
Apa ini sebuah karma untuk ku?"
"Kenapa hidup ini sangat tak adil pada ku saat ini."
"Aku juga ingin bahagia...!" Bagas mengamuk di dalam bar itu.
Beberapa orang mengamankan dirinya dan mencampakkan keluar dari bar tersebut, Bagas pun pulang dengan taksi dan lupa untuk membawa mobilnya pulang kembali. Saat sampai di rumah Dina tak ada disana, wanita itu pergi kerumah mamanya dan menginap di sana. Akhirnya Bagas pun sendirian di rumah itu, berjalan menuju ruang kerjanya teringat saat Ayu membangunkan dirinya. Air mata itu jatuh menetes dan tubuhnya roboh terbanting kelantai seketika. Bagas pun pingsan dan tertidur disana sampai keesokan harinya.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Keesokan paginya Bagas tersadar dan ia pun bangkit dari atas lantai tersebut, tangannya memegangi kepalanya yang begitu pusing akibat dari minuman beralkohol yang ia konsumsi. Kehidupan Bagas saat ini menjadi lebih tidak baik setelah 5 tahun menikah dengan Dina.
Setiap harinya Bagas harus menyiapkan kebutuhannya sehari-hari sendirian, Dina yang tidak pernah masak di rumah ataupun menyediakan sarapan hanya sekedar roti oles untuk suaminya. Dina selalu beralasan bahwa dia sangat repot untuk mengerjakan semua itu pekerjaan di kantor membuat dirinya beralasan untuk tidak mengerjakan semua pekerjaan rumah mereka.
Bagas menyadari bahwa dirinya ketika menikah dengan Ayu lebih tentram dan semua sudah dibereskan oleh Ayu sarapan tersedia Rumah bersih bahkan pakaian pun dicucikan oleh Ayu. Dina dan Ayu benar-benar sangat berbeda Ayu merupakan wanita yang mandiri dan juga bertanggung jawab penuh akan dirinya sendiri. Sedangkan Dina Ia hanya gadis manja yang semuanya sudah disediakan oleh kedua orang tuanya sehingga ia tidak mengerti bagaimana cara melakukan semua pekerjaan rumah.
__ADS_1
Hari ini Bagas tidak masuk ke kantornya, ia ingin menenangkan diri dan bermaksud akan berjalan-jalan ke pantai yang tak jauh dari rumahnya. Ia ingin menenangkan pikiran dari semua beban yang ada di pundaknya dan juga di hatinya. Dina sama sekali belum menelpon dirinya dari pagi sampai siang hari ini, tidak bertanya akan kondisi dan keadaan suaminya sebagaimana seorang istri mengkhawatirkan suami yang ia cintai.
Hidup Bagas kali ini benar-benar hancur bahkan Papanya pun sudah tidak terlalu memperdulikannya saat ini, Bagas juga tidak memperdulikan mamanya yang terus saja memaksa dirinya dan terus mengancam dirinya akan perusahaan itu. Walaupun kali ini Bagas menikah dengan Dina namun tetap tidak memiliki anak, dan tentu saja perusahaan itu diam-diam mamanya mengambil alih.
Tiba-tiba Ferdi kakak tirinya Bagas sudah tiba di Jakarta, kali ini mamanya benar-benar membawa Ferdi ke Jakarta untuk membuat rencana agar Ferdi dapat masuk bekerja di perusahaan pusat bersama Bagas. Kesehatan Papanya Bagas yaitu Pak Ahmad sering tidak stabil, apalagi Papanya sudah pernah unfal mengenai penyakit jantungnya. Kali ini Bagas benar-benar khawatir akan terjadi sesuatu pada dirinya dan juga pada perusahaan milik bapaknya.
Tiga bulan sudah berlalu...
Siang itu di kantor Bagas menerima sebuah amplop coklat yang berisikan surat perceraian dari Dina. Bagus sama sekali tidak mengetahui akan hal itu, ternyata Dina diam-diam sudah melayangkan surat gugatan cerai di pernikahan mereka. Bagas pun terkejut dan dia mengambil ponselnya lalu menelpon Dina saat itu juga, bagus tak ingin bercerai dengan Nina walaupun Dina tidak benar-benar mencintai dirinya.
"Dina Apa yang sebenarnya kau pikirkan?!"
"Apa kau sudah gila?!"
"Hah?!"
__ADS_1
"Ternyata kau perempuan yang benar-benar sangat licik, tak kusangka kau lebih hina dari Ayu." Bagas menjadi marah setelah mengetahui alasan Dina menceraikan dirinya.
Dina sudah mengatakan bahwa dirinya selama ini hanya berpura-pura dan ingin mendapatkan rahasia dari kerjasama mereka dengan pihak luar negeri, yang sebenarnya Dina sudah menikah dan memiliki kekasih yang jauh lebih kaya daripada Bagas. Pembicaraan mereka pun langsung ditutup oleh Bagas, ponsel yang berada di tangannya seketika dilempar dengan sekuat tenaganya ke arah lantai.
"Argh?!"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Prang!
Bagas memukul meja kantornya dan mencampakkan barang-barang yang ada di sana. Dia berteriak mengamuk di dalam ruangan itu seperti orang gila, hidupnya saat ini benar-benar hancur. Apabila hal itu diketahui oleh Papanya pasti akan menjadi bencana dan penyakit jantung Papanya akan kamuh kembali. Bagas apa mencoba untuk mencari jalan, dan menyelesaikan permasalahan yang ada di kantornya tersebut agar tidak menjadi kebangkrutan. Dan Bagas juga akan membahagiakan sementara permasalahan yang ada di kantornya saat ini dari Papanya.
__ADS_1
Bersambung...