
Pemakaman tuan Aditya berlangsung begitu sangat memilukan. Air mata terus berjatuhan mengiringi bunga yang di taburkan diatas gundukan tanah tempat peristirahatan terakhir tuan Aditya.
Nyonya Rosa, dia terus menangis dalam pelukan nyonya Reyna, mommy Devan. Sementara Laona, dia begitu tenang berdiri di samping gundukan tanah merah itu.
Berbeda dengan Lisa yang tidak bisa hadir karena badan-nya yang lemas akibat terus menerus menangis sehingga Devan terpaksa menitipkan sementara Lisa pada dokter kepercayaan-nya.
Setelah pemakaman selesai, satu persatu pelayat membubarkan diri hingga akhirnya hanya tersisa nyonya Rosa, Laona, Devan, dan kedua orang tua Devan.
“Pah.. Kenapa papah ninggalin mamah pah.. Mamah takut.. Mamah takut nggak bisa menghadapi semuanya tanpa papah.” Tangis nyonya Rosa bersimpuh di samping makam suaminya dengan tangan terus mengusap nama suaminya yang tertulis di papan nisan berwarna putih itu.
Semua yang tersisa disana hanya bisa diam termasuk Devan. Pria dengan setelan serba hitam serta kaca mata hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya itu tau bagaimana perasaan keluarga yang di tinggalkan terutama istrinya yang bahkan sampai lemas tidak berdaya dirumah sakit.
Devan sendiri tidak menyangka papah mertuanya akan pergi secepat itu dan dengan cara yang sangat mengenaskan. Padahal semalam sebelum kecelakaan itu terjadi papah mertuanya masih tersenyum penuh rasa bangga saat menepuk pelan bahu tegapnya. Tapi sekarang papah mertuanya sudah tidak ada. Sosok itu meninggalkan-nya dalam waktu yang sedikitpun tidak di duga oleh Devan atau siapapun. Bahkan sebelum meninggal papah mertuanya sempat mengatakan bahwa dirinya sangat percaya pada Devan yang pasti bisa menjaga dan melindungi Lisa dengan sebaik baiknya. Ucapan itu tidak sedikitpun bisa Devan artikan bahwa itu adalah penitipan dengan isyarat tersirat padanya semalam.
Devan menghela napas. Pria itu kemudian menoleh pada kedua orang tuanya yang juga ikut hadir di pemakaman itu.
“Nak, sebaiknya kamu segera kerumah sakit. Nyonya Rosa biar daddy sama mommy yang menemani. Kasihan Lisa dirumah sakit sendirian.” Saran tuan William, daddy Devan.
Devan menganggukkan kepalanya. Pria itu kemudian menatap lagi pada mamah mertuanya yang masih meratapi kepergian suaminya. Devan menghela napas dan kembali memusatkan pandangan pada kedua orang tuanya.
“Ya udah mom, dad.. Titip mamah yah.. Devan kerumah sakit dulu.”
__ADS_1
“Ya nak.. Hati hati.” Senyum nyonya Reyna, mommy Devan.
Devan pun berlalu dari area makam papah mertuanya untuk kerumah sakit. Pria itu benar benar masih tidak menyangka musibah itu merenggut nyawa papah mertuanya.
Tanpa Devan sadari, Laona terus menatap tajam padanya. Wanita yang berprofesi sebagai model itu merasa semua yang terjadi karena Lisa. Apa lagi posisi kecelakaan sang papah juga tidak jauh dari kediaman Lisa yang artinya sebelum kecelakaan papahnya pasti baru saja menemui Lisa.
----------
Dirumah sakit, Lisa terus menatap plafon putih bersih di ruangan tempat dirinya berada dengan air mata yang terus berjatuhan dari kedua sudut matanya. Lisa masih tidak percaya bahwa papahnya telah pergi meninggalkan-nya untuk selamanya. Lisa juga merasa sangat pilu karena Devan melarangnya untuk ikut hadir di pemakaman sang papah. Tapi Devan melarangnya bukan tanpa sebab melainkan karena tubuh Lisa yang begitu sangat lemas dan tidak berdaya. Lisa kehilangan tenaganya begitu tamparan keras Laona mendarat di pipinya semalam.
Suara pintu yang dibuka dengan pelan tidak membuat Lisa menoleh. Lisa menyadari Devan yang masuk kedalam ruangan tempatnya berada. Namun Lisa merasa tidak perlu untuk menatap pria itu.
“Sayang...”
Devan menghela napas melihatnya. Lisa terus saja menangis tanpa henti sampai kedua matanya membengkak dan memerah. Devan yakin Lisa juga pasti merasakan pegal di kedua matanya saat ini. Hanya saja karena hatinya yang sedang berduka Lisa tidak memperdulikan rasa itu.
“Aku bawain bubur ayam buat kamu. Aku belinya di tempat biasa kamu beli loh.. Kamu sarapan dulu ya sayang.. Biar kamu ada tenaga lagi buat ngobatin pasien pasien kamu.. Nggak lucu dong, masa dokter hebat masuk rumah sakit. Yang nanganin dokter juga lagi.” Ujar Devan sambil meletakan bubur ayam yang di belinya diatas nakas samping brankar Lisa.
Devan berusaha mencandai Lisa berharap istrinya mau menoleh untuk sekedar menatapnya. Namun Lisa sama sekali tidak bergerak. Wanita itu terus menatap lurus kedepan dengan air mata yang tidak berhenti menetes dari kedua sudut matanya.
“Sayang...” Panggil Devan menyentuh tangan Lisa namun dengan pelan Lisa langsung menghindari sentuhan tangan Devan. Lisa bahkan membuang muka ke kanan menghindari menatap Devan yang berdiri disamping kirinya.
__ADS_1
“Lisa kamu harus sarapan..” Devan bersuara dengan pelan berusaha membujuk Lisa agar Lisa mau sarapan.
“Apa kalau aku sarapan papah akan hidup kembali Devan? Apa kalau aku sarapan papah akan ada untukku lagi?”
Devan menggelengkan kepalanya. Pria itu tidak percaya mendengar apa yang Lisa tanyakan.
“Ya Tuhan.. Lisa apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Apa yang terjadi itu sudah kehendak Tuhan Lisa. Kamu tidak boleh ngomong begitu.”
Lisa tersenyum miris. Dari dulu hanya papahnya yang menganggapnya ada. Hanya papahnya yang mendukung dan percaya pada apa yang Lisa lakukan.
“Itu artinya Tuhan tidak menyayangiku Devan. Tuhan mengambil satu satunya orang yang selalu mendukungku. Orang yang menyayangiku dan mau menganggapku ada.”
“Lisa !!” Tegas Devan sedikit meninggikan nada suaranya. Devan benar benar tidak suka dengan apa yang Lisa katakan.
“Kalau kamu ingin tau siapa orang yang menyayangi kamu selain papah itu aku orangnya Lisa. Aku yang selalu berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu Lisa. Aku selalu berharap kamu menatapku dan membalas cintaku. Apa kamu pernah menyadari itu? Apa pernah kamu menganggapku ada?”
Tanpa sadar emosi Devan memuncak. Devan tidak tau apa yang ada di pikiran istrinya sampai Lisa mengatakan hal yang tidak seharusnya.
Devan menelan ludah. Melihat Lisa yang terus saja membuang muka membuat amarah semakin menguasainya. Karena tidak bisa menguasai dirinya sendiri dari emosi, Devan pun meraih kedua pipi Lisa dengan paksa menyuruh agar Lisa menatapnya.
“Lihat aku Lisa. Aku suami kamu. Aku orang yang selalu perduli sama kamu. Aku orang yang sangat mencintai kamu melebihi siapapun.” Tekan Devan.
__ADS_1
Ekspresi Lisa tetap datar. Wanita itu bahkan sama sekali tidak memberontak meski Devan sedikit menekan kedua pipinya. Lisa bahkan sedikit saja tidak merasa takut meski melihat wajah memerah penuh amarah Devan.
“Selama ini kamu tidak pernah sedikitpun menganggap aku ada. Kamu tidak pernah menganggap aku sebagai suami kamu. Tapi aku selalu menerimanya Lisa. Karena aku mencintai segala yang ada pada diri kamu.” Tambah Devan.