Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 48


__ADS_3

Karena merasa sudah tidak lemas lagi setelah di rawat secara intensif secara langsung oleh Lisa, nyonya Rosa pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Wanita itu merasa bosan dan jenuh karena terus terusan berada di dalam kamarnya.


“Mamah mau kemana?” Suara Lisa membuat nyonya Rosa menoleh. Wanita itu menghela napas pelan saat mendapati Lisa yang berdiri tidak jauh dari pintu kamarnya.


Sementara Lisa yang sangat mengkhawatirkan keadaan mamahnya langsung melangkah mendekat kemudian meraih bahu dan lengan sang mamah berjaga jaga agar supaya ketika mamahnya merasa lemas, dirinya bisa menopangnya dengan sigap.


“Mamah masih belum benar benar pulih. Sebaiknya mamah tetap di kamar saja dulu.” Katanya menyarankan dengan lembut dan penuh perhatian pada nyonya Rosa.


“Mana Laona? Kenapa sejak ada kamu disini Laona sama sekali tidak terlihat. Dia sudah pulang kan Lisa?”


Lisa diam sesaat. Mamahnya selalu saja memikirkan Laona yang jelas jelas tidak perduli padanya.


Lisa kemudian menghela napas dan mengembangkan senyuman di bibirnya. Lisa merasa tidak perlu emosi menghadapi sikap mamahnya sendiri.


“Aku nggak tau Laona kemana mah. Tapi bibi bilang Laona pergi sebelum waktu makan malam tiba.” Jawab Lisa tenang.


Nyonya Rosa menggelengkan kepalanya. Wanita itu benar benar sangat menyayangi putri sulungnya itu. Sejak dulu apapun yang Laona mau pasti selalu nyonya Rosa turuti.


“Sebaiknya kamu dan Devan pulang saja Lisa. Laona tidak akan nyaman kalau ada kamu dan Devan disini.” Ujar nyonya Rosa tanpa sedikitpun perduli dengan perasaan Lisa sekarang. Yang ada di pikirannya selalu Laona dan Laona. Nyonya Rosa selalu mengutamakan kebahagiaan putri sulungnya itu tanpa sedikitpun memikirkan dirinya sendiri. Bahkan saat sedang sakit seperti sekarang nyonya Rosa juga masih memikirkan Laona.


“Aku dan Devan akan pulang tapi setelah mamah benar benar pulih.” Senyum Lisa tenang.

__ADS_1


“Mamah sudah baik baik saja. Mamah sudah sembuh.”


Lisa tertawa pelan.


“Kalau mamah sudah benar benar sembuh, mamah tidak mungkin berjalan sambil berpegangan pada tembok.” Lisa berkata dengan tenang.


Nyonya Rosa kemudian menoleh. Wanita itu menatap kesal pada Lisa yang melawannya dengan tenang.


“Kamu berani pada mamah Lisa?” Tanya wanita itu pada Lisa.


“Mah.. Aku nggak bermaksud melawan mamah. Aku ini dokter. Jadi aku tau bagaimana kondisi mamah sekarang. Aku disini karena aku perduli sama mamah. Aku tau mamah sangat menyayangi Laona. Tapi mamah juga harus sayang pada diri mamah sendiri. Lagian Laona itu sudah besar, sudah dewasa. Laona pasti juga sudah tau apa yang harus dia lakukan. Laona tau mana yang baik dan mana yang buruk mah. Laona..”


“Cukup Lisa.” Sela nyonya Rosa yang membuat Lisa langsung terdiam.


Lisa menahan napas sejenak. Wanita itu tidak tau lagi harus bagaimana memberitahu mamahnya bahwa kesehatannya lebih penting dari apapun. Bahwa Laona sama sekali tidak perduli padanya bahkan saat nyonya Rosa sedang sakit Laona terus saja pergi dan sibuk dengan pekerjaannya sendiri.


“Jangan lupakan apa yang sudah terjadi karena kamu Lisa. Papah pergi gara gara kamu.” Lanjut nyonya Rosa yang tetap saja berpikir bahwa Lisa lah penyebab kecelakaan itu terjadi.


“Kalau malam itu kamu tidak membahas tentang perceraian mungkin sampai sekarang papah masih ada disini. Mungkin juga mamah nggak akan sakit seperti ini Lisa.”


Lisa ingin sekali melawan tapi rasanya sangat tidak mungkin mengingat mamahnya yang sedang dalam keadaan tidak baik baik saja. Lisa tidak ingin membuat keadaan mamahnya semakin memburuk.

__ADS_1


Setelah berkata begitu menyakiti hati Lisa, nyonya Rosa kembali masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu bahkan menutup pintu sedikit keras membuat Lisa hanya bisa menghela napas. Namun meskipun begitu Lisa benar benar tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa hatinya terasa amat sakit karena ucapan mamahnya.


“Ya Tuhan.. Apa yang harus aku lakukan agar mamah mengerti kalau aku sangat menyayanginya. Apa yang harus aku lakukan supaya mamah juga tau aku tidak pernah menginginkan kecelakaan itu terjadi.” Lirih Lisa dengan pandangan yang mulai mengabur karena kedua matanya yang berkaca kaca.


Devan yang sebenarnya sejak tadi memperhatikan dan mendengarkan apa yang Lisa dan nyonya Rosa bicarakan segera mendekat. Pria itu meraih tangan Lisa dan menggenggamnya lembut membuat Lisa langsung menatapnya dengan cepat.


“Devan..” Lirih Lisa dengan suara sedikit bergetar. Lisa benar benar tidak bisa lagi menyembunyikan apa yang sedang di rasakannya sekarang. Hatinya taramat sakit karena ucapan yang di lontarkan oleh mamahnya.


“Tidak perlu di pikirkan sayang. Kamu hanya harus fokus untuk tetap melakukan yang terbaik. Karena aku akan selalu ada untuk mendukung kamu.” Ujar Devan dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


Lisa mengerjapkan pelan kedua matanya membuat air yang sejak tadi menggenang memenuhi kelopak matanya itu menetes begitu saja.


Devan yang tidak ingin istrinya merasa rapuh lagi karena ucapan nyonya Rosa langsung mengusap air mata yang menetes di pipi Lisa.


“Kamu nggak boleh lemah sayang. Kamu harus selalu kuat. Ingat apa yang sangat papah banggakan atas kamu. Tentu karena kamu yang hebat dan tangguh.” Lanjut Devan memberi dukungan penuh pada Lisa.


Lisa tertawa pelan. Aneh sekali rasanya karena yang terus berada di sampingnya dan mendukungnya justru adalah Devan yang sudah berniat Lisa tinggalkan.


Lisa kemudian menghela napas. Wanita kemudian melepaskan genggaman lembut tangan Devan dengan perlahan. Setelah itu Lisa masuk kedalam pelukan hangat Devan membuat Devan mematung sesaat. Tentu saja, karena pelukan itu adalah pelukan pertama dari Lisa selama mereka berdua menikah. Sekali lagi, Lisa memang tidak pernah menolak saat Devan menyentuhnya sebagai seorang suami, tapi penolakan atas kehadiran Devan selalu Lisa tunjukan secara terang terangan.


“Terimakasih untuk semuanya Devan. Aku tidak tau apa jadinya aku jika tanpa kamu yang selalu ada di samping aku dan mendukungku.” Ujar Lisa tersenyum di balik punggung Devan.

__ADS_1


Ucapan Lisa membuat Devan tersadar dari mematungnya. Perlahan senyuman lebar Devan mengembang. Pria itu kemudian membalas dengan lembut pelukan Lisa padanya.


“Tidak perlu berterimakasih sayang. Aku hanya melakukan apa yang memang sudah seharusnya aku lakukan sebagai suami kamu. Yang terpenting adalah kamu harus selalu tau bahwa kamu tidak sendiri. Aku akan selalu ada di samping kamu apapun yang terjadi.”


__ADS_2