Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 37


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Lisa sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasanya. Lisa bahkan berniat untuk kembali bekerja di rumah sakit mulai pagi ini.


“Sayang..” Panggil Devan menatap Lisa yang sedang berkutat di depan cermin besar di kamar mereka.


“Kenapa?” Tanya Lisa tanpa berbalik badan untuk menatap Devan yang berdiri tidak jauh di belakangnya.


“Kamu yakin akan mulai bekerja hari ini?”


Lisa mengeryit mendengar pertanyaan yang Devan lontarkan. Sejak semalam mereka sudah mengobrolkan tentang hal itu dan Devan sudah setuju saat Lisa mengatakan akan kembali bekerja lagi dirumah sakit.


Lisa memutar tubuhnya menatap Devan heran.


“Kita sudah membicarakan ini sejak semalam Devan.” Katanya.


“Bukan-nya kamu juga sudah setuju?” Tanya Lisa kemudian.


Devan menghela napas. Devan memang awalnya menyetujui. Namun setelah di pikir lagi Devan merasa Lisa seharusnya tidak mulai kembali bekerja pagi ini. Apa lagi Lisa juga belum menemui mamahnya sejak meninggalnya sang papah. Devan juga tidak sempat menjenguk mamah mertuanya itu karena sibuk mengurusi Lisa yang terlihat putus asa karena kepergian sang papah.


“Ya.. Tapi aku rasa kita perlu menemui mamah dulu Lisa. Bukan-nya kamu juga belum bertemu dengan mamah lagi selama papah tidak ada?”


Lisa diam. Bukan tidak perduli. Tapi Lisa merasa dirinya tidak selalu harus dekat sang mamah. Alasan-nya tentu saja karena pandangan sang mamah padanya juga pada Laona berbeda.


“Aku akan menemani kamu kesana Lisa.” Tambah Devan.


Lisa menghela napas. Meski niatnya bukan karena tidak perduli, namun bisa saja mamahnya mengartikan lain maksud kediaman-nya.


“Baiklah kalau begitu.” Angguk Lisa setuju setelah berpikir sebentar.


Devan tersenyum. Baru kali ini Lisa bisa menerima apa yang di katakan-nya dengan baik.


“Oke, kalau begitu lebih baik sekarang kita sarapan dulu. Setelah itu kita sama sama ke rumah mamah. Aku yakin mamah juga sedang sangat membutuhkan penyemangat.”


Lisa hanya tersenyum samar. Lisa tau mamahnya juga sangat merasa kehilangan. Tapi Lisa yakin mamahnya tidak membutuhkan-nya.

__ADS_1


Devan mendekat pada Lisa kemudian meraih tangan Lisa dan menariknya keluar dari kamar mereka. Devan mengajak Lisa untuk lebih dulu sarapan sebelum jalan menuju kediaman mamah mertuanya yaitu mamah Lisa, nyonya Rosa.


Setelah selesai sarapan, Devan langsung mengajak Lisa untuk jalan. Devan bahkan sampai rela tidak ke kantor demi menemani Lisa ke rumah mamahnya pagi ini. Meski memang sebenarnya kunjungan mereka berdua kerumah orang tua Lisa bukan atas kemauan Lisa sendiri. Tapi atas saran Devan agar Lisa tidak dulu kembali bekerja dirumah sakit. Tentu Devan juga punya alasan melakukan-nya. Devan tidak ingin Lisa bekerja terlalu keras dulu setelah mengalami hal yang sempat membuatnya merasa putus asa.


Tidak membutuhkan waktu lama mobil Devan sampai tepat didepan teras rumah kedua mertuanya.


Lisa menghela napas. Ini kali pertama dirinya mengunjungi kediaman kedua orang tuanya setelah sang papah tiada.


Devan yang mengerti bagaimana perasaan istrinya tersenyum simpul. Pria itu meraih tangan Lisa dan menggenggamnya lembut. Tidak ada penolakan dari genggaman erat tangan Devan dari Lisa. Hal itu membuat Devan merasa sangat yakin bahwa Lisa mulai bisa menerima keberadaan-nya dari lubuk hatinya meski memang Lisa belum mengatakan-nya secara lisan. Tapi Devan sangat yakin, Lisa pasti akan mengatakan-nya secara langsung suatu saat nanti.


“Kita turun sekarang yah..” Ujar Devan lembut.


Lisa menganggukkan kepalanya dan menatap sebentar pada Devan.


Devan tersenyum lagi. Pria itu kemudian melepaskan seatbeltnya begitu juga dengan Lisa. Keduanya kemudian turun dari mobil Devan secara bersamaan.


Kedatangan mereka di sambut hangat oleh si mbok yang sedang mengepel lantai teras rumah.


“Hem mbok, mamah ada kan?” Tanya Lisa sekedar berbasa basi pada asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman kedua orang tuanya. Wanita tua berbadan gemuk yang sejak dulu selalu melayani segala kebutuhan Lisa dari kecil sampai Lisa menginjak usia dewasa dengan tulus dan baik.


Lisa mengeryit yang membuat si mbok paham.


“Setelah kepergian tuan, nona Laona memutuskan untuk kembali kerumah non.” Jelas si mbok memberitahu Lisa.


Lisa melirik Devan sebentar kemudian menganggukkan kepalanya mengerti.


“Ya sudah mbok, kalau begitu kami masuk ya?”


“Oh iya non.. Silahkan.”


Lisa melangkah masuk kedalam rumah dengan Devan. Wanita itu mendadak kembali merasa ragu. Terakhir kali dirinya bertemu dengan Laona adalah malam dimana kecelakaan itu berhasil merenggut nyawa papahnya. Dan saat itu Laona menamparnya dan menyalahkan apa yang terjadi padanya.


“Mamah..”

__ADS_1


Suara Lisa membuat nyonya Rosa langsung berhenti mengunyah makanan di dalam mulutnya. Begitu juga dengan Laona yang menoleh kearah sumber suara dimana Lisa dan Devan berdiri tidak jauh dari meja makan.


Laona melengos. Sampai sekarang Laona merasa apa yang terjadi itu karena Lisa. Karena papahnya yang pasti menemui Lisa.


Lisa mendekat pada mamahnya. Dia berdiri tepat di samping kursi yang di duduki oleh sang mamah. Dan sampai dirinya berada disampingnya, nyonya Rosa masih saja diam.


“Mamah maaf..” Lirih Lisa menahan tangis.


Devan hanya diam saja di tempatnya berdiri. Pria itu berharap mamahnya tidak sama seperti Laona yang menyalahkan Lisa atas kecelakaan yang menimpa tuan Aditya, sang mendiang papah mertua.


“Maaf Lisa baru bisa datang kesini mah.. Lisa..” Lisa tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Semuanya terasa begitu menyakitkan untuk kembali di ingat.


Nyonya menelan makanan dalam mulutnya. Wanita itu menoleh kemudian berdiri dari duduknya. Tatapan-nya yang semula datar tiba tiba menjadi tajam. Itu berhasil membuat Lisa terkejut. Kebencian terlihat jelas dari sorot mata wanita yang telah berjuang mati matian saat melahirkan-nya.


“Setelah apa yang terjadi kamu masih bilang maaf sama mamah Lisa?”


Kedua mata Lisa melebar dan refleks Lisa menelan ludah. Kekhawatiran-nya terjadi. Mamahnya pasti akan menyalahkan-nya.


“Mamah aku..”


“Cukup. Mamah nggak pengin mendengar apapun dari mulut kamu Lisa. Mamah menyesal telah berjuang melahirkan kamu.”


Kata itu begitu menusuk hati Lisa. Membuat luka hati Lisa yang mulai sembuh kembali tersayat kemudian berdarah. Ucapan sang mamah membuat Lisa tidak percaya dengan fungsi indra pendengaran-nya yang masih normal itu.


“Mamah nggak mau melihat kamu Lisa.”


Bagai tersambar petir Lisa mendengar kata itu. Kata penuh penekanan dengan sorot mata penuh kebencian yang nyonya Rosa layangkan padanya.


“Mah tapi...”


“Tolong, jangan membuat mamah marah. Pergi sekarang juga Lisa.” Sela nyonya Rosa tidak ingin mendengar apapun yang ingin Lisa katakan.


Laona tersenyum sinis. Wanita yang berprofesi sebagai model itu memang mengatakan pada mamahnya apa yang berada di dalam pikiran-nya yang berhasil nyonya Rosa membenci Lisa.

__ADS_1


Devan yang melihat dan mendengar apa yang nyonya Rosa katakan juga sangat terkejut. Devan tidak menyangka nyonya Rosa akan mengatakan hal yang begitu kejam pada Lisa.


__ADS_2