
Akibat apa yang Devan lakukan, Lisa mendiamkan-nya. Bahkan Lisa juga mengunci pintu kamarnya membuat Devan mau tidak mau harus tidur dikamar samping.
“Dijamah, dicium bibirnya nggak marah. Giliran cium pipi marah begitu. Dasar perempuan.” Gerutu Devan sambil membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
Devan terus menggerutu karena sikap ngambek Lisa yang tidak biasanya. Entah kenapa hanya karena ciuman singkat di pipi saja Lisa bisa sampai marah dan mendepaknya keluar dari kamar mereka.
“Apa iya dia malu malu?”
Devan mulai berpikir seenaknya sendiri. Pria itu berpikir Lisa marah karena tersipu hingga berpura pura ngambek padanya. Konyolnya lagi Devan bahkan membayangkan Lisa yang sedang senyum senyum sendiri diatas ranjang mereka.
“Ya.. Bisa jadi dia sekarang sedang membayangkan ciumanku tadi..” Tawa Devan begitu percaya diri.
“Hh.. Sudahlah lebih baik sekarang aku tidur.. Lisa pasti sudah tidak akan marah lagi besok pagi...”
Dan Devan pun mencoba memejamkan kedua matanya untuk menyelami alam mimpinya dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
Sementara itu dikamarnya Lisa sedang merenung. Bayangan tentang masa lalunya bersama Rian kembali berputar diotaknya. Semuanya begitu terputar dengan layaknya sebuah film yang sedang ditayangkan. Dan mengingat semua itu hati Lisa terasa di iris iris. Lisa tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa kisah indahnya dengan Devan akan berakhir dengan pengkhianatan. Parahnya lagi Devan mengkhianatinya dengan berselingkuh bersama Laona. Apa lagi saat itu juga menyebar isu bahwa Rian adalah pria yang membuat Laona hamil. Meski memang semua itu tidak terbukti karena pada kenyataan-nya Laona tidak pernah hamil. Tapi Lisa sendiri meyakini isu tersebut karena setelah perselingkuhan Rian dengan Laona terbongkar keduanya sempat menghilang dalam waktu yang cukup lama yaitu sebulan.
Lisa menghela napas. Lisa mengusap air mata yang membasahi pipinya. Setiap mengingat masa lalu itu air matanya selalu tidak bisa dibendung.
Deringan ponsel membuat Lisa menoleh. Lisa meraih ponsel yang tergeletak disamping tempatnya duduk diatas ranjang.
Senyuman dibibir Lisa mengembang. Sang papah menelepon-nya.
“Halo pah..”
“Ya halo dokter cantiknya papah..”
Lisa tersenyum merasa lucu dengan panggilan dokter cantik yang selalu papahnya sebutkan untuknya.
“Kamu lagi apa nak? Kenapa belum tidur?” Tanya sang papah dari seberang telepon.
“Ya pah.. Aku belum ngantuk. Papah kapan pulang?”
__ADS_1
“Mungkin lusa papah pulang sayang.. Dimana Devan? Kenapa sepi sekali?”
Lisa diam. Tidak mungkin jika Lisa jujur mengatakan bahwa dirinya mengusir Devan dari kamar mereka hanya karena Devan menciumnya didepan banyak orang saat makan malam direstoran tadi.
“Eemm.. Devan, dia sedang tidak bersama Lisa pah..”
“Oh ya? Memangnya dia dimana? Apa belum pulang dari kantor?” Tanya sang papah dengan nada penasaran.
“Sudah pah. Hanya Devan sedang diluar kamar.” Jawab Lisa pelan.
“Begitu ya? Ya sudah kalau begitu. Papah tutup ya..”
“Ya pah...”
Obrolan pun selesai. Lisa menghela napas pelan kemudian meletakan kembali ponsel miliknya diatas ranjang.
Lisa kembali diam. Tiba tiba Lisa teringat akan Devan. Dulu Devan memang sangat tengil. Devan selalu merasa bisa melakukan apapun. Devan bahkan juga selalu pergi dengan wanita yang berbeda setiap harinya.
Tapi menikah dengan Devan bukan pilihan baginya. Lisa terpaksa harus menerima Devan dalam hidupnya karena kedua orang tuanya.
Lisa memejamkan kedua matanya. Memikirkan kedua orang tuanya terutama mamahnya hanya akan membuatnya semakin tidak di inginkan.
-------
“Menurutku caramu mendekati Lisa itu salah Devan.”
Devan menyipitkan kedua matanya menatap Kenny yang entah kenapa tiba tiba menyinggung tentang cara Devan mendekati Lisa.
“Hey, apa maksudmu?” Tanya Devan tidak terima dengan apa yang Kenny katakan. Karena menurut Devan apa yang dilakukan-nya sudah benar. Devan meratukan Lisa.
“Hey bung, dengarkan aku.”
Kenny menghela napas kemudian bangkit dari duduknya disofa dan mendekat pada Devan yang duduk dimeja kerjanya.
__ADS_1
“Mulai sekarang, cobalah ubah caramu memperlakukan istri dinginmu itu. Karena meskipun kamu jauh lebih muda dari dia tapi kamu tetaplah seorang suami yang harus di hormati. Oke?”
Devan tampak berpikir. Devan tidak pernah merasa tidak dihormati. Lisa tetap mau menjalankan kewajiban-nya sebagai seorang istri meskipun Lisa sangat dingin padanya.
“Pertama, kamu harus tegas. Kedua, berhenti melakukan hal konyol dengan mengirimkan bunga setiap hari pada Lisa. Itu bukan sikap laki laki dewasa.”
“Hey aku hanya ingin menjadi suami yang romantis.” Protes Devan tidak terima caranya dianggap salah.
“Itu bukan romantis. Itu konyol dan kekanak kanakan.” Sergah Kenny dengan tegas.
Devan mendelik. Asisten-nya memang sangat lancang.
“Ketiga, kamu harus bisa menjadi suami yang mengatur istri. Jangan mau diperbudak oleh cinta.” Lanjut Kenny.
Devan menggeleng. Tidak heran jika Kenny terus saja menjadi jomblo sampai sekarang. Bagaimana tidak? Kenny begitu kaku jika sudah berhadapan dengan wanita. Kenny bahkan tidak bisa bersikap manis dan selalu bersikap lurus dengan kemauan-nya sendiri.
“Aku berani bertaruh jika sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi jomblo seperti sekarang Ken. Kecuali kalau kamu mau mengubah prinsipmu yang tidak masuk akal itu.” Geleng Devan.
Kenny berdecak. Devan adalah pria yang selalu mendewakan cinta. Sosoknya yang tegas dan berwibawa bahkan bisa musnah begitu saja jika sudah berhadapan dengan Lisa, wanita yang sejak dulu memang selalu Devan kejar.
“Aku lebih baik menjadi jomblo dari pada harus menjadi budak cinta seperti dirimu tuan William. Lihat dirimu, setiap hari kamu selalu mengirim bunga dengan kata romantis untuk wanita es itu. Tapi mana buktinya? Dia tetap saja tidak mau menatapmu kan?”
Devan menghela napas. Membahas tentang cinta dengan seorang Kenny memang tidak akan pernah menemui titik terang. Tentu saja karena pandangan mereka tentang cinta memang berbeda.
“Aku yakin kalau kamu tetap seperti ini, Lisa tidak akan bisa mencintai kamu. Lisa bahkan akan semakin memandang rendah pada kamu. Mungkin juga dia akan meninggalkan kamu.”
“Hey jaga ucapanmu.” Marah Devan pada Kenny.
Kenny menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya. Devan selalu saja tidak mau mendengarkan-nya. Padahal menurut Kenny apa yang sedang dijalani oleh sahabatnya itu hanyalah cinta sepihak. Tentu saja karena Lisa yang tidak pernah sedikitpun mencintai Devan.
“Baiklah. Terserah kamu saja. Tapi saranku lebih baik kamu pikirkan apa yang tadi aku katahan Devan.” Ujar Kenny kemudian berlalu keluar dari ruangan Devan.
Devan melengos enggan menanggapi apa yang Kenny katakan. Devan benar benar tidak setuju dengan apa yang Kenny bicarakan tentang cinta. Bagi Devan, wanita adalah makhluk lembut yang tentu harus disikapi dengan lembut dan sangat hati hati. Karena sedikit saja seorang pria bersikap kasar itu akan membuat si wanita rapuh.
__ADS_1