Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 14


__ADS_3

Pagi ini Devan bangun tanpa ada Lisa disampingnya. Dan itu sukses membuatnya sangat tidak bersemangat. Padahal semalam Devan sudah mewanti wanti pada dirinya sendiri tidak akan melepaskan pelukan-nya pada Lisa sampai pagi. Devan bahkan juga mewanti wanti pada guling disampingnya agar segera membangunkan-nya jika ada pergerakan sepelan apapun dari Lisa.


Cukup gila memang. Tapi itulah Devano William.


Dengan langkah gontai Devan menuruni satu persatu anak tangga dirumahnya. Sudah bisa dipastikan, Lisa pasti sudah lebih dulu berangkat ke rumah sakit.


Saat sampai dimeja makan Devan tersenyum kecut. Bahkan hidangan lengan didepan-nya sama sekali tidak membuatnya lapar. Tapi Devan tidak ingin mencari penyakit. Devan harus tetap sehat dan kuat untuk memenangkan hati Lisa.


Devan menghela napas. Pagi ini dirinya harus sarapan sendiri dimeja makan.


Dalam diam Devan menyantap sarapan paginya. Pria itu tampak malas mengunyah makanan yang sudah dia suapkan kedalam mulutnya namun Devan harus tetap memakan-nya karna Devan tidak mau pemikiran-nya saat bekerja nanti terganggu karna suara perutnya yang keroncongan.


Setelah selesai sarapan Devan langsung pergi menuju perusahaan. Dalam perjalanan ponselnya berdering tapi Devan mendiamkan-nya. Devan sudah melihat layar benda pipih itu dan yang menelepon-nya adalah Margareth.


Dalam waktu yang cukup singkat mobil Devan sampai di parkiran depan perusahaan. Devan segera turun dan masuk kedalam gedung perusahaan-nya tanpa mengidahkan sapaan dari beberapa karyawan-nya.


Devan menghempaskan tubuhnya dikursi kebesaran-nya dengan frustasi. Ucapan yang semalam dia lontarkan pada Lisa saat marah terus saja terngiang ditelinganya membuat Devan merasa malu sendiri.


“Kenapa tuan?”


Nada pertanyaan Kenny tidak tinggi tidak pula rendah. Tapi suaranya berhasil mengagetkan Devan.


“Kamu membuatku kaget Kenny.” Sungut Devan sebal.


Kenny yang sedang membaca laporan mengeryit. Pria itu kemudian menurunkan berkas yang sedang dibacanya dan menatap heran pada Devan.


“Apa aku berteriak tadi?” Tanya Kenny tidak mengerti.


Devan enggan menjawab. Pria itu hanya diam dengan ekspresi kesalnya.


Melihat Ekspresi atasan-nya Kenny mengangguk mengerti. Jika ekspresi Devan sudah seperti itu pastilah penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah Lisa.


“Jadi suami berondong itu memang tidak mudah tuan. Harap maklum dan bersabar menghadapi istri anda yang begitu dingin seperti kutub utara.” Celetuk Kenny dengan santainya.


Devan mendelik kesal pada asisten-nya itu. Jika saja Kenny bukan sahabatnya Devan mungkin sudah memecatnya karna begitu lancang berbicara tentang Lisa didepan-nya. Tapi Devan juga tidak bisa munafik. Kenny tau segalanya tentang kisahnya dengan Lisa. Kenny bahkan juga satu satunya orang yang selalu membantunya dalam berupaya mendekati Lisa.


“Ini ada laporan yang harus kamu baca Devan. Aku sudah mengeceknya dan menurutku tidak ada masalah. Semuanya sesuai. Tapi mungkin kamu juga harus membacanya sendiri.” Ujar Kenny meletakan berkas yang baru selesai dibacanya pada Devan.


“Ken.. Aku sedang tidak fokus bekerja sekarang. Lisa sedang marah padaku.”

__ADS_1


Bukan-nya membaca berkas laporan yang diberikan Kenny, Devan malah mencurahkan isi hatinya pada Kenny.


Kenny menatap Devan aneh. Ekspresi sendu Devan terlalu berlebihan menurutnya.


“Oke aku ngaku aku memang salah. Tapi nggak salah dong kalau seorang suami cemburu begitu tau istrinya makan siang dengan laki laki lain.” Tambah Devan membela dirinya.


“Memangnya siapa laki laki itu?” Tanya Kenny penasaran.


Devan diam sebentar. Devan enggan mengaku bahwa dirinya sempat mencurigai bahwa Lisa makan siang dengan Rian kemarin. Kenny pasti akan menertawakan-nya.


“Dokter Fandy.” Jawab Devan pelan.


Kenny mengangkat sebelah alisnya merasa tidak percaya dengan jawaban Devan.


“Dokter Fandy? Bukan-nya kamu kenal dokter Fandy? kenapa harus curiga? atau jangan jangan kamu sebenarnya mencurigai Lisa pergi dengan laki laki lain.”


Devan berdecak. Otak Kenny terlalu pintar mengorek sesuatu. Kenny bahkan lebih pantas menjadi detektif dari pada menjadi asisten-nya.


“Sudahlah lupakan saja. Sepertinya kamu juga hobi sekali menyalahkan aku.”


Devan pura pura kesal supaya obrolan itu berhenti cukup sampai pada kecurigaan Kenny tanpa harus ada jawaban apapun. Toh masalah itu juga hanya dirinya dan Lisa yang bisa menyelesaikan-nya.


“Kalau begitu aku keluar sebentar. Hubungi saja kalau kamu membutuhkanku.” Ujar Kenny kemudian.


”Hem..” Balas Devan sambil mengibas ngibaskan tangan-nya menyuruh agar Kenny segera keluar dari ruangan-nya. Devan bahkan sengaja menghindari tatapan Kenny dan berpura pura membaca laporan yang diberikan Kenny padanya.


Setelah Kenny keluar dari ruangan-nya Devan menghela napas. Pria itu menyenderkan punggungnya di sandaran kursinya.


“Kamu nggak boleh nyerah Devan.. Kamu harus bisa membuat Lisa mencintai kamu.” Gumam Devan meyakinkan dirinya sendiri.


----------


Sementara itu dirumah sakit.


Rian mengetuk pintu ruangan Lisa. Pagi ini Rian sengaja datang kerumah sakit untuk menemui Lisa. Tentu saja karna bunda nya sudah tidak lagi dirawat dirumah sakit itu.


Rian bahkan datang tidak dengan tangan kosong. Rian membawa setangkai mawar merah ditangan-nya berharap Lisa mau menerimanya.


“Kamu...” Lisa menatap datar pada Rian yang tersenyum manis padanya begitu Lisa membukakan pintu.

__ADS_1


“Apa aku ganggu kamu?” Tanya Rian dengan suara yang sengaja dilembutkan.


Lisa enggan menjawab. Lisa yakin meskipun Rian jahat padanya tapi Rian tidak bodoh. Rian pasti tau bahwa sekarang sudah waktunya untuk bekerja.


“Oh iya Lisa, ini buat kamu.”


Rian menyodorkan setangkai mawar merah yang dibawanya, namun Lisa tetap saja diam. Lisa bahkan sama sekali tidak berniat menerima bunga yang diberikan Rian padanya.


Karena Lisa yang tidak kunjung menerima bunga pemberian-nya senyuman dibibir Rian pun perlahan pudar.


“Eemm.. Lisa..”


“Rian maaf.. Saya harus bekerja sekarang. Kamu juga pasti kan juga harus bekerja.” Ujar Lisa dingin.


Rian menggigit bibir bawahnya. Itu artinya Lisa menolak bunga yang dia berikan sekarang.


“Eemm.. Nanti siang bisa tidak kita makan siang bersama?” Tanya Rian tidak menyerah begitu saja.


“Tidak bisa. Saya sibuk.” Jawab Lisa cepat dan tetap dengan nada dingin.


“Lisa aku...”


“Saya sudah menikah, saya yakin kamu tau itu.” Sela Lisa dengan sangat tegas.


Rian menelan ludah. Pernikahan Lisa dan Devan diadakan begitu sangat besar besaran. Buta jika dirinya tidak melihat acara yang bahkan disiarkan secara live di berbagai media. Baik media TV ataupun online lain-nya.


“Lisa, aku menyesal dengan semua yang terjadi.” Ujar Rian pelan.


Lisa tertawa sinis.


“Penyesalan memang selalu datang terlambat Rian. Sekarang tolong kamu pergi, saya mau bekerja.”


“Lisa tapi aku..”


“Saya sangat mencintai Devano William.” Sela Lisa lagi dan itu berhasil membungkam Rian.


Rian tersenyum kecut kemudian mengangguk pelan.


“Oke.. Aku pergi..” Lirihnya kecewa.

__ADS_1


__ADS_2