
"Sella, ini malam pertama kamu, aku harap malam pertama kamu berjalan dengan lancar" Ucap Luna kepada Sella.
"Aku takut" Ucap Sella dengan sedikit gemetar.
"Tidak apa-apa Sella, dia tidak akan menyakiti mu" Ucap Luna menenangkan sahabat nya.
"Nyonya Sella, ayo berangkat" Ucap supir kepada Sella.
"Aku pergi dulu. Sampai ketemu di lain waktu Luna" Ucap Sella lalu masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati Sella" Ucap Luna dengan senyuman nya.
Suasana di dalam mobil hening. Sella dan William tidak ada cakapan sedikit pun.
Sella selalu menatap pemandangan dari jendela mobil. Ada tempat yang sangat cantik, ia ingin berhenti dan berfoto, tapi Sella tidak berani untuk berbicara.
William sadar kalau Sella melihat tempat itu. Ia tidak menyuruh supir untuk berhenti. Ia membiarkan Sella menikmati pemandangan tempat itu.
"Tuan dan Nyonya, seperti nya kita akan lama sampai. Di depan ada macat panjang"
"Tidak ada jalan pintas?" Tanya William.
"Tidak ada Tuan"
Sella menghela nafas nya. Ia benar-benar tidak menyangka akan ada macat panjang. Jujur saja ia sudah lelah untuk hari ini, ia ingin cepat-cepat berbaring di kasur.
Setelah sekian lama berada di dalam mobil, akhirnya mereka sampai.
Sella membantu William duduk di kursi roda nya dan mendorong nya ke dalam rumah.
Untung saja rumah William mempunyai lift, jadi Sella tidak terlalu lelah membantu William menaiki tangga.
Saat sampai di kamar, William mengunci pintu kamar mereka. Ia menyuruh Sella untuk membantu dia melepas jas nya.
Tubuh Sella dan William kini berdekatan. Sella dapat merasakan detak jantung William.
Setelah itu, William menyuruh Sella membantunya naik ke atas ranjang.
"Buka pakaian mu" Ucap William kepada Sella.
Sella melotot, "Aku lelah, aku tidak mau melakukan nya" Jawab Sella sambil memutar kedua bola matanya.
William menarik tangan Sella dan akhirnya Sella terjatuh di atas ranjang.
"Aku bilang aku tidak mau!" Ucap Sella dengan nada marah.
"Buka sendiri atau saya yang buka?" Ucap William.
Sella mendorong William dengan pelan. Ia duduk di atas ranjang, lalu membuka pakaian nya.
"Berbalik dan berbaringlah" Ucap William kepada Sella.
"Maksud mu tengkurap?" Tanya Sella.
"Yaa" Jawab William sambil mengambil sesuatu di laci meja samping nya.
William menutup setengah tubuh bawah Sella dengan selimut. Ia membuka sesuatu, lalu mengoles kan nya ke punggung Sella.
"Aaww. Apa yang kau lakukan?" Tanya Sella yang menahan rasa sakitnya.
"Mengoles obat" Jawab William.
"Oh" Ucap Sella dengan wajah merah.
"Makanya kamu jangan langsung salah paham" Ucap William yang fokus mengoles obat ke punggung Sella.
"Ya maaf" Jawab Sella.
"Sepertinya kau sudah lupa, istri ku" Ucap William yang mengingatkan Sella tentang sesuatu.
"Aku terlalu lelah untuk mengingat nya, su-suami ku" Ucap Sella dengan tidak pede.
"Kau tidak jadi menaruh boneka mu?"
"Masih di luar, besok aku akan mengatur nya" Jawab Sella yang mulai mengantuk.
"Tidurlah" Ucap William.
__ADS_1
"Bagaimana dengan badan ku?"
"Aku akan mengurus nya, aku tidak akan menyentuh mu"
"Hem pegang kata-kata mu. Good night" Ucap Sella lalu menutup matanya.
20 menit kemudian, William selesai mengoles obat Sella. Ia menyimpan obat itu, lalu berbaring di samping Sella.
Tepat pukul 06.30 pagi, Sella terbangun dari tidur nya. Ia terkejut melihat seorang pria berbaring di sampingnya. Ia menahan teriakan nya dengan menutup mulut nya.
Sella menyadari kalau itu William. Ia mendekati William, lalu mengelus wajah William.
"Ternyata dia tampan. Pantas saja dulu banyak wanita yang menyukai nya" Batin Sella.
William merasakan ada sesuatu yang menyentuh wajah nya. Ia memegang benda itu dengan tangan nya, lalu membuka matanya.
Sella tiba-tiba menjadi patung, ia takut William akan marah.
"Ternyata kamu" Ucap William dengan suara berat nya.
"Suara nya bisa membuat ku gila" Batin Sella dengan wajah merah.
"Tangan mu hangat" Ucap William sambil mengelus wajah nya dengan tangan Sella.
"Istri ku, kenapa kau tidak berbicara?"
Sella kembali tersadar.
"Pa-pagi" Ucap Sella.
William melepaskan tangan Sella, lalu mengelus bibir Sella. Mata William tertuju ke bibir Sella.
"Pagi sayang" Jawab William, lalu mencium bibir Sella.
"Uhmm" Sella mendorong William karena sesak.
William melepas ciuman mereka.
"Kau tidak tau berciuman?"
Sella menggeleng.
"Itu, nafas ku bau, aku belum mandi" Ucap Sella dengan malu.
"Kebetulan saya juga. Bagaimana kalau bersama?" Ucap William.
"Aku tidak keberatan" Jawab Sella.
Sella membantu William duduk di kursi roda, lalu membawa nya ke kamar mandi.
Setelah mereka selesai membersihkan gigi, Sella membantu William membuka seluruh pakaian nya, setelah itu Sella memasukkan William ke dalam bathtub.
"Tidak perlu malu-malu, kita sudah menikah" Ucap William.
"Aku malu karena belum terbiasa" Jawab Sella dengan wajah merah.
"Biar adil, buka juga pakaian mu, atau kamu mau aku bantu buka kan?" Ucap William dengan senyuman yang sulit di artikan.
"Aku bisa buka sendiri! Tolong jangan tunjukkan senyuman mu itu!" Ucap Sella, lalu membuka pakaian nya.
Setelah itu, Sella membantu William mandi. Ia menggosok badan William dengan kuat. William bukan nya kesakitan, malah keenakan.
"Aku juga mau memandikan mu istri ku" Ucap William.
"Aku bisa mandi sendiri!" Jawab Sella.
William menahan tangan Sella.
"Masuk sendiri atau aku tarik?"
Dengan terpaksa, Sella masuk ke dalam bathtub.
William senang, ia mulai memandikan Sella.
"Hei, kau memegang bagian yang mana?!" Ucap Sella kegelian.
"Bagian yang paling di sukai pria sayang" Jawab William.
__ADS_1
"Kau! Aku tidak menyentuh punya mu! Tolong jangan begini"
William memindahkan tangan Sella ke atas punya nya.
"Sekarang kau sudah menyentuh nya" Bisik William.
"Tolong jangan begini. Kita sekarang mandi saja ya? Aku mohon" Ucap Sella.
William melepas tangan nya. Ia kini memandikan Sella dengan serius.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Sella dan William turun ke bawah untuk sarapan.
Sarapan sudah di siapkan oleh bibi pelayan. Bibi pelayan sudah lama bekerja di kediaman Dirgantara.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya" Sapa mereka.
William melihat Haiden ada di dapur.
"Haiden?" Panggil William.
"Ya Tuan?"
"Kenapa kamu bekerja disini?"
"Nyonya dan Tuan besar yang memindahkan saya Tuan. Kata mereka, pelayan di rumah mereka sudah terlalu banyak, jadi mereka memindahkan sebagian ke sini" Jawab Haiden.
"Oh, jadi kalian yang akan mengurus rumah?" Tanya William.
"Ya Tuan"
"Ya sudah, pergilah"
"Baik Tuan" Ucap Haiden, lalu melanjutkan pekerjaan nya di dapur.
"Lalu William, aku melakukan apa?" Tanya Sella kebingungan.
"Tidak melakukan apa-apa, hanya menuruti perintah suami"
"Maaf William, kalau perkataan mu tidak baik, aku tidak akan menuruti nya" Ucap Sella.
"Ya, bagus"
Setelah selesai sarapan, William mengajak Sella untuk berkeliling taman. Taman di rumah William sangat cantik dan luas, Sella sangat menyukai nya.
"Kamu mau melukis?" Tanya Sella kepada suami nya.
"Ya"
"Boleh aku menemani mu?"
"Sangat senang bisa di temani oleh mu" Jawab William yang memulai lukisan nya.
Sella tidak menjawab William, ia tidak mau mengganggu konsentrasi William.
Beberapa saat kemudian, lukisan William sudah selesai. Sella terkejut dengan lukisan itu, ia sedikit kecewa pada William.
"Apa itu?" Tanya Sella.
"Ini kamu yang sedang mandi" Jawab William tanpa merasa bersalah.
"Tidak bisakah kau menambah pakaian nya sedikit? Itu sangat memalukan" Ucap Sella.
"Mandi tidak mungkin memakai pakaian. Lagi pula kamu lebih cantik tidak memakai pakaian" Jawab William.
"Jadi maksud kamu, aku tidak memakai pakaian di depan orang lain?"
William mendudukkan Sella di atas paha nya.
"Selain di kamar, jangan pernah memakai pakaian yang terbuka. Kamu mengerti kan maksud saya?"
"Aku mengerti" Jawab Sella.
William mengangkat dagu Sella, lalu mencium bibir Sella.
Haiden memperhatikan mereka dari jauh. Ia hanya bisa menghela nafas dan tersenyum.
"Akting Tuan sangat bagus. Suatu saat dia akan membuat Nyonya Sella kecewa"
__ADS_1
"Seharusnya Tuan tidak memperlakukan Nyonya Sella seperti itu. Lama-kelamaan Nyonya Sella akan menyukai Tuan"
"Seharusnya Tuan tidak memberi Nyonya Sella harapan yang berlebihan" Ucap Haiden kepada dirinya sendiri.