
Pagi ini Lisa sedang memolesi wajahnya dengan bedak saat tiba tiba ponsel diatas meja yang di penuhi peralatan make up nya itu berdering. Lisa menghela napas kemudian menghentikan sesaat aktivitasnya itu dan meraih benda pipih tersebut. Lisa mengeryit ketika mendapati nama kontak bibi yang tertera di layar ponsel miliknya. Detik itu juga perasaan Lisa mendadak khawatir mengingat keadaan sang mamah saat terakhir Lisa datang untuk menemuinya.
“Siapa sayang?” Tanya Devan yang baru keluar dari kamar mandi.
“Bibi telepon. Sebentar aku angkat dulu.”
Devan menganggukkan kepalanya. Bibi tidak akan menelepon jika tidak ada yang penting. Dan Devan yakin sesuatu pasti telah terjadi dirumah mertuanya sekarang.
“Halo bi.. Ada apa? Mamah baik baik saja kan?” Lisa langsung melontarkan pertanyaan penuh ke khawatiran pada bibi. Perasaannya benar benar tidak enak sekarang.
“Halo nona.. Anu nona.. Nyonya sakitnya semakin parah. Nyonya menolak untuk makan. Sedangkan nona Laona, dia pergi dari dua hari yang lalu dan sampai sekarang belum juga pulang.”
“Ya Tuhan.. Ya sudah bi saya akan kesana sekarang. Bibi tolong jagain mamah yah..”
Devan mengeryit mendengarnya. Karena penasaran, pria itu pun segera mendekat pada Lisa.
“Ada apa? Kenapa dengan mamah?” Tanya Devan pada Lisa.
“Devan, mamah sakit. Aku harus kesana sekarang. Kata bibi Laona sedang tidak di rumah dari dua hari yang lalu.” Jawab Lisa cepat.
Devan diam sesaat. Mamah mertuanya selalu menyalahkan Lisa setiap bertemu. Bahkan wanita itu tidak pernah menghargai apa yang Lisa lakukan untuknya.
“Kalau kamu nggak mau nganterin aku, aku bisa pergi sendiri Devan.” Ujar Lisa kemudian.
__ADS_1
Devan berdecak pelan. Pria itu bukan tidak mau mengantar Lisa kerumah mamah mertuanya. Devan hanya tidak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulut mamah mertuanya yang selalu saja melimpahkan kesalahan pada Lisa tanpa sedikitpun mau melihat kebaikan yang Lisa lakukan untuknya.
Karena Devan yang terus saja diam, Lisa pun langsung meraih tas dan kunci mobilnya. Wanita itu tidak bisa menunggu lagi. Lisa juga tidak akan mau jika sampai Devan melarangnya menemui mamahnya yang sedang sakit dan hanya bersama bibi di rumah.
“Lisa tunggu.” Devan meraih tangan Lisa mencekal nya mencegah Lisa berlalu dari hadapannya.
“Devan tolong...”
“Aku antar kamu.” Sela Devan pelan.
Lisa menghela napas. Dia diam saat Devan mengambil kunci mobil yang di genggamnya. Lisa juga hanya menurut saja saat Devan menuntunnya mengajaknya melangkah bersama keluar dari kamar mereka.
Devan tidak mengatakan apapun saat mengemudikan mobilnya mengantar Lisa ke kediaman orang tuanya. Sebenarnya Devan ingin melarang Lisa datang kerumah mamahnya. Namun karena alasan mamah mertuanya sedang sakit, Devan tidak bisa melarangnya. Selain karena tidak ingin Lisa marah padanya, Devan juga tidak tega membiarkan mamah mertuanya sakit sendiri dan merasa tidak ada yang perduli.
Begitu sampai di kediaman orang tuanya, Lisa bergegas turun dari mobil Devan. Wanita itu bahkan sampai mengabaikan waktu masuk kerjanya dirumah sakit saking khawatirnya pada nyonya Rosa, mamahnya.
“Mamah...” Lirih Lisa menatap sedih pada nyonya Rosa yang berbaring diatas tempat tidur dengan wajah pucat.
Nyonya Rosa yang mendengar suara lirih dan bergetar Lisa, langsung menoleh. Wanita itu menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan perih.
“Lisa...” Lirihnya hampir tidak terdengar.
Air mata Lisa menetes melihat keadaan sang mamah. Saat seperti ini seharusnya Laona selalu ada untuk mamahnya. Namun yang terjadi Laona malah pergi entah kemana dan sama sekali tidak perduli dengan keadaan mamahnya yang memang terus terpuruk meratapi kepergian papahnya.
__ADS_1
Lisa langsung berhambur memeluk mamahnya. Walaupun mamahnya memang selalu bersikap tidak adil namun Lisa tetap menyayanginya. Apa lagi Lisa juga tau bagaimana perjuangan mamahnya saat melahirkannya dulu.
“Lisa priksa mamah dulu ya..” Bisik Lisa melepas pelukannya kemudian membelai sayang pipi mamahnya yang semakin tirus juga terasa panas.
Nyonya Rosa hanya bisa mengangguk lemah. Wajahnya yang pucat dan bibirnya yang kering menandakan bahwa keadaanya sekarang sedang tidak baik baik saja.
Bibi yang berada disana tersenyum haru melihat Lisa yang begitu sigap langsung datang saat bibi memberi kabar bahwa nyonya Rosa sedang sakit. Tidak seperti Laona yang bahkan sedikitpun tidak perduli dan terus menolak telepon darinya.
“Bi, tolong bikinin minum sama sarapan buat mamah yah.. Bubur saja bi biar mamah gampang menelannya.” Ujar Lisa tersenyum pada bibi.
“Baik nona..” Angguk bibi menurut kemudian segera melangkah keluar dari kamar nyonya Rosa.
Devan yang berdiri di samping kanan ranjang tempat nyonya Rosa berbaring tersenyum mendengar dan melihat perlakuan Lisa pada mamahnya. Devan tau pada dasarnya Lisa memang sangat baik di balik sikap dingin dan cueknya. Lisa juga mempunyai hati yang tulus dan lembut. Hanya saja masa lalu dan sikap pilih kasih mamahnya yang membuat Lisa selalu bersikap dingin dan tertutup pada siapapun. Termasuk pada Devan, suaminya sendiri.
Devan terus memperhatikan Lisa yang sedang memeriksa keadaan mamahnya. Devan yakin nyonya Rosa akan sangat menyesal bahkan menangis jika menyadari sikapnya yang salah pada Lisa selama ini.
Karena tidak tega meninggalkan Lisa sendiri bersama mamahnya, Devan pun terpaksa tidak ke kantor hari ini. Devan juga meminta pada Kenny untuk membatalkan semua jadwal pertemuannya dengan beberapa rekan bisnisnya.
Selama Lisa mengurus mamahnya dari memeriksa sampai menyuapi nyonya Rosa makan dan minum obat, Devan terus berada disana. Devan mendudukkan dirinya di sofa yang berada di seberang ranjang tempat nyonya Rosa berbaring. Devan sebenarnya tidak bisa percaya seratus persen pada mamah mertuanya. Devan benar benar khawatir mamah mertuanya kembali menyalahkan Lisa atas apa yang terjadi.
“Sekarang mamah istirahat yah.. Lisa bakal temenin mamah kok. Mamah nggak sendiri. Lisa akan selalu ada untuk mamah.” Ujar Lisa lembut dan penuh dengan perhatian menatap wajah pucat nyonya Rosa.
Sementara yang di tatap hanya diam saja sebelum akhirnya mengangguk pelan mengiyakan apa yang Lisa katakan.
__ADS_1
Pelan pelan nyonya Rosa pun terlelap karena pengaruh obat yang Lisa suap kan padanya setelah wanita itu menghabiskan bubur yang di buatkan oleh bibi.
Lisa menghela napas. Wanita itu tidak tau apa yang ada di pikiran kakaknya sehingga begitu tega meninggalkan mamahnya yang sampai saat ini masih meratapi kepergian papah mereka. Padahal selama ini mamahnya begitu sangat memanjakan Laona. Tapi sekarang di saat mamahnya membutuhkan dukungan Laona malah asik sendiri dengan dunianya.