
Beberapa kali Devan membolak balikkan tubuhnya karena tidak kunjung bisa memejamkan kedua matanya dengan tenang sampai malam larut. Devan bahkan juga menghela napas kasar berkali kali sambil menatap langit langit kamarnya dengan Lisa.
Lisa yang berada disamping Devan pun merasakan-nya. Itu cukup mengganggu Lisa sebenarnya. Tapi Lisa malas jika harus ribut dengan suami kekanak kanakan-nya itu.
Terakhir Devan mengubah posisinya menjadi terlentang. Pria itu menolehkan kepalanya menatap punggung Lisa dengan cahaya minim karna lampu yang memang sudah dimatikan.
Devan sedang berpura pura ngambek pada Lisa sebenarnya. Dia diam dan sama sekali tidak mengatakan hal apapun pada Lisa. Namun semua itu sepertinya sama sekali tidak diperdulikan Lisa. Lisa justru asik dengan dunianya sendiri tanpa sedikitpun ingin tau apa yang sedang Devan mau.
Devan tidak tahan sekarang. Dia benar benar merasa dia abaikan oleh istri dingin-nya itu.
Devan kemudian bangkit dari berbaringnya dan turun dari tempat tidur. Pria itu melangkah menuju saklar lampu dan kembali menyalakan lampu kamar mereka. Namun apa yang Devan lakukan masih saja tidak dihiraukan oleh Lisa.
“Lisa. Aku butuh penjelasan dari kamu !!” Ujar Devan dengan nada suara yang sedikit meninggi.
Bagaimana tidak kesal, aksi pura pura merajuknya sama sekali tidak membuat Lisa menatapnya.
Lisa menghela napas kemudian mengubah posisi tidur miringnya menjadi berbaring. Pelan pelan wanita dengan piyama warna maroon bahan satin itu bangkit mendudukan dirinya diatas tempat tidur.
“Penjelasan apa?” Tanyanya dengan ekspresi yang bahkan membuat Devan ingin sekali menangis. Lisa sepertinya sedikitpun tidak merasa bersalah sudah membohonginya tadi siang.
“Soal tadi siang.” Jawab Devan dengan tangan mengepal erat.
Lisa berdecak pelan. Wanita itu merasa sudah memberikan alasan yang pasti bisa dimengerti oleh seorang yang cerdas seperti Devan.
“Aku sudah bilang bukan? Aku tidak bisa pergi dari rumah sakit saat makan siang. Pasienku banyak dan beberapa dari mereka dalam keadaan gawat.” Katanya pelan.
Devan melengos. Jelas jelas mommy nya mengatakan melihat Lisa bersama seorang pria yang sangat Devan yakini itu adalah Rian, mantan kekasih Lisa dulu.
__ADS_1
“Kamu berbohong padaku Lisa. Tapi kamu bersikap seperti tidak tau apa apa.” Geleng Devan tidak menyangka.
Lisa menggeleng pelan. Suaminya memang kadang bertingkah sangat ajaib. Seperti sekarang misalnya. Siang tadi Devan sepertinya biasa saja dan masih bersikap manis dengan mengiriminya bunga serta kartu ucapan. Tapi tadi saat pulang Devan tiba tiba begitu cuek dan sama sekali tidak menyapanya.
Lisa yang memang merasa tidak membuat kesalahan apapun merasa tidak terganggu sedikitpun dengan sikap suaminya itu.
“Terserah kamu mau percaya atau enggak. Aku sudah mengatakan apa adanya. Sekarang tolong kamu jangan menggangguku. Aku capek dan aku ngantuk mau istirahat.” Kata Lisa kemudian kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi miring.
Devan mendelik. Devan tidak terima diabaikan sekarang. Sudah dibohongi lalu diabaikan begitu saja. Benar benar sangat malang.
“Lisa aku tidak akan berhenti bertanya sebelum kamu jujur yang sejujur jujurnya sama aku. Oke aku tau aku yang mencintai kamu. Aku bahkan jauh lebih muda dari kamu. Aku yang datang sendiri melamar kemudian menikahi kamu. Tapi aku suami kamu. Aku berhak tau kemana dan dengan siapa kamu pergi Lisa.” Tegas Devan dengan tatapan tajam pada Lisa.
Lisa memutar jengah kedua bola matanya. Enggan meladeni suaminya yang sedang memancing keributan dengan-nya. Lisa bukan tidak menghargai Devan sebagai suaminya. Tapi Lisa benar benar tidak berbohong apapun pada Devan.
“Lisa aku lagi ngomong sama kamu..” Tekan Devan mulai geram.
Mendapat tatapan seperti itu dari Lisa, Devan sedikit terkejut. Namun Devan tidak ingin menyerah. Devan merasa harus tetap bertahan agar Lisa mau jujur padanya tentang tadi siang.
“Apa mau kamu sebenarnya Devan? Aku sudah jelaskan alasan aku tidak bisa menerima ajakan makan siang kamu.”
Suara Lisa begitu dingin di telinga Devan. Itu menandakan Lisa sedang marah sekarang.
“Kamu bohong tentang semua alasan itu. Buktinya mommy melihat kamu sedang makan siang bersama Rian direstoran yang tidak jauh dari rumah sakit.”
Siapapun yang mendengar ataupun melihat perdebatan mereka pasti tertawa. Bagaimana tidak? Devan yang terkenal berwibawa juga mempunyai kecerdasan tinggi itu terlihat seperti seorang gadis labil yang sedang menuntut kejujuran pada kekasihnya sekarang.
“Mommy nggak mungkin bohong sama aku Lisa. Mommy tau bagaimana aku sangat mencintai kamu. Ya.. Walaupun kamu selalu bilang tidak, maksud aku belum mencintai aku tapi setidaknya tolong hargai aku sebagai suami kamu.”
__ADS_1
Lisa memejamkan kedua matanya sebentar kemudian turun dari ranjang dan melangkah menghampiri Devan yang masih berdiri tepat didepan pintu kamar mereka.
“Dengar ya Devan. Aku memang tadi siang makan siang dengan laki laki. Tapi itu bukan Rian. Dia adalah dokter Fandy. Dan lagi, aku makan siang itu 15 menit sebelum memasuki waktu kerja aku kembali. Aku yakin mommy kamu nggak bilang bahwa aku makan siang dengan Rian.Toh mommy juga nggak tau siapa Rian. Rian itu hanya alasan kekanak kanakan kamu untuk mengajak aku berdebat kan?”
Meskipun marah tapi Lisa tetap berusaha untuk tenang. Lisa tidak mau menuruti hawa nafsunya dengan melampiaskan amarahnya dan berteriak sehingga penghuni rumahnya tau bahwa dirinya dan Devan sedang dalam perdebatan.
“Aku bukan perempuan yang suka menjilat ludahku sendiri Devan. Aku tidak bodoh.” Tekan Lisa kemudian.
Seketika Devan gelagapan. Devan merasa sangat malu karna sudah salah menilai istrinya sendiri. Parahnya Devan bahkan sampai berburuk sangka pada Lisa padahal memang mommy nya tidak mengatakan bahwa Lisa bersama Rian siang tadi.
“Eemm.. Be begitu yah? Jadi aku salah paham yah...”
Devan benar benar seperti pria autis sekarang. Dia terlihat sangat bodoh bahkan idiot didepan Lisa sekarang. Kesalah pahaman membuatnya seperti gadis labil tadi dan seakan menghilangkan wibawanya sebagai seorang pengusaha.
“Ma maaf sayang...”
Devan menunduk menyesal. Seharusnya dirinya menanyakan baik baik dulu tadi pada Lisa. Seharusnya dirinya tidak langsung meninggikan suaranya saat menanyakan hal tersebut pada Lisa.
Lisa melengos kesal. Ingin sekali Lisa meremat wajah tampan suami berondongnya itu sekarang.
“Sudahlah. Aku ngantuk.” Ketus Lisa kemudian memutar tubuhnya hendak melangkah menjauh dari Devan.
Namun sebelum kakinya melangkah Devan sudah lebih dulu memeluk tubuh Lisa dari belakang membuat Lisa tidak bisa bergerak menjauh dari pria itu.
“Aku tau aku salah sayang.. Aku sudah menilai kamu buruk. Aku bahkan berbicara dengan nada tinggi sama kamu tadi. Aku sangat menyesal. Dan yah... Aku minta maaf, sangat sangat minta maaf..”
Lisa menghela napas kesal. Devan selalu saja menguji kesabaran-nya.
__ADS_1