
Rian marah begitu sampai di ruang rawat bunda nya. Wanita yang sangat dia cintai itu tidak apa apa. Keadaan-nya tetap sama seperti saat Rian pergi meninggalkan-nya untuk menemui Lisa.
Tidak terima di bohongi, Rian segera mencari perawat yang mengatakan bahwa keadaan bundanya gawat tadi. Dan tidak butuh waktu lama Rian sudah menemukan-nya, seorang perawat dengan postur tubuh tinggi kecil.
“Ma maaf tuan.. Saya hanya menuruti apa kata tuan Devan. Suami dari dokter Lisa.”
Rian menyipitkan kedua matanya. Rian tau siapa Devan. Dia adalah juniornya saat kuliah dulu. Dia juga adalah playboy tengil yang selalu berusaha mendekati Lisa sejak Lisa masih berpacaran dengan-nya.
“Devan..” Gumam Rian melepaskan cekalan erat tangan-nya pada lengan perawat yang tadi membohonginya.
Rian kemudian berlalu begitu saja meninggalkan perawat tersebut untuk kembali menemui Lisa. Rian tau saat ini Lisa pasti sedang bersama dengan Devan. Namun begitu sampai diruangan Lisa, Rian tidak menemukan siapapun disana.
Rian bertanya pada asisten Lisa dan asisten Lisa mengatakan bahwa Lisa pergi dengan Devan.
Merasa kesal Rian pun memukul tangan-nya ke udara. Rian tau mereka berdua menikah karna saat itu Laona yang memberitahunya.
“Laona.. Dia pasti bisa bantu aku supaya aku bisa bersama lagi dengan Lisa. Laona pasti bisa menyingkirkan Devan dari samping Lisa.” Gumam Rian tersenyum licik.
----------
Devan bersenandung kecil saat memasuki gedung perusahaan-nya. Pria terlihat sangat sumringah setelah apa yang di obrolkan-nya dengan Lisa saat sarapan bersama di restoran 24 jam yang tidak jauh dari rumah sakit tadi.
Kenny yang melihat itu mengeryit. Devan bahkan sangat semangat saat membalas sapaan para karyawan-nya.
Penasaran, Kenny pun mengikuti langkah Devan menuju ruangan pria yang juga adalah teman sekaligus atasan-nya.
“Apa pagi ini ada sesuatu yang aku tidak tau?”
Pertanyaan Kenny membuat Devan tertawa. Devan menggeleng kemudian mengedikkan kedua bahunya. Kali ini Devan ingin merasakan dengan puas kebahagiaan-nya seorang diri.
__ADS_1
“Kamu pikir aku sebodoh itu Devan? Aku bukan perempuan yang mau mengulangi kesalahanku untuk yang kedua kalinya dengan mencintai laki laki brengsek seperti Rian.”
Tiba tiba ucapan Lisa saat sarapan tadi kembali terngiang ditelinga Devan. Meskipun memang Lisa tidak mengatakan apapun selain itu namun Devan merasa sangat optimis bahwa suatu saat Lisa akan mencintainya. Lisa akan membuka hatinya untuk mencintai Devan sebagai mana Devan mencintai Lisa sebagai istrinya.
“Huh, dasar korban cinta.” Sungut Kenny kemudian berlalu keluar dari ruangan Devan.
Devan tertawa lagi. Devan tidak perduli dengan apapun yang dikatakan Kenny padanya. Yang jelas saat ini dan detik ini Devan sedang merasa sangat bahagia karna secara tidak langsung Lisa meyakinkan-nya bahwa Lisa tidak akan kembali lagi dengan Rian.
Devan menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya. Pria itu kemudian mulai fokus dengan laptop nya. Devan tidak sabar menunggu waktu makan siang karena Devan sudah berjanji pada Lisa akan menjemputnya dan kembali makan siang bersama. Walaupun Lisa tidak mengiyakan ajakan-nya tapi Devan akan tetap datang untuk mengajak istri tercintanya itu makan siang bersama.
Suara pintu yang terbuka dengan keras membuat perhatian Devan langsung teralihkan. Devan terdiam menatap Margareth yang berdiri dengan senyuman manis diambang pintu ruangan-nya.
“Vano.. Akhirnya aku bisa bertemu dengan kamu sekarang..”
Margareth terlihat sangat sumringah begitu melihat Devan yang sedang duduk dikursi kebesaran-nya. Wanita dengan pakaian super sexy itu kemudian mendekat pada Devan.
Devan berdecak sebal. Margareth adalah teman masa kecilnya yang sangat posesif juga manja.
Mendengar pertanyaan itu bibir Margareth langsung mengerucut. Margareth melipat kedua tangan-nya dibawah dadanya yang begitu penuh dan seolah akan menyembul keluar karna pakaian-nya yang terlalu terbuka.
“Nggak ada sambutan manis apa buat aku?” Tanyanya kesal.
Devan berdecak. Pria itu kemudian bangkit dari kursinya.
“Baiklah, selamat datang tuan putri.. Ada apakah gerangan tuan putri datang kesini menemui hamba?”
Margareth langsung tertawa. Margareth hendak memeluk Devan namun dengan cepat Devan menghindar.
“Margareth maaf.. Kamu sudah tidak bisa seenaknya memelukku. Aku sudah beristri. Aku hanya mau istriku saja yang memelukku.” Kata Devan.
__ADS_1
Margareth memutar jengah kedua bola matanya. Margareth tau Devan sudah menikah dengan Lisa. Tentu saja. Semua orang tau siapa Devan. Sangat mustahil jika Margareth yang adalah teman sepermainan Devan sejak kecil tidak tau tentang hal tersebut.
“Vano.. Memangnya apa sih istimewanya Lisa? Dia itu udah jauh lebih tua dari kamu.. Sombong.. Dingin.. Apa juga kelebihan-nya.”
Ekspresi Devan langsung berubah mendengar Margareth menyela Lisa. Rahang pria itu mengeras dengan kedua tangan mengepal. Itulah mengapa Devan selalu menghindar dari Margareth. Devan tidak suka dengan apa yang selalu Margareth katakan tentang Lisa.
“Jaga bicara kamu Margareth. Lisa adalah perempuan yang sangat aku cintai.” Tekan Devan.
Margareth melengos. Dari dulu Devan memang selalu mengejar Lisa. Sampai suatu hari Devan berniat melamar Lisa yang tanpa disangka sangka langsung diterima oleh Lisa. Mereka berdua bahkan menikah tidak lama setelah Devan melamar Lisa.
“Aku bicara sesuai fakta Vano. Aku bahkan sangat yakin Lisa itu sebenarnya tidak mencintai kamu.”
“Margareth cukup !” Bentak Devan marah.
Margareth menyipitkan kedua matanya. Wanita dengan dress mini warna merah menyala itu menatap Devan tidak menyangka.
“Dari kecil kita selalu bersama Devan. Kamu selalu melindungi aku. Kamu bahkan meminta pindah pada kedua orang tua kamu agar rumah kita sebelahan. Dari kita belajar di taman kanak kanak sampai akhirnya kita masuk ke jenjang pendidikan yang jauh lebih tinggi. Saat kuliah kita bahkan selalu bersama. Kamu juga tidak ragu menggendongku, menciumku didepan pacar pacar kamu dulu. Tapi setelah kamu bersama Lisa semua itu berubah. Kamu tidak lagi mau dekat denganku. Kamu juga selalu menghindar dariku.”
Devan malas jika Margareth sudah meluapkan segala apa yang dirasakan-nya. Dari dulu jika Margareth sudah memanggilnya dengan sebutan Devan itu artinya Margareth sedang marah padanya.
“Itu semua sudah berlalu Margareth. Aku melakukan itu karna aku merasa kamu adalah sahabat terbaik aku. Kamu dulu lebih berharga dari pacar pacar aku.. Tapi sekarang semuanya sudah jelas berbeda. Aku hanya ingin menata kehidupanku kembali. Aku merasa aku sudah dewasa dan sudah waktunya serius dalam menjalani sebuah komitmen.”
Margareth menggeleng tidak percaya dengan apa yang Devan katakan.
“Jadi maksud kamu hubungan pertemanan yang sejak kecil kita jalin itu hanya candaan Devan?” Margareth semakin gencar meluapkan unek uneknya.
“Bukan begitu. Margareth, kamu akan tau maksud aku kalau kamu sudah menemukan orang yang kamu cintai nanti.”
Margareth melengos kemudian berlalu keluar dari ruangan Devan dengan amarah yang menguasai hatinya.
__ADS_1
Sedang Devan, pria itu tidak mau mengambil pusing sikap Margareth dan memilih untuk fokus kembali dengan pekerjaan-nya.