Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 22


__ADS_3

Laona hendak bersiap untuk jadwal pemotretan saat tiba tiba ada seseorang yang menekan bel dari luar apartemen-nya.


Ya, sejak Lisa memberikan tanggapan serta klarifikasi tentang berita perselingkuhan-nya dengan Rian 6 bulan yang lalu, Laona memang sudah kembali merasa tenang. Meski awalnya Laona juga sempat tidak menerima klarifikasi Lisa yang seolah mengatakan bahwa dirinya memacari bekas adiknya itu. Tapi karena bujukan lembut sang mamah akhirnya Laona tidak mempermasalahkan. Yang terpenting baginya adalah karirnya terselamatkan. Dan namanya tetap baik di muka publik.


“Sani, apa kamu tidak mendengar suara bel?!” Seru Laona kesal pada asisten-nya.


Hening


Asisten yang memang tinggal bersamanya sama sekali tidak menyaut. Hal itu membuat Laona merasa sangat kesal.


“Dasar asisten tidak berguna.” Umpatnya kesal.


Laona keluar dari kamarnya dengan langkah lebar untuk membuka pintu utama apartemen-nya. Begitu dirinya membuka pintu, Laona terkejut mendapati Rian yang sudah berdiri didepan-nya.


“Rian..” Gumam Laona pelan. Ada rasa senang di hatinya karena mendapati mantan dari adiknya yang tiba tiba datang padanya.


“Kenapa? Kamu menyesal karena mengakhiri hubungan kita setelah Lisa tau? Kamu ingin kita seperti dulu lagi Rian?” Tanya Laona melipat kedua tangan-nya di bawah dada menatap Rian dengan senyuman yang tersungging di bibir berlipstiknya.


“Huh, jangan mimpi kamu Laona. Berhubungan dengan kamu adalah satu penyesalan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup aku. Aku kehilangan Lisa hanya karena memilih kamu yang tidak sebanding dengan Lisa.” Sinis Rian menatap Laona.


Laona tertawa mendengarnya. Mengambil apa yang Lisa miliki adalah keinginan terbesarnya. Laona memang sangat tidak suka pada adiknya itu. Laona selalu ingin bisa lebih hebat dari Lisa.


“Lalu untuk apa kamu datang kesini kalau tidak untuk memintaku memungut kamu Rian?”


Rian mengepalkan kedua tangan-nya. Awalnya Rian ingin meminta bantuan pada Laona untuk memisahkan Lisa dan Devan. Namun setelah mendengar klarifikasi Lisa tentang perselingkuhan-nya dan Laona dulu, Rian merasa enggan bekerja sama dengan Laona. Rian tau itu hanya akan membuat Lisa semakin menjauh darinya.


“Aku tau pasti kamu yang memaksa Lisa untuk memberikan klarifikasi itu kan? Kamu yang meminta Lisa untuk memberikan keterangan tidak benar itu pada publik?” Rian menatap tajam pada Laona yang malah tertawa karena tatapan tajamnya. Laona bahkan tidak terlihat takut sedikitpun padanya.

__ADS_1


“Kamu lucu sekali Rian. Kamu malu mengakui pernah punya hubungan gelap denganku. Tapi dulu hampir setiap malam kamu datang kesini mencari kehangatan diatas ranjangku.”


Rian menelan ludah dengan rahang mengetat. Rian sadar apa yang dilakukan-nya dulu salah. Rian mendekati bahkan berhubungan dengan Laona di belakang Lisa. Apa lagi hubungan-nya dengan Laona juga sudah sangat jauh dan bisa di katakan diluar batas.


“Diam kamu Laona. Itu hanya masa lalu. Dan asal kamu tau, aku sangat menyesal melakukan itu sama kamu.” Marah Rian menunjuk kasar wajah Laona dengan jari telunjuknya.


Laona menggelengkan kepalanya. Dengan santai dia menyingkirkan jari telunjuk Rian yang mengarah tepat didepan wajah cantiknya.


“Jangan keterlaluan Rian. Ingat saat kamu mengerang diatasku. Aku bahkan masih punya video nya. Kira kira bagaimana ekspresi Lisa kalau sampai dia tau apa saja yang dulu pernah kita berdua lakukan yah di belakangnya?”


Kedua tangan Rian semakin erat mengepal bahkan sampai buku buku jarinya memutih. Rian tidak pernah tau jika semuanya akan berakhir dengan begitu tidak menyenangkan karena kecerobohan-nya memilih Laona dulu dan meninggalkan Lisa.


“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Laona.” Ujar Rian dengan penekanan di setiap kalimatnya.


Tanpa keduanya ketahui seseorang sedang merekamnya diam diam. Dan begitu perdebatan antara Rian dan Laona usai, seorang tersebut langsung menghentikan merekamnya.


Laona kemudian menutup kembali pintu apartemen-nya. Wanita itu kembali masuk kedalam kamarnya dengan santai untuk berkemas karena sebentar lagi sudah harus berangkat ke tempat pemotretan.


“Maaf Laona, tadi saat kamu memanggilku, aku sudang berada di kamar mandi. Perutku sakit sekali.”


Laona memutar jengah kedua bola matanya. Model cantik dengan penampilan yang selalu terbuka itu kemudian langsung menyuruh sang asisten untuk membawa semua barang barang yang akan di butuhkan olehnya saat pemotretan nanti.


“Lain kali kalau sudah bosan kerja sama aku bilang aja.” Ketusnya.


“Tidak Laona, aku benar benar minta maaf.”


------------

__ADS_1


“Dokter sekali lagi terimakasih untuk semuanya. Saya dan putri saya sangat berhutang budi juga nyawa pada dokter.”


Lisa hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh pria baya yang tidak lain adalah orang tua Putri. Gadis yang dengan susah payah membanting tulang demi bisa membiayai pengobatan papahnya.


“Tidak perlu berlebihan pak. Saya hanya seorang dokter. Dan saya melakukan apa yang seharusnya memang saya lakukan. Bapak bisa di operasi dengan cepat juga karena usaha putri bapak. Dia sangat hebat. Dia tidak pernah putus asa dalam mengupayakan yang terbaik untuk bapak.” Ujar Lisa pada pasien-nya itu.


Pria baya itu menundukkan kepalanya lesu. Mengingat putrinya yang harus banting tulang sendiri diluar sana di usianya yang masih sangat belia membuatnya merasa sangat bersalah. Karena sebagai orang tua tunggal seharusnya dirinya lah yang berperan sebagai pencari nafkah untuk putri satu satunya itu.


“Saya memang tidak berguna dokter. Saya hanya menyusahkan putri saya.” Lirihnya menahan tangis.


Lisa diam. Dari perjuangan Putri, Lisa tau bagaimana berharganya sosok pria baya tersebut dalam hidup Putri. Dan Lisa berusaha mempermudah gadis belia itu dengan membiayai operasi papah Putri secara suka rela.


“Kesembuhan bapak adalah segalanya untuk Putri. Jadi saya harap bapak tidak menyalahkan diri bapak atas apa yang telah Tuhan gariskan sekarang. Sebentar lagi Putri datang pak, saya tinggal dulu dan hati hati di jalan pulang nanti.”


“Ya dokter.”


Lisa kemudian keluar dari ruang rawat pasien-nya yang memang sudah bisa pulang hari ini karena keadaan-nya yang semakin membaik.


Begitu masuk ke dalam ruangan-nya, Lisa berdecak. Devan sudah berada disana duduk dengan santai di kursi kerja Lisa. Pria itu bahkan sedang membuka buku besar milik Lisa.


“Bisa tidak kamu sopan sedikit Devan?” Tanya Lisa menahan amarah melihat tingkah suami berondongnya yang suka sekali seenaknya.


Devan yang sedang membaca buku besar milik Lisa langsung menegakkan kepalanya. Pria itu tersenyum lebar ketika mendapati Lisa yang sudah berdiri didepan pintu yang tertutup.


“Kamu sudah selesai?” Tanya nya yang sama sekali tidak mendapat jawaban dari Lisa.


Dengan antusias Devan kemudian mendekat pada Lisa.

__ADS_1


“Aku kangen kamu sayang..”


__ADS_2