Menikah Dengan Pria Lumpuh

Menikah Dengan Pria Lumpuh
12


__ADS_3

Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya Luna bangun dari tidur nya. Ia memegang kepala nya yang benar-benar sakit. Ia merasakan seluruh tubuhnya panas. Mungkin Luna demam.


"Sudah bangun?" Tanya Verdianto kepada Luna.


"Kepalaku sakit" Ucap Luna yang hampir menangis.


Verdianto yang duduk di atas ranjang membantu Luna untuk duduk.


"Minum dulu" Ucap Verdianto kepada Luna.


Luna meminum air yang di berikan oleh Verdianto.


"Kamu demam, kamu istirahat saja disini, jangan pergi kemana-mana!"


"A-aku tidak mau sendiri" Ucap Luna sambil menarik lengan baju Verdianto.


"Ternyata kamu mempunyai sisi manja seperti ini" Ucap Verdianto sambil mengelus kepala Luna.


Luna memeluk Verdianto. Ia menyandarkan kepalanya di dada Verdianto.


"Kepalaku sakit" Ucap Luna dengan lemas.


Verdianto mengangkat tangan nya, lalu memijat kepada Luna.


"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Verdianto kepada Luna.


"Emm, Ma, aku belum bersedia menikah sekarang"


"Luna?" Panggil Verdianto.


"Ya Luna akan menikah sama dia, tapi jangan sekarang ya? Luna mohon"


"Luna?" Ucap Verdianto dengan tatapan sedih.

__ADS_1


"Emmm" Luna mengeluarkan air mata.


Verdianto mengambil tisu, lalu menghapus air mata Luna. Ia membaringkan Luna di atas kasur, lalu mencium kening Luna.


"Kalau kamu memang tidak menginginkan pernihakan ini, aku akan membatalkan nya. Aku tidak akan memaksa kamu untuk menjadi milik ku"


"Walaupun aku sudah menyukai mu selama bertahun-tahun, bukan berarti aku harus memiliki mu, kan?"


"Pergilah Luna, mungkin kamu menyukai seseorang, tapi orang itu bukan saya. Kalau dia tidak menghargai kamu, lihat lah kebelakang, masih ada saya yang menunggu kamu"


"Saya akan menunggu kamu sampai menikah, setelah itu saya akan mencari wanita lain"


"Tidak mungkin kamu tidak menikah kan Luna?"


Verdianto mencium bibir Luna sekilas, lalu hendak turun dari ranjang.


Luna menarik baju bagian belakang Verdianto.


"Ja-jangan pergi"


Verdianto kembali duduk di samping Luna.


"Aku disini, aku tidak pergi" Ucap Verdianto sambil menghapus air mata Luna.


"Jangan pergi, aku mohon jangan pergi. A-aku menyukai mu"


Verdianto tersenyum.


"Kamu menyukai siapa?"


Luna tidak menjawab Verdianto lagi. Ia hanya memegang baju Verdianto agar Verdianto tidak meninggalkan Luna sendirian.


Malam hari pukul 19.00

__ADS_1


Verdianto membawa makan malam Luna ke dalam kamar. Ia membantu Luna duduk dan menyuapi Luna makan. Verdianto tidak merasa lelah mengurus Luna seharian.


"Hei apa aku tadi berbicara aneh-aneh?" Tanya Luna yang mulai pulih.


"Tidak" Jawab Verdianto.


"He benarkah?" Ucap Luna tak percaya.


"Saya tidak tau!" Jawab Verdianto.


"Kau pasti berbohong!" Ucap Luna yang mendekati wajah Verdianto.


Tubuh Verdianto tidak seimbang, ia meletakkan piring ke atas meja, lalu menarik tangan Luna agar mereka jatuh bersama-sama.


"Aaa!" Ucap Luna.


"Sssttt, Lu-Luna" Ucap Verdianto yang merasa tidak nyaman.


Wajah Luna memerah, ia mengangkat tangan kiri nya dari atas punya Verdianto. Luna cepat-cepat duduk kembali di atas kasur.


"Aaa maaf" Ucap Luna lalu menutup punya Verdianto yang berdiri memakai bantal.


Verdianto duduk di depan Luna.


"Terimakasih bantal nya" Ucap Verdianto kepada Luna.


"Ih apaan sih! Aku masih lapar! Cepat suap aku!" Ucap Luna untuk mengubah suasana.


Verdianto mengambil piring Luna, lalu menyuapi nya kembali.


"Pu-punya nya besar" Batin Luna.


"Sepertinya dia tidak sadar. Aku ingin merasakan nya lagi, benar-benar empuk" Batin Verdianto.

__ADS_1


Mereka tidak berbicara lagi, mereka menghabiskan waktu dengan saling menatap. Wajah mereka sama-sama sedang memerah.


__ADS_2