilakukan-nya membuat Lisa merasa tidak nyaman, Rian pun segera melepaskan cekalan tangan-nya di pergelangan tangan Lisa.
“Maaf Lisa..” Katanya pelan.
“Sayang, handphone kamu ketinggalan.” Itu suara Devan.
Lisa dan Rian kompak menoleh. Lisa mengeryit merasa aneh dengan Devan yang sedang melangkah mendekat padanya sambil membawakan ponsel yang sama sekali tidak Lisa sadari tertinggal dirumah.
Begitu sampai di depan Lisa, Devan menyodorkan ponsel milik Lisa. Pria itu memperlihatkan senyuman manis yang menghiasi bibir tipisnya.
“Tapi tidak cuma handphone saja yang kamu lupakan sayang. Kamu bahkan lupa menciumku sebelum berangkat.” Tambah Devan yang membuat Lisa merasa sangat jijik. Sejak kapan dirinya mencium Devan sebelum berangkat ke rumah sakit.
Sementara Rian, diam diam pria itu mengepalkan kedua tangan-nya. Rian tau Devan memang sengaja pamer kemesraan di depan-nya.
“Ah ya.. Terimakasih.” Lisa menerima ponselnya yang dibawakan oleh Devan.
“Kalau begitu aku ke ruangan ku dulu.” Ujar Lisa kemudian memilih untuk berlalu dari hadapan kedua pria yang menurutnya sama sama brengsek itu.
“Lisa tunggu.”
Lisa berusaha menahan kekesalan-nya saat Devan memanggilnya. Begitu dirinya menoleh tiba tiba Devan sudah ada didepan-nya. Devan bahkan langsung mencium pipinya tanpa permisi.
“Kamu..”
__ADS_1
“Kamu tidak ingin terlihat tidak bahagia didepan mantan pacar kamu bukan?” Sela Devan tersenyum miring menatap Lisa.
Lisa bungkam. Pertanyaan Devan benar. Jika dirinya terlihat tidak bahagia didepan Rian, pria itu pasti akan merasa besar kepala dan menganggap Lisa masih belum bisa melupakan-nya.