Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 7


__ADS_3

“Apa? Lisa pergi?”


Devan terkejut ketika mendengar apa yang dikatakan oleh asisten Lisa. Devan berdecak pelan. Lisa tidak pernah mengatakan apapun padanya jika ingin pergi kemanapun. Lisa selalu melakukan apa apa tanpa persetujuan-nya terlebih dulu sebagai suaminya. Padahal sudah jelas Devan adalah suami sah Lisa yang seharusnya Lisa selalu terbuka padanya.


“Sejak kapan dia pergi? Dan sama siapa?” Tanya Devan menatap pada asisten Lisa yang tidak lain juga adalah seorang perawat.


“Sejak siang tuan. Untuk dengan siapa dokter Lisa pergi saya tidak begitu tau.” Jawabnya membuat Devan menghela napas frustasi.


Lisa selalu saja begitu. Lisa tidak pernah mengizinkan Devan untuk berperan layaknya seorang suami padanya.


Tanpa berkata apapun lagi Devan berlalu dari depan ruangan Lisa meninggalkan asisten Lisa.


Sore ini Devan memang sengaja menjemput Lisa karna siang tadi Devan juga sudah mengatakan-nya pada Lisa. Seharusnya Lisa juga berpikir lebih dulu sebelum pergi karna tau Devan akan menjemputnya. Setidaknya Lisa memberitahu Devan supaya Devan tidak merasa kesal seperti sekarang.


Dengan perasaan dongkol Devan masuk kembali kedalam mobilnya. Devan kemudian merogoh saku bagian dalam jasnya mencoba untuk menghubungi Lisa.


Tidak menunggu lama telepon tersebut langsung mendapat respon. Lisa mengangkatnya.


“Ya Devan...”


Devan mengeryit. Suara Lisa sangat tidak biasa ditelinganya.


“Lisa, apa kamu baik baik saja?”


Seketika perasaan kesal dan dongkol itu berganti dengan perasaan penuh ke khawatiran pada Lisa.


“Ya, aku baik. Maaf Devan, aku lupa memberitahumu. Aku sudah dirumah sekarang.”


Devan tersenyum kecut. Lisa bukan lupa memberitahunya. Tapi memang karna Lisa tidak pernah menganggap penting keberadaan-nya.


“Kemana kamu pergi siang tadi Lisa?” Tanya Devan pelan.


Hening sesaat.

__ADS_1


Lisa tidak langsung menjawab pertanyaan Devan. Dan samar samar Devan mendengar isakan kecil dari seberang telepon. Sudah jelas, Lisa sedang menangis.


“Aku menjenguk Laona dengan mamah..” Jawab Lisa dengan suara sedikit bindeng seperti orang yang sedang terkena flu.


Laona, Devan juga mengenal siapa dia. Dia adalah model cantik dengan segala kesombongan dan ke angkuhan-nya. Dan dia adalah kakak Laona. Putri sulung dari keluarga Aditya.


“Baik. Aku akan pulang sekarang.”


“Ya...”


Sambungan telepon ditutup begitu saja oleh Lisa. Devan hanya bisa menghela napas sambil menurunkan ponsel yang dia tempelkan ditelinga kanan-nya.


Devan benar bena tidak mengerti kenapa dirinya begitu sangat mencintai Lisa yang begitu dingin dan selalu tidak menganggapnya ada. Lisa memang tetap menjalankan peran-nya sebagai seorang istri. Lisa selalu melayaninya, bahkan memberikan apa yang memang sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk suaminya. Saat Devan menginginkan-nya pun Lisa tidak pernah menolak. Tapi Lisa selalu mengatakan bahwa dirinya secuil pun tidak memiliki perasaan cinta untuk Devan.


Menghela napas, Devan kemudian mulai menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu dengan kecepatan sedang dari depan gedung rumah sakit menuju jalan pulang.


Devan yakin Lisa pasti sedang tidak baik baik saja sekarang. Devan juga tau bagaimana sikap Rosa mamah Lisa jika sudah menyangkut Laona. Sudah bukan lagi rahasia jika kasih sayang yang Rosa berikan pada Lisa dan Laona berbeda. Rosa lebih menyayangi Laona putri sulungnya dari pada Lisa yang adalah putri bungsunya.


---------


“Mamah.. Lisa sangat menyayangi mamah. Lisa rela melakukan apa saja untuk mamah.. Bahkan Lisa mau menerima pernikahan ini demi mamah.. Demi kasih sayang mamah.. Tapi kenapa..? Kenapa sedikitpun mamah tidak mau menatap Lisa jika sudah ada Laona..”


Suara Lisa begitu lirih dengan bibirnya yang bergetar saat berucap. Ini bukan kali pertama Lisa merasakan patah hati karna mamahnya sendiri. Rosa sudah sering membuatnya sakit karna kasih sayangnya yang dia bedakan untuk Lisa dan Laona.


Lisa memejamkan kedua matanya. Bayangan saat Rosa begitu sangat mengkhawatirkan Laona kembali terlihat begitu nyata.


“Ayo cepat dong Lisa kamu periksa kakak kamu. Kamu ngerti nggak sih?!”


Air mata mengalir semakin deras saat bentakan Rosa tadi siang kembali terngiang ditelinganya. Entah apa yang membuat Rosa seperti tidak menginginkan-nya Lisa sendiri tidak tau. Padahal sejak kecil Lisa selalu mengusahakan yang terbaik. Lisa selalu belajar dengan giat supaya mendapat nilai yang bagus berharap bisa membuat Rosa menatapnya. Tapi nyatanya Laona selalu menjadi yang paling membanggakan dimata Rosa. Bahkan saat Laona tidak naik kelas dulu Rosa sampai memarahi wali kelas dan menganggap wali kelas itu pilih kasih.


Lisa mengusap air matanya kemudian membuka kembali kedua matanya. Entah kenapa hatinya tidak kebal meski sudah biasa merasakan sakit itu dari mamah dan kakaknya.


Tidak ingin Devan mengetahui dirinya yang sedang menangis, Lisa pun segera beranjak untuk membersihkan dirinya untuk kemudian menutupi mata sembabnya dengan make up agar tidak terlihat seperti habis menangis.

__ADS_1


Benar saja, Tidak lama setelah Lisa membersihkan dirinya, Mobil Devan sampai tepat didepan halaman rumah mereka. Devan bergegas turun dan melangkah masuk kedalam rumah dengan langkah lebar. Devan tidak sabar ingin segera melihat keadaan istrinya sekarang.


“Bi, Lisa mana?” Tanya Devan pada asisten rumah tangga yang akrab disapa bibi itu.


“Nyonya ada diatas tuan. Sejak pulang nyonya belum turun sama sekali.” Jawab bibi.


“Oke.. Terimakasih.”


Devan segera melangkah menuju lift untuk mempersingkat waktu. Begitu sampai dilantai dua rumahnya Devan pun kembali melangkah lebar menuju kamarnya dan Lisa.


Devan menghela napas saat sampai didepan pintu kamarnya. Devan menyentuh handle pintu kemudian memutar dan mendorongnya pelan.


Devan mendapati Lisa yang sedang mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk. Tatapan keduanya bertemu.


Hening.


Baik Devan maupun Lisa keduanya sama sama diam dan terus saling menatap.


Pelan pelan Devan melangkah mendekat pada Lisa yang berdiri tepat didepan ranjang berukuran king size itu.


“Apa semuanya baik baik saja Lisa?”


Pertanyaan lirih Devan membuat Lisa langsung melengos. Lisa belum sempat menutupi mata sembabnya dengan make up karna Devan yang lebih dulu sampai dari waktu yang Lisa perkirakan.


“Tentu saja.” Jawab Lisa singkat.


Devan menghela napas pelan. Devan tau Lisa sedang menutupi sesuatu darinya. Lisa sengaja menghindari tatapan-nya karna tidak ingin Devan membaca tatapan gugupnya. Apa lagi kedua mata Lisa juga terlihat sembab yang semakin memperjelas bahwa semuanya tidak sedang baik baik saja.


“Lisa.. Aku disini.. Kamu bisa menceritakan apapun sama aku.. Aku akan menjadi pendengar yang baik untuk kamu.”


Lisa tertawa mendengar apa yang Devan katakan. Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu kemudian melangkah menghindar dari Devan.


“Kamu terlalu banyak berpikir Devan.” Katanya dingin.

__ADS_1


Devan menggeleng pelan. Lisa benar benar tidak ingin Devan tau apapun tentangnya.


__ADS_2