
Dengan kecepatan maximal Devan mengendarai mobilnya. Pria itu benar benar merasa tidak tenang dan ingin segera sampai dirumah sakit untuk melihat sendiri bagaimana kondisi tuan Aditya, papah mertuanya. Devan tau jika sampai sesuatu yang buruk terjadi istrinya pasti akan sangat sedih.
Tidak sampai setengah jam mobil Devan sampai tepat di depan rumah sakit tempat papah mertuanya sedang di tangani. Pria itu buru buru keluar dari mobilnya dan masuk kedalam gedung rumah sakit. Devan langsung menanyakan dimana tuan Aditya pada petugas rumah sakit yang kemudian langsung di arah ke ruang UGD.
Ketika sampai di depan ruangan tersebut, Devan mendapati ada dua polisi dan seorang dokter yang sedang berbincang.
“Bagaimana keadaan papah saya?” Tanya Devan langsung.
Dokter dan dua polisi itu langsung menoleh. Mereka bertiga sempat saling menatap satu sama lain kemudian menghela napas pasrah.
“Korban mengalami cedera yang cukup parah di beberapa bagian tubuh dan yang paling parah di bagian kepala tuan. Dan hal itu membuat korban tidak bisa bertahan sehingga korban meninggal beberapa menit yang lalu tuan.”
Bagai tersambar petir Devan mendengarnya. Baru saja dirinya bertemu dan mengobrol dengan papah mertuanya itu tapi sekarang Devan harus menghadapi kenyataan bahwa papah mertuanya telah tiada.
“Ap apa?” Lirih Devan menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Mendadak ucapan panjang lebar tuan Aditya langsung terngiang kembali di kepala Devan. Papah mertuanya begitu sangat percaya padanya.
Saat itu pintu ruang UGD terbuka dan munculah perawat yang sedang menarik brankar dimana diatas brankar itu terdapat seorang yang sudah di tutupi kain putih dengan bercak darah yang mengotori kain tersebut.
Dokter dan polisi menyuruh agar Devan membukanya agar Devan percaya. Namun begitu Devan membukanya, seketika tubuh Devan melemas melihat wajah pucat papah mertuanya dengan beberapa luka goresan di pipi dan dagunya.
Kedua mata Devan berkaca kaca. Dadanya terasa sesak mendapati sang papah mertua telah terlelap dengan tenang untuk selamanya.
“Papah.. Devan janji akan menjaga putri bungsu kebanggaan papah dengan baik. Devan janji.” Lirih Devan dengan air mata yang menetes membasahi kedua pipinya.
Setelah jenazah papah mertuanya dibawa ke kamar jenazah, Devan pun segera menghubungi mamah mertuanya dan memberitahukan apa yang terjadi.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Rosa datang dengan Laona. Mereka berdua menangis tidak terima dengan kenyataan yang ada. Rosa bahkan sampai jatuh tersungkur ke lantai begitu melihat jenazah suaminya. Wanita itu menangis sampai akhirnya tidak sadarkan diri.
Sementara Laona, dia memang menangis tapi tidak sampai histeris seperti mamahnya. Kesedihan juga dirasakan oleh Laona, tapi wanita itu tetap bisa dengan tenang menegakkan kepalanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada papahku Devan? Dan mana Lisa? Mana putri kebanggaan papahku? Apa dia sedang enak enakan tidur dirumah kalian dan tidak perduli dengan papah yang mengalami kecelakaan?”
Laona bertanya dengan penuh penekanan pada Devan yang berdiri di luar kamar jenazah. Dan pertanyaan itu membuat Devan mengeryit tidak menyangka karena dalam keadaan berduka saja Laona masih bisa menyalahkan Lisa tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.
“Jaga mulut kamu Laona. Selama ini aku diam bukan berarti aku tidak berani sama kamu. Tapi karena aku menghormati kamu sebagai kakak dari istriku. Kamu tidak perlu menyalahkan Lisa atas apa yang terjadi karena aku yakin yang paling sedih atas kepergian papah sebenarnya adalah Lisa. Bukan kamu.” Jawab Devan tegas.
Rahang Laona mengeras mendengarnya. Wanita itu merasa sangat kesal karena Devan yang selalu saja melindungi Lisa. Devan juga selalu berusaha membela Lisa. Dan itu membuat Laona merasa tidak senang.
Setelah berkata dengan tegas pada Laona, Devan pun berlalu. Devan benar merasa kesal pada kakak iparnya itu yang selalu saja menyalahkan dan menyudutkan istri tercintanya.
Devan melangkahkan kakinya di koridor rumah sakit dengan hati yang bingung. Sebelum memejamkan kedua matanya Lisa sempat menangis dan mengatakan merindukan papahnya. Padahal Devan yakin saat Lisa datang kerumah kedua orang tuanya Lisa pasti bertemu dengan papahnya, tuan Aditya. Tapi entah kenapa saat hendak tidur Lisa malah mengatakan merindukan papahnya.
“Ya Tuhan.. Tolong tabahkan hati istriku..” Batin Devan memejamkan kedua matanya.
Deringan ponsel dalam saku celana piyama warna gelap yang Devan kenakan membuat Devan kembali membuka kedua matanya. Pria itu segera merogoh saku celananya kemudian menatap layar ponselnya dimana nama kontak Lisa tertera disana.
“Lisa..” Lirih Devan menelan ludah.
Sekali lagi Devan menghela napas. Lisa pasti bingung karena terbangun tanpa ada Devan disampingnya.
Tidak mau membuat istrinya marah, Devan pun segera mengangkat telepon dari Lisa.
“Ya sayang..”
__ADS_1
“Kamu dimana? Apa pergi lagi dengan Margareth?” Nada pertanyaan Lisa begitu sinis dan dingin membuat Devan tersenyum miris. Devan tidak bisa membayangkan akan bagaimana Lisa jika tau bahwa papahnya telah tiada.
“Aku.. Aku dirumah sakit Lisa.” Jawab Devan terbata bata.
“Oh ya? Sedang apa kamu di rumah sakit? Apa sahabat tercinta kamu sedang sakit?”
Devan meneteskan air matanya. Sekarang mungkin Lisa masih bisa bersikap sinis padanya. Tapi nanti setelah mendengar apa yang terjadi Lisa pasti akan sangat terkejut.
“Sesuatu telah terjadi Lisa. Papah, papah mengalami kecelakaan tunggal dan sekarang papah ada dirumah sakit.. Tapi..”
“Tapi apa Devan? Papah nggak papa kan? Papah baik baik saja kan? Sekarang kamu kirimkan alamat rumah sakitnya. Aku akan segera kesana.” Sela Lisa dengan nada khawatir.
Devan menggelengkan kepalanya. Membiarkan Lisa mengemudikan mobil sendiri dalam keadaan kalut adalah suatu kebodohan yang tidak bisa di maklumi. Dan Devan tidak akan menjadi sebodoh itu.
“Tidak Lisa. Kamu tunggu saja dirumah. Aku akan jemput kamu sekarang.”
“Tapi Devan..”
“Lisa tolong.. Tolong sekali ini saja kamu dengarkan aku.” Sela Devan membuat Lisa langsung bungkam di seberang telepon.
“Baiklah. Aku tunggu kamu.”Lisa akhirnya mengalah.
“Aku jalan sekarang.” Ujar Devan kemudian memutuskan sambungan telepon-nya.
Devan bangkit dari duduknya. Sembari melangkah Devan mengirim pesan pada kedua orang tuanya memberitahukan tentang kecelakaan yang di alami oleh papah mertuanya.
Dengan kecepatan maximal Devan mengendarai mobilnya. Yang ada di pikiran pria itu sekarang hanya Lisa dan Lisa. Bayangan Lisa yang menangis begitu rapuh bahkan terus berada di pandangan Devan.
__ADS_1
“Aku yakin kamu kuat Lisa.. Aku yakin itu.” Batin Devan dengan tatapan lurus kedepan menatap jalanan yang mulai sepi itu karena memang malam sudah hampir berlalu.