Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 32


__ADS_3

Lisa benar benar sangat kalut. Wanita itu mondar mandir kesana kemari tidak tenang di depan teras rumah sambil menangis. Mendengar kabar bahwa sang papah mengalami kecelakaan membuat Lisa sangat terkejut juga takut. Lisa takut sesuatu yang buruk menimpa papahnya.


Setengah jam menunggu, mobil Devan pun sampai di depan gerbang. Lisa yang tidak sabar menunggu segera berlari menuju gerbang mendahului pak satpam yang hendak membukakan pintu gerbang untuk Devan.


Apa yang Lisa lakukan membuat Devan semakin khawatir. Devan yakin Lisa juga tidak akan bisa dengan mudah menerima kenyataan bahwa papahnya telah tiada.


“Kenapa lama sekali sih Devan. Memang rumah sakitnya dimana?” Tanya Lisa dengan nada marah namun suaranya bergetar.


Lisa sudah masuk kedalam mobil Devan dan duduk tepat disamping kursi kemudi yang di duduki oleh Devan.


Devan hanya diam saja. Pria itu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Lisa tau yang sebenarnya.


“Ayo Devan.. Aku harus melihat papah sekarang.” Kata Lisa memerintah Devan.


Devan menelan ludah. Pria itu berpikir akan lebih baik jika Lisa tau sekarang dari pada terkejut begitu sampai di rumah sakit. Apa lagi disana mamahnya juga sedang tidak sadarkan diri dan terpaksa harus mendapat penanganan dari dokter.


“Lisa dengarkan aku..”


Devan meraih tangan Lisa menggenggamnya erat. Hal itu membuat Lisa semakin merasa takut.


“Aku tidak mau mendengarkan siapapun sekarang. Tolong segera kita kerumah sakit sekarang Devan. Aku mau tau bagaimana keadaan papah sekarang.” Geleng Lisa menarik tangan-nya yang di genggam oleh Devan.


Devan menelan ludah. Kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup memang tidak mudah. Terlebih tuan Aditya adalah sosok yang selalu mendukung dan membanggakan Lisa tanpa sedikitpun membedakan kasih untuk Lisa dengan Laona, kakaknya. Dan Devan tau itu.


“Lisa papah.. Dia sudah nggak ada. Papah meninggal karena luka parah yang dia derita di bagian kepala.” Ujar Devan lirih berusaha untuk memberitahu Lisa pelan pelan.

__ADS_1


Jantung Lisa seolah berhenti berdetak detik itu juga. Indra pendengaran Lisa bahkan sempat tidak berfungsi untuk beberapa saat ketika penjelasan itu lolos dari mulut Devan.


“Kamu harus sabar dan tabah ya Lisa.. Kamu juga nggak perlu merasa khawatir apa lagi takut. Karena aku akan selalu ada di samping kamu sampai kapanpun. Aku akan melindungi kamu dan menjaga kamu dalam keadaan apapun.”


Lisa tertawa pelan. Air mata mengalir deras di pipinya mendengar apa yang Devan katakan padanya.


“Kamu jahat banget sih, dalam keadaan begini kamu masih saja bisa bercanda Devan. Kamu benci banget ya sama aku? Bercandaan kamu ini nggak lucu tau.” Geleng Lisa.


Lisa berusaha menepis kebenaran akan ucapan Devan. Wanita itu yakin tidak akan ada yang terjadi pada papahnya. Kalaupun memang papahnya mengalami kecelakaan dan mengalami luka, itu pasti masih bisa di sembuhkan.


“Aku serius Lisa.. Papah sudah meninggal.”


“ENGGAAAKK !!” Tolak Lisa berseru marah. Lisa tidak percaya pria yang selama ini selalu mensuport apapun yang dia lakukan pergi meninggalkan-nya untuk selamanya.


“MENANTU MACAM APA KAMU INI DEVAN? PAPAHKU SEDANG SEKARAT DAN KAMU BILANG PAPAHKU SUDAH MENINGGAL. KAMU JAHAT DEVAN !!” Lisa murka pada Devan dengan linangan air mata yang membanjiri kedua pipinya. Wanita itu benar benar tidak percaya meski hatinya sebenarnya membenarkan apa yang Devan katakan.


“Lisa aku tau ini berat tapi kamu..”


“ENGGAK !! DIAM KAMU DEVAN !!” Lisa menutup kedua telinganya tidak mau mendengar apapun yang Devan katakan.


Hal itu membuat Devan langsung bungkam. Devan tau itu tidak mudah untuk Lisa. Kehilangan papahnya sama saja seperti Lisa kehilangan pegangan. Tapi Devan sudah bertekad. Apapun yang terjadi dirinya siap untuk selalu mendukung Lisa. Mendampingi dan melindunginya meskipun Lisa selalu tidak mau menganggapnya ada.


“Sekarang lebih kita kerumah sakit Devan. Aku mau pastiin kalau papah baik baik saja. Ayo Devan.” Tuntut Lisa.


Devan hanya bisa mengangguk saja. Pria itu kemudian memundurkan mobilnya kemudian kembali melaju dengan kecepatan maximal menuju rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya dirumah sakit Lisa kembali marah marah karena diarahkan ke kamar jenazah. Lisa tetap bersikukuh papahnya masih baik baik saja. Hingga akhirnya sebuah tamparan keras yang dilayangkan oleh Laona membuat Lisa terdiam.


Devan yang melihat mendelik marah. Devan langsung merangkul bahu Lisa melindunginya dari Laona.


“Apa apaan kamu Laona !!” Bentak Devan tidak terima dengan apa yang Laona lakukan pada Lisa.


“Diam kamu Devan !! Kamu juga tidak usah munafik. Lisa itu tidak sebaik yang kita kira. Aku yakin Lisa sebenarnya tidak benar benar sedih dengan kepergian papah. Dia hanya pura pura untuk mendapat empati. Karena sebenarnya apa yang terjadi sekarang juga karena dia.” Marah Laona yang di akhir katanya menunjuk Lisa dengan kasar.


“Kamu tidak usah bersandiwara Lisa. Papah sudah nggak ada. Sudah nggak ada yang manjain kamu. Yang nurutin semua permintaan ke kanak kanakan kamu.” Lanjut Laona dengan dada naik turun.


Lisa menggelengkan kepalanya. Tangisnya kembali pecah. Tubuhnya meluruh ke lantai didepan pintu kamar jenazah. Lisa tidak kuasa menahan kesedihan-nya. Devan tidak berbohong padanya. Papahnya benar benar pergi meninggalkan-nya untuk selamanya.


“Ya Tuhan papah.. Huhuhu..” Tangis Lisa yang terduduk dilantai dengan Devan yang terus merangkul bahunya.


“Sabar sayang.. Kamu harus tabah.. Ini ujian dari Tuhan.. Papah pasti akan sedih kalau melihat kamu seperti ini..” Bisik Devan memeluk Lisa yang menangis terisak karena merasa sangat kehilangan sosok papahnya.


Sementara Laona, dia menatap kesal pada Lisa yang dia anggap hanya berpura pura sedih atas meninggalnya sang papah. Laona bahkan mengepalkan kedua tangan-nya sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Devan dan Lisa untuk mengecek keadaan mamahnya yang masih belum juga sadarkan diri.


Tidak lama kemudian kedua orang tua Devan datang. Mereka hanya bisa menatap sedih pada Lisa yang terus menangis dalam dekapan Devan. Tangisan kehilangan yang membuat siapa saja akan merasakan kepiluan itu.


Bahkan nyonya Reyna, mommy Devan sampai ikut meneteskan air matanya menyaksikan menantunya menangis begitu pilu dalam pelukan Devan.


Malam itu juga kabar tentang kematian tuan Aditya tersebar luas. Dan ketika jenazah tuan Aditya dibawa ke kediaman-nya sudah banyak orang yang melayat disana. Mulai dari rekan bisnis, tetangga, juga para karyawan dan teman tuan Aditya baik teman dekat atau teman sekedar kenal saja.


Banyak juga teman seprofesi Laona yang melayat kesana. Mereka mengucapkan bela sungkawanya pada Laona yang hanya bisa tersenyum dengan mata sembab.

__ADS_1


Suasana duka menyelimuti kediaman tuan Aditya. Rosa, terus menangis di samping jenazah tuan Aditya dengan Laona yang mendampinginya. Begitu juga dengan Lisa yang terus dirangkul oleh Devan sembari terisak pilu.


__ADS_2