
Marvin di undang bertamu ke rumah William dan Sella. Marvin sangat senang mendapat undangan itu, ia berpikir kalau itu adalah kesempatan bagus untuk membicarakan tentang bisnis.
Setelah Marvin sampai di rumah William dan Sella, ia masuk dengan sembarangan dan duduk tanpa di izinkan.
"Eh kau, buatkan kopi untuk ku" Suruh Marvin kepada pelayan.
Pelayan itu hening sejenak, ia heran kenapa ada orang asing yang berani menyuruh dia dengan agak kasar.
"Dengar tidak?!" Tanya Marvin dengan nada marah.
"Baiklah, tunggu sebentar" Jawab pelayan itu.
Tak lama kemudian Sella dan William keluar dari dalam lift. Mereka berjalan ke ruang tamu dan memberi senyuman kepada Marvin.
"Akhirnya datang juga" Ucap Marvin.
"Maaf sudah membuat Papa menunggu lama" Ucap Sella.
"Maaf mengganggu Tuan dan Nyonya. Ini kopi anda" Ucap pelayan itu sambil memberi kopi Marvin.
Sella heran kenapa Marvin meminta kopi.
"Pa, Sella mau nanyak"
"Ya tanyakan saja" Jawab Marvin dengan baik-baik.
"Apa kita sudah pernah melakukan tes DNA?" Tanya Sella.
Marvin yang mendengar omongan Sella langsung merubah raut wajah nya.
"Untuk apa kamu menanyakan hal itu?" Tanya Marvin tak suka.
__ADS_1
"Anda jangan marah dulu, kami hanya bertanya" Ucap William.
"Saya tidak marah kok Nak" Ucap Marvin dengan baik-baik.
"Cepat sekali berubah nya" Batin Sella.
"Saya mau anda dan Sella melakukan tes DNA hari ini" Ucap William.
"Untuk apa melakukan tes DNA? Apa kalian curiga aku bukan Papa nya?" Ucap Marvin.
"Kalau anda bersedia melakukan tes DNA, saya berjanji perusahaan anda akan bekerjasama dengan perusahaan saya" Ucap William.
"Hm ini kesempatan yang bagus. Tapi kalau hasil nya tidak memuaskan, bagaimana? Ah tidak masalah, yang penting dia sudah berjanji" Batin Marvin.
"Baik, aku setuju" Ucap Marvin.
"Tapi kalau hasil nya tidak memuaskan, perjanjian di batalkan" Batin William.
Mereka melakukan tes DNA.
Beberapa saat kemudian hasil nya sudah keluar. Sella dan William penasaran dengan hasil nya. Mereka membuka hasilnya, kemudian membaca dengan teliti.
Sella benar-benar tidak menyangka hasil nya seperti itu. Pantas saja dia selalu di perlakukan dengan kejam. Sella menahan air mata nya yang hendak keluar. Di hadapan Marvin ia harus tetap kuat.
"Tepati janji mu" Ucap Marvin yang tak sabaran.
"Bawa dia keluar!" Suruh William kepada Haiden.
"Baik Tuan"
"Apa?! Apa yang kau lakukan?! Aku sudah melakukan yang kau minta! Sekarang tepati janji mu!" Ucap Marvin.
__ADS_1
Haiden tak memperdulikan omongan Marvin. Ia membawa paksa Marvin keluar dari rumah William.
"Hiks, hiks, hiks" Sella menangis.
William menarik pelan Sella untuk duduk di pangkuan nya.
"Jangan menangis sayang" Ucap William sambil menghapus air mata Sella.
"Aku hanya anak yatim-piatu, aku tidak punya orangtua, aku bukan anak dari keluarga Alexander, hiks. Aku tidak punya siapa-siapa" Ucap Sella dengan air mata yang terus mengalir.
"Tidak sayang, saya itu punya kamu. Saya disini bersama kamu" Ucap William.
"William!!"
William memeluk Sella. "Kamu tidak sendirian"
"Aku mau mencabut nama dari kartu keluarga mereka, kamu bisa bantu kan?"
"Ya, tentu saja"
"Aku juga mau mencabut marga, aku bukan marga Alexander" Ucap Sella.
"Abigail Grisella saja?"
"Ya, itu sudah cukup" Jawab Sella yang berusaha menghentikan air mata nya.
"Jangan menangis lagi" Ucap William.
"Ya" Jawab Sella yang memeluk William kembali.
"Apa kalung ini adalah petunjuk? Apa aku bisa menemukan siapa orangtua ku yang sebenarnya? Tidak masalah kalau orangtua ku sudah meninggal, yang penting aku mengetahui siapa orang tua kandung ku. Aku rasa Mama adalah Mama kandung ku, aku tinggal mencari siapa Papa kandung ku" Batin Sella.
__ADS_1