
Drrtt, drrtt, ddrrtt
Ponsel William berdering. William mengambil ponselnya dari atas meja di samping kasur, lalu mengangkat telepon dari Dafa Frey.
"Akhirnya kau mengangkat telepon ku!" Ucap Dafa yang sudah kesal.
"Ada apa?" Tanya William dengan suara kecil. William tidak mau membangunkan Sella.
"Pasti lagi nemani istri tidur" Ucap Dafa dengan tawa nya.
"Kalau tidak penting jangan menghubungi ku!" Ucap William yang hampir mengakhiri percakapan mereka.
"Ini tentang istri mu" Ucap Dafa yang membuat William mendekatkan handphone ke telinga nya.
"Ada apa?" Tanya William penasaran.
"Kau lihat kalung yang di pakai nya kan?"
"Sebentar"
William membuka selimut dari leher Sella.
"Maksud mu kalung berwarna biru berbentuk bulat?" Tanya William.
"Ya! Kau tidak menyadari nya?!" Tanya Dafa bingung.
"Aku baru melihatnya sekarang. Mungkin dia mengambil kalung itu dari rumah lama nya"
"Maksud mu kediaman Alexander?"
"Ya" Jawab William singkat.
"Apa kau sama sekali tidak sadar tentang kalung itu? Atau kau tidak mengetahui kalung itu milik keluarga siapa?" Tanya Dafa.
"Kalung ini termasuk langkah. Sepertinya aku pernah melihat kalung ini, tapi aku lupa dimana"
"Otak mu sepertinya bermasalah William! Kalung itu hanya satu di dunia! Dari informasi yang aku temukan, kalung itu akan di berikan kepada anak tengah. Kalung itu di pakai turun-temurun dari keluarga,,, aduh keluarga apa ya?" Jelas Dafa.
"Cari lebih detail!" Ucap William, lalu mengakhiri percakapan mereka.
"Kalau Sella bukan anak kandung Marvin, lalu siapa Ayah nya? Dari foto yang aku lihat, kalung ini di pakai oleh Ibu nya Sella. Infomasi bertahun-tahun lalu sangat sulit untuk mendapatkan nya" Batin William.
Sella membuka kedua matanya. Ia melihat William sedang duduk sambil memikirkan sesuatu. Sella malas berbicara, ia menarik baju William agar William berbaring di samping nya.
"Sudah bangun?" Tanya William yang memegang tangan Sella.
__ADS_1
Sella menepuk-nepuk ranjang di samping nya.
"Oke, aku berbaring" Jawab William yang peka.
William mengelus kepala bagian belakang Sella.
"Saya mau bertanya" Ucap William.
"Apa?" Jawab Sella yang tidak bersemangat.
"Dari mana kamu mendapatkan kalung ini?" Tanya William sambil memegang kalung yang ada di leher Sella.
"Ini peninggalan Mama" Jawab Sella.
"Apa dia memberimu pesan sebelum pergi?"
"Pesan? Aku tidak ingat Will. Aku di situ masih kecil, sangat sulit untuk mengingat nya" Jawab Sella.
"Kamu dan Marvin pernah melakukan tes DNA?"
"Kayak nya belum. Kamu kenapa nanya begituan?"
"Tidak apa-apa. Aku akan berhenti bertanya"
"Kamu mau melakukan tes DNA sama Marvin?"
"Boleh aja, aku tidak keberatan" Jawab Sella.
"Bagaimana kalau besok?"
"Tunggu, tunggu, tunggu. Kayak nya Papa tidak setuju deh lakukan tes DNA, soalnya kan kamu membatalkan kerja sama dengan perusahaan Papa. Pasti nanti dia minta syarat, syarat nya yah itu, kerja sama antar perusahaan" Ucap Sella.
"Kamu tenang saja, itu tidak akan terjadi" Ucap William.
"Kamu mau buat cara kekerasan?" Tanya Sella.
"Bukan kekerasan sayang" Jawab William.
"Hahaha baik, baik, aku setuju! Aku sudah lama menyimpan dendam dengan dia, aku hanya ingin membalaskan nya" Ucap Sella dengan semangat.
"Mau cara apapun yang saya lakukan, kamu tidak akan marah ataupun melarang nya kan?" Tanya William.
"Tidak akan. Kamu bebas melakukan apa saja" Jawab Sella yang mencium bibir William.
"Sayang, bagaimana dengan pengobatan kaki kamu?"
__ADS_1
"Belum ada waktu untuk berbicara dengan mereka" Jawab William.
"Setidak nya kita sudah bisakan mengabari mereka?" Tanya Sella.
"Ya, biar semua di lengkapi terlebih dahulu"
"Kamu benar" Ucap Sella.
William mengelus perut rata Sella. Sella yang kegelian menahan tangan William dengan kuat.
"Saya mau bayi" Bisik William.
Wajah Sella memerah.
"Bayi nya lagi di proses" Jawab Sella.
"Di proses dimana sayang?" Tanya William dengan senyuman yang sulit di artikan.
"Itu,, em kita sudah sering melakukan nya, sekarang aku belum bersedia untuk melakukan nya lagi" Ucap Sella.
"Saya tidak akan memaksa kamu" Jawab William dengan senyuman nya.
Beberapa jam kemudian
Sella mengabari Kinara kalau William setuju untuk pengobatan kaki nya. Kinara yang mendapat kabar itu langsung berbahagia. Kinara memberitahu Adrian dan Adrian ikut bahagia. Kinara sangat bersyukur bisa mendapat menantu baik seperti Sella.
"Kayak nya Mama bahagia banget deh dengar kamu setuju untuk pengobatan kaki kamu" Ucap Sella.
"Dia bahagia karena kamu. Kalau kamu tidak ada, saya tidak akan menyetujui pengobatan kaki saya" Ucap William.
"Kenapa? Kamu tidak pengen jalan lagi?" Tanya Sella penasaran.
"Pengen, tapi nanti kalau saya bisa jalan lagi, wanita-wanita murahan akan mulai mendekati saya"
"Lalu nanti?"
"Saya sudah menikah Sella, tidak akan ada lagi wanita yang mengejar saya" Ucap William.
"Ya walaupun ada, kamu tidak akan tertarik, soalnya istri kamu lebih cantik dari antara mereka semua" Ucap Sella dengan pede.
"Kamu memang cantik, sampai-sampai semua teman saya tergoda"
"Dan akhirnya sang suami cemburu dan menjauhkan istri nya dari teman-teman nya" Ucap Sella seperti sedang menceritakan dongeng.
"Kamu hanya milik saya sayang" Ucap William.
__ADS_1