
Malam itu juga Devan mengantar Lisa yang ingin menjenguk mamahnya yang kata Laona sedang sakit. Awalnya Devan menolak karena takut Lisa akan kembali rapuh jika mendengar apa yang di katakan oleh sang mamah yang menyalahkannya atas apa yang telah terjadi. Namun karena Lisa yang terus ngotot ingin pergi, akhirnya Devan pun terpaksa menuruti keinginan Lisa.
Devan mematikan mesin mobilnya begitu sampai tepat di depan kediaman orang tua Lisa. Pria itu menghela napas dan menoleh pada Lisa yang sejak tadi hanya diam saja saat dalam perjalanan.
“Aku akan baik baik saja Devan. Kamu nggak perlu khawatir.” Kata Lisa mengerti dengan tatapan Devan padanya.
Devan tersenyum simpul. Meski tidak yakin tapi Devan tau bagaimana kerasnya Lisa. Devan berharap Lisa bisa menahan semuanya saat mendengar apa yang nanti akan di katakan oleh mamahnya.
Lisa kemudian turun dari mobil yang langsung di ikuti oleh Devan. Mereka berdua berjalan beriringan masuk kedalam kediaman kedua orang tua Lisa. Sesaat Lisa terdiam dan berhenti melangkah ketika sampai di ruang tamu. Lisa merasakan hatinya teriris kembali jika mengingat di dalam rumah penuh kenangan masa kecilnya itu sudah tidak ada lagi cinta pertama dalam hidupnya yaitu sang papah.
Devan yang melihat itu mengangguk paham. Devan kemudian meraih tangan Lisa dan menggenggamnya erat namun tetap dengan penuh kelembutan.
“Aku akan selalu ada di samping kamu sayang..” Bisik Devan meyakinkan Lisa.
Lisa menunduk menatap tangan Devan yang menggenggam tangannya. Lisa tersenyum samar kemudian mengangkat kembali kepalanya menoleh menatap pada Devan yang tersenyum manis padanya.
“Kita langsung temui mamah saja ya sayang..” Ujar Devan yang mendapat anggukan kepala dari Lisa.
Mereka berdua kembali melangkahkan kakinya dengan tangan saling bertautan. Tidak ingin banyak bicara dengan Laona, Lisa pun lebih memilih untuk menemui bibi untuk menanyakan dimana mamahnya. Setelah bibi memberitahu Lisa dan Devan bahwa nyonya Rosa ada di kamarnya, Lisa dan Devan pun langsung menuju kesana.
Lisa membuka pelan pintu kamar kedua orang tuanya. Pemandangan pertama yang dilihatnya begitu Lisa membuka pintu tersebut adalah mamahnya yang sedang duduk dengan tatapan kosong dan lurus kedepan. Wanita itu bahkan sama sekali tidak menoleh meskipun mendengar suara pintu yang dibuka oleh Lisa.
__ADS_1
Lisa menghela napas. Mamahnya terlihat sangat menyedihkan. Lisa tau mamahnya pasti akan kembali menyalahkannya. Namun Lisa tidak akan balik marah. Karena Lisa sendiri merasa mungkin apa yang terjadi pada papahnya memang karena Lisa yang menyinggung soal perceraian dengan Devan di malam sebelum kecelakaan itu terjadi.
Lisa hendak masuk kedalam kamar mamahnya saat tiba tiba Devan menahannya dengan mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Lisa. Itu berhasil menarik perhatian Lisa sehingga Lisa menoleh menatap Devan.
“Aku akan baik baik saja Devan.” Lirih Lisa meyakinkan Devan.
Devan menelan ludah. Devan khawatir Lisa akan terpuruk lagi karena di salahkan atas apa yang telah menimpa papahnya sehingga papahnya meninggal.
“Percayalah.” Senyum Lisa.
Devan menghela napas kemudian menganggukkan kepalanya. Pelan pelan Devan melepaskan genggaman tangannya pada tangan Lisa. Pria itu membiarkan Lisa masuk dan mendekat pada mamahnya yang duduk diatas tempat tidur dengan tatapan lurus ke depan.
“Mamah.. Lisa datang.” Ujar Lisa pelan. Posisi Lisa kini tepat berada di samping ranjang tempat nyonya Rosa duduk.
“Laona kemarin datang kerumah dan bilang kalau mamah lagi sakit.”
Ucapan Lisa sama sekali tidak mampu menarik perhatian nyonya Rosa. Wanita itu tetap saja diam dengan pandangan kosong. Kehilangan suami yang sangat di cintainya memang bukan hal mudah untuknya. Apa lagi tuan Aditya juga adalah pria sabar dan penuh pengertian. Pria itu selalu berkata dengan pelan dan penuh kasih sayang bahkan saat nyonya Rosa melakukan kesalahan.
“Mah..” Karena nyonya Rosa yang tetap tidak bergeming, Lisa pun menyentuh lembut pundak mamahnya itu. Dan cara itu berhasil. Nyonya Rosa menoleh menatap tangan Lisa yang menyentuh lembut bahunya kemudian menatap pada wajah Lisa yang tersenyum lembut padanya.
“Lisa priksa keadaan mamah yah..” Senyum Lisa.
__ADS_1
Nyonya Rosa tetap diam dengan tatapan yan terarah pada Lisa. Wanita itu sampai sekarang masih tidak menyangka orang yang sangat mencintai dan mengerti dirinya telah pergi untuk selamanya.
“Andai kamu tidak mengatakan tentang perceraian malam itu Lisa, papah pasti masih ada disini sekarang.”
Senyuman di bibir Lisa memudar mendengar apa yang mamahnya katakan. Lisa juga sangat menyesali ucapannya itu. Jika saja Lisa bisa memutar waktu, Lisa tidak akan mendatangi kedua orang tuanya untuk membahas tentang perceraian dengan Devan.
“Kamu tau Lisa? Malam itu sebelum pergi menyusul kamu papah tampak sangat frustasi. Papah bahkan menangis dan itu karena kamu. Apa kamu tidak sedikitpun merasa bersalah atas apa yang sudah kamu lakukan?”
Lisa menelan ludah. Kali ini Lisa menerima jika memang sang mamah menyalahkannya. Karena memang tidak seharusnya Lisa membicarakan tentang keniatan nya untuk bercerai dengan Devan.
“Sekarang papah sudah tidak ada Lisa. Kamu tidak perlu lagi membicarakan apapun tentang kamu dan Devan. Karena mamah, mamah nggak perduli dengan apapun yang akan kamu lakukan.” Lanjut nyonya Rosa masih dengan suara lirih bergetarnya.
Devan yang juga mendengar itu hanya diam. Pria itu masih tetap tidak akan menyangkut pautkan apa yang terjadi dengan apa yang Lisa katakan malam itu pada kedua orang tuanya. Karena Devan yakin kalaupun memang kecelakaan itu tidak terjadi, papah mertuanya akan tetap pergi dengan cara yang berbeda. Devan percaya usia seseorang itu sudah di tentukan oleh Tuhan, sang pemilik kehidupan semua manusia di bumi.
“Maaf mah.. Lisa minta maaf.”
“Maaf kamu tidak akan mampu mengembalikan papah Lisa. Kamu tau? Mamah menyesal melahirkan kamu ke dunia ini.”
Lisa menelan ludah. Wanita itu berusaha untuk tetap kuat berdiri disamping mamahnya meski kakinya terasa melemas. Rasa bersalah langsung merayapi hatinya namun Lisa tetap berusaha tenang. Lisa tau bagaimana perasaan mamahnya sekarang. Karena Lisa sendiri juga merasakan kehilangan atas kepergian papahnya untuk selamanya.
“Kalau kamu tidak lahir ke dunia ini, mungkin sekarang papah masih ada Lisa. Mungkin sekarang papah masih ada sama mamah.”
__ADS_1
Devan yang merasa tidak tahan mendengar itu segera melangkah mendekat pada Lisa. Devan meraih tangan Lisa kemudian menariknya menjauh dari nyonya Rosa. Devan tidak ingin ucapan mamah mertuanya membuat Lisa kembali terpuruk karena di hantui rasa bersalah.
Lisa hanya diam dan menurut saja saat Devan menggandengnya keluar dari kamar mamahnya. Lisa tau apa maksud suaminya.