Menikah Dengan Pria Lumpuh

Menikah Dengan Pria Lumpuh
11


__ADS_3

Terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah Sella. Para pelayan langsung berbaris dan menyambut kepulangan Tuan mereka.


"Selamat datang Tuan" Sapa mereka.


"Di mana dia?" Tanya William yang menanyakan keberadaan Sella.


"Nyonya ada di dalam kamar Tuan"


Tanpa basa-basi lagi, Haiden membawa William ke depan kamar nya.


"Pergilah" Ucap William.


"Baik Tuan"


Haiden turun ke lantai bawah.


William membuka pintu kamar mereka. Ia masuk, lalu menutup nya kembali. William melihat Sella sedang berbaring di atas kasur dengan rambut basah. Ia membuka laci, lalu mengambil hair dryer. William naik ke atas ranjang, lalu mengeringkan rambut Sella.


Sella terbangun, "William?"


"Sebelum tidur, keringkan dulu rambut mu"


"Ya aku tau" Jawab Sella yang memejamkan mata nya kembali.


Setelah selesai mengeringkan rambut Sella, William meletakkan hair dryer di atas meja samping nya. Kemudian ia memindahkan Sella ke posisi biasa tidur. William melemparkan boneka Sella ke atas sofa. Setelah itu ia menarik selimut dan berbaring di samping Sella.


"Kau beruntung bisa sedekat ini dengan ku" Bisik William, lalu memeluk Sella.


...***...


3 hari kemudian


"Mama dan Papa tidak usah datang ke sini. Beberapa hari lagi Luna pulang, janji" Ucap Luna di telepon.


Hal yang paling tidak di sukai Luna adalah ketika dia sedang berbelanja, tapi ada aja orang yang terus menelepon nya.


"Sudah dulu ya Ma, Luna lagi ada urusan" Ucap Luna, lalu mematikan telepon.


Saat keluar dari supermarket, Luna melihat banyak orang yang memakai pakaian hitam. Orang itu menatap Luna dengan tatapan aneh. Luna kebingungan, lalu berjalan meninggalkan orang itu.


"Ya itu orang nya" Ucap seseorang dari dalam telepon.


Luna menoleh kebelakang. Luna melihat orang-orang itu mulai mengejar nya. Luna berlari dengan kencang, ia tidak mau sampai tertangkap.


Saat Luna menoleh ke belakang, ia merasakan ada sesuatu di depan nya. Ia mulai memperlambat lari nya dan kemudian berhenti. Luna tidak tau lagi mau lari kemana. Ia sudah di kepung.


"Siapa kalian??!!" Ucap Luna.


"Bawa dia" Ucap pimpinan mereka.


"Baik bos"


"Kami tidak akan menyakiti anda, jangan takut" Ucap mereka, lalu membius Luna dari belakang.


"Sial" Batin Luna, lalu ia pingsan.


Mereka memasukkan Luna ke dalam mobil.


"Tuan, misi selesai"


"Bawa dia"


"Baik Tuan"


Beberapa jam kemudian Luna kembali sadar. Ia memegang kepala nya yang sedikit sakit. Ia melihat sekeliling tidak ada orang. Ia bingung dimana dia berada.


Luna duduk di atas ranjang dengan menggunakan selimut.


"Cuaca benar-benar dingin. Aku tidak bisa kabur kalau begini" Ucap Luna.


"Kamu mau kabur sayang?" Tanya seorang pria yang baru saja masuk dari pintu.


Luna menoleh ke arah pintu.


"Siapa kau?" Tanya Luna waspada.


Pria itu berjalan mendekati Luna sambil membawa makanan di tangan nya. Ia meletakkan makanan itu di atas meja, lalu mendekati Luna ke atas ranjang.


"Jangan mendekat!" Ucap Luna kepada pria itu.

__ADS_1


"Kenapa tidak boleh? Kamu milikku sayang" Jawab nya lalu menarik tangan Luna.


Luna kini berada di pelukan pria itu.


"Lepaskan! Aku sudah punya tunangan!!" Ucap Luna marah.


Pria itu tertawa. "Cuaca dingin kan? Kalau aku melepaskan mu kau akan kedinginan"


"Aku tidak peduli! Aku bilang aku sudah punya tunangan!!" Ucap Luna yang berusaha melepaskan diri dari pria itu.


Pria itu mengeluarkan sesuatu dari kantong nya.


"Kau tau ini?" Tanya nya sambil menunjukkan cincin kepada Luna.


Luna melihat cincin itu. Ia benar-benar terkejut.


"Jadi kau sudah mengerti sekarang?" Tanya pria itu.


"Lalu kenapa kalau kau tunangan ku? Apa kau berhak menculik dan memeluk ku seperti ini?" Ucap Luna.


Pria itu mengangkat tangan kiri Luna. Ia memasukkan cincin ke jari tengah Luna.


"Sebentar lagi kita akan menikah, jangan di lepas" Ucap pria itu.


"Aku tidak tau siapa nama mu, mau kah kau memberi tau ku?" Ucap Luna yang sudah terlepas dari pelukan pria itu.


"Nama ku Verdianto Volker" Jawab nya.


"Luna Roux" Ucap Luna sambil menjulurkan tangan nya.


Verdianto memegang tangan Luna, lalu menarik Luna ke pelukan nya.


"Tidak mungkin aku tidak tau nama tunangan ku" Ucap Verdianto.


"Sayang kamu minum susu dulu, kasihan badan kamu sudah lemas" Ucap Verdianto kepada Luna.


"Tidak usah sok peduli!" Ucap Luna.


"Kalau kamu tidak minum, akan aku laporkan kepada orang tua kamu"


"Ancaman kamu hebat ya" Ucap Luna lalu mengambil gelas susu dari tangan Verdianto.


"Minumlah sayang" Jawab Verdianto.


"Kenapa kau memaksa ku meminum nya? Apa ada racun di dalam?!"


"Tidak mungkin aku meracuni tunangan ku sendiri"


Kebetulan Luna sedang haus, ia meminum susu itu sampai habis.


"Kenapa rasanya tidak seperti susu?" Tanya Luna curiga.


"Karena itu di buat khusus untuk kamu" Jawab Verdianto.


"Aku tidak mengerti apa maksud mu"


Verdianto membisikkan sesuatu kepada Luna.


"Jadi ini?!! Aaaa aku tidak mau lagi minum susu putih! Kau memang brengsek!!!" Ucap Luna dengan wajah merah.


"Haha tidak perlu malu sayang" Ucap Verdianto seolah-olah mengejek Luna.


Luna kesal sampai-sampai memukul Verdianto.


"Hahaha sudah, sudah, aku minta maaf" Ucap Verdianto.


"Aku hanya bercanda, itu susu, benaran susu"


"Aku tidak mempercayai mu!" Ucap Luna dengan kesal.


"Bagaimana cara nya agar kamu bisa mempercayai ku?" Tanya Verdianto sambil mengangkat kedua alisnya.


"Cara nya cukup mudah. Kamu membebaskan aku dari sini, kemudian kamu pulang ke tempat asal kamu. Katakan pada orangtua ku kalau aku selingkuh dari mu, aku mencacimaki kamu, dan mencampakkan kamu. Lantas pernikahan kita akan di batalkan bukan? Ini lah satu-satunya cara agar aku bisa mempercayai kamu" Ucap Luna.


"Tanpa melakukan itu, aku juga bisa membuat mu percaya kepada ku" Ucap Verdianto dengan tatapan tajam kepada Luna.


"Kamu tau aku kan? Aku tidak takut kepada siapapun, termasuk kamu. Kamu tidak usah sok kejam kepada saya. Ingat saja, saya tidak akan peduli!" Ucap Luna dengan senyum sinis nya.


"Heh, baik aku setuju kalau kamu membatalkan pernihakan kita. Tapi ingat, keadaan keluarga kamu ada di tangan ku" Ucap Verdianto lalu berdiri dari kasur.

__ADS_1


"Kau mengancam ku? Aku ingat kan kau, jangan menyentuh keluarga ku!" Ucap Luna.


Verdianto berhenti melangkah.


"Kalau kau tidak ingin itu terjadi, terimalah pernikahan ini" Ucap Verdianto lalu keluar dari kamar.


"Cih. Dia pikir aku takut pada nya?" Ucap Luna sambil memutar kedua bola matanya.


"Jangan biarkan dia keluar!" Perintah Verdianto kepada pengawal-pengawalnya.


"Baik Tuan"


Mereka berbagi tugas. Ada yang berjaga di pintu kamar Luna, pintu belakang, dan di bawah. Intinya, setiap sudut ruangan ada pengawal yang menjaga nya.


3 jam kemudian


Luna sudah tidak betah di dalam kamar. Ia bosan hanya baring-baring dan menyelimuti diri nya dengan selimut. Luna tidak bisa memberitahu Sella untuk menyelamatkan nya, karena handphone nya di pegang Verdianto.


"Buka pintu nya atau aku akan keluar dari jendela?!" Ucap Luna dengan nada marah.


"Hei! Aku mau pulang! Kalian tidak berhak untuk mengurung ku!" Ucap Luna sambil mengetuk pintu.


"Ck! Baiklah aku akan keluar dari jendela!" Ucap Luna dengan suara kecil.


"Dia tidak bersuara lagi, apa kita perlu mengecek nya?"


"Ini trik yang mudah di tebak, jangan sampai tertipu"


"Baik"


Beberapa saat kemudian, Luna sudah selesai mengatur rencana nya untuk keluar dari jendela kamar. Ia sudah mempersiapkan tali dan alat lain untuk turun ke bawah.


"Selamat tinggal semua. Kalian tidak bisa menghentikan ku" Ucap Luna, lalu turun ke bawah.


Saat sampai di pertengahan dinding, Luna mendengar Verdianto sedang bertelepon dengan seseorang. Ia berhenti sejenak dan menguping.


"Aku sudah menemukan Luna. Sebentar lagi aku akan membawa nya pulang untuk menyelenggarakan pernihakan kami" Ucap Verdianto di telepon.


"Aku tidak akan menikahi orang seperti kamu! Pria brengsek!" Batin Luna.


Luna melanjutkan turun ke bawah.


"Akhirnya sampai juga" Ucap Luna.


Luna melihat pintu gerbang terbuka. Ia berjalan dengan santai agar tidak di curigai.


Setelah ia berhasil melewati pintu gerbang, ia sedikit curiga kenapa tidak ada pengawal yang mengejar nya. Luna berhenti di tempat ia berdiri, lalu melihat sekelilingnya.


"Aneh, apa ini memang jalan keluar ya? Kok terlihat seperti taman?" Tanya Luna pada dirinya sendiri.


"Masa sih aku harus jalan melewati taman ini. Tidak mungkin kan jalan keluar nya jauh?"


"Atau jangan-jangan ini jebakan?"


Luna berusaha berfikir positif.


"Kelilingi aja dulu mungkin ya?"


Dengan percaya diri, Luna akhirnya mengikuti jalan yang ada di tempat itu.


Masih 15 menit berjalan, tiba-tiba petir menyambar dengan kuat. Angin menjadi kencang, rintik-rintik hujan mulai turun.


"Hah ini serius? Aku harus kemana?" Tanya Luna pada dirinya sendiri.


"Astaga!! Kok sial banget sih! Tempat singgah juga tidak ada!"


Karena hujan dan angin yang kencang, Luna menjadi kedinginan. Ia menyilangkan tangan nya, lalu tetap berjalan ke depan untuk mencari jalan keluar.


Saat Luna benar-benar sudah kedinginan, ia tidak sanggup lagi untuk berjalan. Luna kelelahan dan akhirnya terjatuh.


Untung saja Luna tidak terjatuh ke atas tanah yang di atas nya ada batu, untung saja ada seseorang yang menangkap dia.


"Kamu tersesat sayang?" Tanya nya.


Luna mendengar suara itu seperti suara pria. Pandangan nya kabur, ia tidak bisa melihat dengan jelas.


Pria itu menggendong Luna, lalu membawa nya kembali.


"Payungi" Ucap nya kepada pengawal yang di bawa nya.

__ADS_1


"Baik Tuan Verdianto"


__ADS_2