
“Sekali lagi kak, Oke 1 2 3.. Sip.” Ujar seorang fotografer pada Laona.
“Gimana?” Tanya Laona setelah selesai berpose didepan kamera.
“Seperti biasa kak, tidak ada satupun pose kak Laona yang gagal di depan kamera.” Jawab si fotografer dengan pujian-nya.
Laona tersenyum dengan sangat angkuh. Wanita itu selalu percaya bahwa dirinya bisa melakukan segala hal. Laona juga selalu merasa dirinya jauh lebih baik bahkan lebih unggul dari Lisa, adiknya.
Laona kemudian mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan tempat dirinya melakukan pemotretan. Wanita itu meraih ponselnya kemudian membukanya. Sesaat Laona terlena dengan ramainya sosial media yang di bukanya. Senyuman kembali menghiasi bibirnya ketika Laona tidak sengaja melihat berita tentang Lisa yang memberikan klarifikasinya tentang berita yang hampir saja merusak nama baik Laona sebagai seorang publik figur. Bahkan di berita tersebut tidak diberitakan sesuai dengan fakta saat Lisa memberikan klarifikasinya. Hal itu membuat Laona menggeleng. Orang orang diluar sana memang suka sekali mengubah sesuatu tidak berdasarkan kenyataan yang ada.
Merasa bosan, Laona pun menyudahi berselancar di sosial medianya. Wanita itu kembali meletakan ponsel miliknya diatas meja di samping sofa tempatnya duduk.
“Lisa.. Sampai kapanpun aku tetap harus menjadi yang paling baik dalam segala hal.” Batin Laona tersenyum miring.
“Permisi kak, boleh minta photo bareng nggak?”
Laona menoleh ketika mendengar suara seseorang. Sesaat Laona terdiam menatap gadis berseragam putih abu abu yang Laona yakini pasti adalah salah satu penggemarnya. Malas sebenarnya meladeni penggemarnya yang terkadang terlalu sok tau dengan kehidupan Laona. Apa lagi kalau mereka menjodoh jodohkan-nya dengan pria yang menurut Laona tidak sepadan dengan-nya. Namun karena Laona juga tidak ingin di cap jelek hanya karena menolak atau mengabaikan sapaan penggemarnya, Laona pun dengan sangat terpaksa mengiyakan ajakan photo bersama itu.
“Oh tentu saja, boleh dong. Ayo..” Senyum Laona berusaha seramah mungkin pada penggemarnya itu.
Laona kemudian bangkit dari duduknya. Wanita itu merangkul gadis yang tingginya hanya sebatas pundaknya saja karena Laona yang mengenakan sepatu dengan hak yang cukup tinggi.
Beberapa kali jepretan di ambil oleh gadis berseragam putih abu abu itu. Dengan sangat antusias gadis itu berpose disamping Laona yang merangkul bahu kecilnya.
“Makasih banget ya kak Laona. Kakak ternyata nggak cuma cantik, tapi juga baik. Ah ya kak, aku juga bawain sesuatu buat kakak. Memang nggak seberapa harganya. Tapi semoga saja kakak suka ya..”
Laona hanya tersenyum saja menatap gadis tersebut yang kemudian mengambil sesuatu dari tas selempang yang dikenakan-nya. Gadis itu kemudian menyodorkan kado berukuran sedang pada Laona.
__ADS_1
“Ini untuk aku beneran?” Tanya Laona berpura pura terkejut saat penggemarnya itu menyodorkan kado padanya.
“Iya kak.. Mohon diterima ya..”
“Ya ampun.. Makasih banget loh. Aku pasti terima kok.” Laona menerima kado tersebut dan terus mencoba tersenyum bersikap ramah pada gadis berseragam putih abu abu itu.
“Sama sama kak. Aku juga makasih banget kakak udah mau aku ajak photo bareng. Aku ngefans banget sama kakak loh. Ini aja aku buru buru kesini dari sekolah.”
Laona tertawa pelan.
“Sekolah yang rajin loh yah.. Banggain mamah papah kamu.”
“Itu pasti dong kak. Ya sudah aku permisi kak. Sekali lagi terimakasih.”
“Oke.. Hati hati di jalan pulang.”
Laona menghela napas pelan setelah kepergian gadis itu. Decakan pelan keluar dari bibir Laona merasa kesal karena harus bersikap ramah pada para penggemarnya. Jika saja bukan demi popularitas, Laona enggan bersikap ramah pada orang orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Rasanya sangat memuakkan harus berpura pura baik pada orang yang tidak semua Laona anggap pantas berpose dengan-nya.
Laona kembali mendudukan dirinya di sofa. Penasaran dengan kado yang diberikan oleh penggemarnya tadi, Laona pun segera membukanya.
“Ya ampun, cuma gelang murahan begini. Dia bela belain pulang sekolah kesini cuma buat ngasih aku barang murahan begini. Nggak level banget aku pakai gelang begini. Yang ada kulit aku jadi gatal gatal gara gara gelang murahan ini.”
Dengan santai Laona melempar gelang pemberian dari penggemarnya itu ke tong sampah yang berada tidak jauh darinya. Dan apa yang Laona lakukan itu membuat Sani sang asisten menggelengkan kepalanya. Laona memang tidak sebaik yang publik tau. Tentu saja karena Laona yang tidak bersikap apa adanya dan selalu menggunakan topeng kebaikan didepan publik.
“Nggak penting banget nerima barang murahan begitu. Sampah.” Gumam Laona angkuh.
Tanpa Laona sadari, fotografer yang sedang mengamati hasil photonya mendengar apa yang Laona katakan. Pria yang mengenakan topi hitam itu menggelengkan kepalanya tidak menyangka jika ternyata sikap baik Laona tadi pada penggemarnya hanya sandiwara saja.
__ADS_1
------------
Lisa menatap hidangan makan malam didepan-nya dalam diam. Wanita itu beberapa kali menilik waktu lewat ponsel miliknya. Waktu makan malam sudah berlalu dari dua jam yang lalu. Namun sampai sekarang Devan belum juga pulang. Nomornya bahkan juga tidak aktif. Lisa sudah mencoba menghubunginya beberapa kali.
Lisa menghela napas berat. Padahal Lisa berniat mengajak Devan untuk membicarakan tentang perceraian yang pagi tadi memang sudah dia bicarakan.
“Apa aku coba menelepon Kenny saja?” Gumam Lisa pelan.
Lisa yakin Devan pasti memang sengaja menghindari pembicaraan itu. Tentu saja karena Devan yang memang menolak apa yang Lisa ajukan.
Setelah berpikir beberapa saat, Lisa akhirnya memutuskan untuk menghubungi Kenny, tangan kanan sekaligus sahabat Devan.
“Halo Kenny..”
“Ya nyonya, selamat malam. Apa ada yang bisa saya bantu nyonya?” Saut Kenny yang kemudian bertanya dengan nada sopan pada Lisa.
Lisa berdecak. Lisa tau bagaimana kentalnya hubungan persahabatan antara Kenny dan Devan. Lisa juga tau Devan hanya memanggil Kenny dengan embel embel tuan saat sedang berada di depan-nya dan orang lain saja.
“Devan, apa dia masih berada di kantor?” Tanya Lisa tidak ingin banyak basa basi. Lisa tau dirinya harus hati hati pada Kenny yang pasti akan melaporkan apapun pada Devan.
“Maaf sebelumnya nyonya. Tapi setahu saya tuan Devan sudah pulang sejak sore tadi.”
Lisa mengeryit. Bagaimana mungkin Devan belum sampai jika memang Devan pulang sejak sore.
“Mungkin tuan Devan sedang mengantar nona Rosali nyonya. Kebetulan mereka tadi bertemu.” Tambah Kenny.
Lisa menahan napas kemudian menghembuskan-nya kasar. Tanpa mengatakan apapun lagi, Lisa pun menutup sambungan telepon dengan Kenny begitu saja.
__ADS_1
“Pantas saja. Dasar playboy.” Gerutu Lisa merasa kesal.