Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 55


__ADS_3

Lisa terbangun di pagi hari setelah malam panas yang dia lalui bersama Devan. Malam dimana dirinya mulai aktif membalas setiap sentuhan Devan padanya. Malam dimana dirinya juga merasakan suatu hal yang berbeda dalam pergumulan intimnya dengan Devan.


Lisa menoleh dan tersenyum ketika mendapati wajah tampan Devan yang begitu sangat dekat dengan wajahnya. Di tambah lagi lengan kekar Devan yang terus memeluk perutnya.


Lisa menghela napas pelan. Untuk pertama kalinya Lisa merasakan malam yang begitu indah dengan Devan.


“Apa mungkin sekarang aku sudah benar benar mencintainya?” Gumam Lisa membatin.


Sejak menikah dengan Devan, Lisa memang tidak membatasi apa yang Devan lakukan. Lisa pasrah saja saat Devan menyentuhnya tanpa sedikitpun ikut aktif membalas apa yang Devan lakukan padanya. Tapi semalam entah kenapa tiba tiba Lisa begitu aktif. Bahkan sebelumnya Lisa lah yang lebih dulu menggoda Devan.


Mengingat apa yang dilakukannya semalam dengan Devan, kedua pipi Lisa merona. Malu sekali rasanya mengingat dirinya yang begitu aktif bercinta semalam.


“Devan.. Aku harap aku tidak salah kalau aku mencintai kamu.” Lisa kembali membatin dan terus menatap wajah Devan yang masih begitu damai terlelap dalam tidurnya.


Puas menatap wajah tampan suaminya, Lisa pun bergegas turun dari ranjang. Wanita itu meraih bajunya yang berserakan di lantai kemudian kembali mengenakannya lalu melangkah menuju kamar mandi dan masuk untuk segera membersihkan dirinya.


Sekitar setengah jam merilekskan tubuhnya di bawah guyuran air shower, Lisa pun bergegas keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk kimono warna putih serta rambut yang di gulung dengan handuk putih juga.


Lisa kembali mendekat ke ranjang dan duduk di tepinya. Hari ini adalah hari minggu yang artinya adalah hari libur untuknya juga Devan. Mereka berdua tidak punya rencana untuk pergi dan berniat sama sama meluangkan waktu bersama saja dirumah.


Lisa meraih ponselnya yang berada diatas nakas. Wanita itu mengeryit ketika mendapati banyak notifikasi panggilan tidak terjawab disana. Apa lagi juga ada banyak sekali pesan untuknya. Karena penasaran, Lisa pun mengecek siapa yang meneleponnya. Lisa mengeryit begitu mendapati nama kontak sang mamah yang ada disana.


“Mamah..” Gumamnya.

__ADS_1


Mendadak Lisa merasa khawatir karena memang tidak biasanya sang mamah begitu banyak menghubunginya.


Takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, Lisa pun segera menelepon balik mamahnya dan tanpa menunggu lama telepon tersebut langsung di angkat oleh mamahnya.


“Halo mah..” Sapa Lisa lembut.


“Lisa.. hiks hiks.. Laona Lisa.. Laona masuk penjara..”


Kedua mata Lisa membulat dengan sempurna mendengar apa yang mamahnya katakan. Lisa sama sekali tidak menebak jika mamahnya menelepon karena ada hubungannya dengan Laona.


“Apa?” Lirih Lisa menutup mulutnya yang terbuka karena keterkejutannya itu.


“Mamah mohon nak.. Tolong kakak kamu. Laona menangis dan ketakutan di dalam sel. Mamah juga takut sesuatu yang buruk akan terjadi jika Laona terus di biarkan di dalam sel dengan pera penjahat seram itu.. Mamah mohon.. Hiks hiks tolong Laona..” Tangis nyonya Rosa meraung di seberang telepon.


Lisa memutuskan sambungan teleponnya setelah itu. Rasa khawatir langsung menguasai hati dan pikirannya. Namun itu bukan karena Laona, melainkan karena mamahnya.


Lisa kemudian menatap pada Devan yang masih begitu lelap tertidur. Merasa tidak punya waktu untuk menunggu Devan bangun apa lagi jika harus menunggu pria itu bersiap siap, Lisa pun memutuskan untuk datang sendiri ke kantor polisi tempat Laona di tahan.


Lisa mengendarai mobilnya dengan kecepatan maximal. Wanita itu belum terpikirkan apa yang sebenarnya Laona lakukan sehingga tiba tiba di tahan di kantor polisi. Yang Lisa pikirkan hanya keadaan mamahnya sekarang. Apa lagi nyonya Rosa meneleponnya sembari terisak pilu. Lisa tau mamahnya memang sangat menyayangi Laona. Wajar jika wanita itu menangis untuk Laona.


Dalam waktu singkat Lisa sampai di kantor polisi tempat Laona di tahan. Disana Lisa mendapati mamahnya sedang menangis sendiri di kursi.


“Mamah..” Lisa segera mendekat dan memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


“Apa yang terjadi sebenarnya mah? Kenapa Laona sampai bisa di tahan?” Tanya Lisa dengan sangat pelan.


Nyonya Rosa tidak bisa menjawab. Wanita itu terus saja menangis terisak dalam pelukan Lisa. Melihat keadaan mamahnya yang begitu kalut dan tidak mungkin Lisa akan mendapat jawaban atas pertanyaannya, Lisa pun memutuskan untuk menghadap pada polisi untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Apa yang kakak saya lakukan pak? Kenapa kakak saya sampai di tahan?” Tanya Lisa tenang.


“Saudari Laona di tahan karena telah membuat nyawa seseorang hilang. Dan semua barang bukti sudah terkumpul. CCTV menjadi saksi bisu saat saudari Laona beraksi nona.”


Kedua mata Lisa membulat dengan sempurna. Bibirnya terbuka tidak percaya mendengar jawaban dari polisi di depannya.


“Semua bukti sudah jelas nona. Dan anda ataupun keluarga anda tidak bisa melakukan apa apa untuk membela saudari Laona. Hukum harus tetap di tegakkan.” Lanjut polisi tersebut.


“Me-memangnya siapa korbannya pak?” Tanya Lisa lagi.


“Korbannya adalah tuan Rian Alamsyah. Beliau di temukan bersimbah darah di apartemennya dan dalam keadaan sudah tidak bernyawa.”


Lisa menggelengkan kepalanya. Laona membunuh Rian, mantan pacar Lisa. Orang yang juga dulu pernah menjalin hubungan diam diam dengan Laona di belakang Lisa.


Lisa tidak bisa melakukan apapun. Seperti apa yang di katakan polisi itu, hukum harus tetap di tegakan siapapun pelakunya. Apa lagi yang Laona lakukan juga sudah membuat nyawa seseorang melayang. Itu adalah perbuatan yang tidak bisa di alami apapun alasannya.


Setelah mendapat informasi tentang apa yang Laona lakukan dari polisi, Lisa pun berusaha membujuk mamahnya untuk pulang dan istirahat saja di rumah. Lisa tidak berniat sedikitpun untuk menemui Laona yang sudah mendekam di balik sel. Yang Lisa pikirkan hanya keadaan mamahnya sekarang.


Ketika keluar dari kantor polisi tempat Laona di tahan, Lisa harus melewati para pemburu berita yang terus saja mengorek informasi dari Lisa dan nyonya Rosa. Namun Lisa berusaha untuk mengabaikan pertanyaan pertanyaan itu dan terus melangkah menuju mobilnya dengan terus merangkul bahu mamahnya. Memang tidak heran jika para pemburu berita itu merasa penasaran mengingat Laona adalah publik figur yang sering wara wiri di layar kaca.

__ADS_1


Begitu sampai di samping mobilnya, Lisa segera membukakan pintu mobil untuk sang mamah. Setelah itu wanita itu berusaha tetap tenang menghadapi para wartawan yang mengepungnya. Lisa tidak banyak berkomentar dan hanya meminta do'a terbaik saja dari semua para awak media. Setelah itu Lisa langsung masuk ke dalam mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan para wartawan yang tetap saja berusaha mengorek informasi dari Lisa.


__ADS_2