
“Dia kembali. Dan sekarang dia sedang menunggu kamu di lobi.”
Devan mengeryit tidak tau siapa yang di maksud Dia oleh Kenny.
“Dia siapa?” Tanya Devan pelan.
“Rosali. Mantan pacar kamu saat masih di universitas dulu.” Jawab Kenny sambil meletakan map warna biru di meja Devan.
“Hah?!” Mulut Devan terbuka terkejut mendengar nama itu disebut oleh Kenny. Apa lagi semalam Lisa juga baru saja menyinggung tentang Rosali padanya.
Devan tiba tiba berpikir mungkinkah Rosali menemui Lisa karena tau sekarang Devan dan Lisa adalah suami istri. Tapi Devan juga tidak yakin mengingat hubungan mereka yang sudah selesai secara baik baik dulu sebelum Rosali pergi keluar negeri untuk melanjutkan pendidikan disana mengikuti kedua orang tuanya.
“Mungkin ini saatnya kamu mengetes apakah dokter cinta kamu itu sebenarnya membutuhkan kamu atau tidak Devan. Yah.. Memanfaatkan Rosali sebentar tidak ada masalah sepertinya.”
Devan berdecak menatap Kenny kesal. Kenny benar benar sangat sensitif jika sudah menyangkut Lisa. Devan bahkan berpikir Kenny sepertinya tidak senang jika melihatnya bahagia dengan Lisa.
“Jangan sembarangan kalau bicara. Aku tidak ingin membuat istriku kecewa.” Balas Devan.
Kenny mengedikkan bahunya. Bukan bermaksud mempengaruhi Devan, Kenny hanya tidak ingin Devan terus di beri harapan palsu oleh Lisa.
“Dasar suami takut istri.” Sindir Kenny sembari berlalu dari hadapan Devan.
Kedua mata Devan membulat mendengarnya. Kenny menjudge nya.
“Hey aku mendengarnya !!” Seru Devan memperingati.
Namun Kenny sepertinya tidak perduli. Dia tetap melenggang keluar dari ruangan Devan tanpa sedikitpun perduli dengan seruan sahabat yang merangkap sebagai bosnya itu.
“Dasar jomblo. Tidak tau bagaimana caranya memperjuangkan cinta.” Gerutu Devan sambil meraih map yang diletakan Kenny diatas mejanya.
Saat hendak membuka map yang diletakan Kenny diatas mejanya tiba tiba Devan mengingat obrolan singkatnya dengan Lisa semalam.
“Kamu pasti akan sangat senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan mantan kekasih terindah kamu Devan.”
__ADS_1
Devan yang sudah mendekatkan wajahnya pada Lisa mengeryit bingung. Devan tidak mengerti apa yang Lisa maksud.
“Mantan terindahku? Siapa?”
Lisa tertawa pelan. Mantan kekasih Devan memang banyak, tidak heran jika Devan sampai bingung harus menebak yang mana.
“Rosali. Dia pasti akan menemui kamu sebentar lagi. Mungkin besok, lusa, atau bahkan nanti dia akan menghubungi kamu.” Jawabnya.
Devan tertawa mendengarnya.
“Kamu pikir aku perduli?” Tanya Devan yang kemudian melanjutkan niatnya mencumbu Lisa.
“Apa mungkin Lisa cemburu?”
Devan mulai bertanya tanya. Lisa tidak pernah sekalipun menyinggung tentang mantan kekasih Devan. Tapi kali ini Lisa menyinggung tentang Rosali. Gadis yang memang pernah berhubungan dengan Devan cukup lama.
Devan akui, memang setelah putus dari Rosali, Devan memang memutuskan untuk fokus belajar. Devan tidak lagi meladeni gadis manapun yang mendekatinya. Tapi itu bukan karena Devan yang putus asa di tinggal oleh Rosali. Tapi karena Devan memang ingin bisa segera mewujudkan ke inginan-nya menjadi pria mapan agar bisa meminang Lisa. Kakak kelas yang diam diam dia puja puja.
Tiba tiba Devan tersenyum. Pria itu meyakini sendiri bahwa Lisa memang mungkin cemburu dan takut Devan akan kembali lagi bersama Rosali.
Devan dengan semangat melanjutkan pekerjaan-nya bahkan sampai melupakan bahwa ada Rosali di lobi yang sedang menunggu karena ingin bertemu dengan-nya.
Saking bahagianya mengingat Lisa cemburu, Devan pun berniat memberikan bunga sendiri pada Lisa siang ini. Namun saat sampai di lobi langkah Devan di hentikan oleh Rosali.
“Kamu..”
Devan meringis. Entah sejak kapan dirinya menjadi pelupa. Padahal Kenny sudah memberitahu tentang Rosali padanya. Namun Devan sama sekali tidak mengingatnya.
“Rosali maaf, Kenny sudah memberitahuku tentang kedatangan kamu tadi. Tapi yah.. Aku lupa karena pekerjaanku yang menumpuk.” Ujar Devan tersenyum tipis.
Rosali mengerucutkan bibirnya. Devan membuatnya menunggu hampir dua jam.
“Kamu membuatku seperti orang bodoh Devan.” Sungutnya tidak terima.
__ADS_1
Devan tertawa pelan. Rosali memang sangat tidak suka jika harus menunggu.
“Sekali lagi maaf. Oh ya ngomong ngomong kapan kamu pulang ke indonesia?”
Ekspresi Rosali langsung berubah. Wanita dengan dress yang lumayan sexy itu mengembangkan senyuman manis di bibirnya.
“Sekitar tiga hari yang lalu Devan.” Jawabnya.
Devan mengangguk anggukan kepalanya.
“Lalu bagaimana kabar om dan tante?” Tanya nya lagi sekedar basa basi.
“Mamah sama papah baik. Mereka juga katanya ingin sekali bertemu dengan kamu Devan.”
Devan tersenyum tipis.
“Salam saja ya buat mereka. Aku nggak bisa lagi ketemu sama mereka kayanya. Tau sendirilah bagaimana seorang istri kalau salah paham.”
Senyuman di bibir Rosali memudar mendengar apa yang Devan katakan. Rosali tau apa yang Devan maksud.
“Devan, memangnya kamu sudah melupakan aku?” Tanya Rosali dengan wajah sedih.
Sesaat Devan terdiam namun akhirnya kembali tersenyum tipis.
“Tentu saja tidak. Aku tidak melupakan kamu Rosali. Buktinya sekarang aku masih mengenali kamu kan? Cuma kan sekarang sudah nggak kaya dulu lagi. Dulu kita pacaran. Kalau sekarang kan hubungan kita sudah selesai. Aku juga sudah menikah dengan Lisa. Masa iya aku masih nemuin mamah sama papah kamu. Nanti yang ada malah bikin masalah lagi.” Jawab Devan menjelaskan.
Rosali mengepalkan kedua tangan-nya. Semuanya tidak sesuai yang Rosali pikirkan. Rosali pikir Devan akan kembali bersikap seperti dulu padanya.
“Ah ya, aku udah mau jalan kerumah sakit. Maaf banget ya nggak bisa lama lama. Aku duluan ya..”
Devan berlalu begitu saja tanpa menunggu respon dari Rosali. Devan benar benar tidak ingin sampai terlambat menemui Lisa. Devan juga ingin mengajak istri tercintanya itu untuk makan bersama siang ini.
Rosali yang awalnya sudah sangat bahagia saat melihat Devan, kini harus menelan rasa kecewa karena ternyata Devan sudah tidak lagi seperti dulu. Devan sudah melupakan-nya dan hanya perduli dengan Lisa. Bahkan Devan pergi begitu saja untuk menemui Lisa dan memilih untuk meninggalkan-nya yang jelas jelas sudah rela menunggu lama di lobi.
__ADS_1
“Devan sampai kapanpun kamu hanya boleh mencintai aku. Aku nggak rela kamu bahagia dengan Lisa. Kamu hanya boleh bahagia sama aku.” Batin Rosali terus menatap Devan yang melangkah menjauh menuju mobil mewahnya kemudian masuk kedalamnya dan berlalu dengan kecepatan diatas rata rata.
Rosali tidak pernah sedikitpun berpikir dulu jika Devan benar benar memuja Lisa. Apa lagi saat itu Lisa juga sudah memiliki Rian sebagai kekasihnya. Seluruh kampus juga tau bagaimana romantisnya hubungan Rian dan Lisa. Mereka selalu kemana mana berdua. Namun Rosali juga beberapa kali mendengar bahwa Devan kedapatan mencuri curi waktu mendekati Lisa saat Rian sedang tidak bersama Lisa. Rosali sedikitpun tidak pernah percaya dengan isu tersebut karena yang dia tau Devan hanya mencintainya.