Menikah Karena Amanah

Menikah Karena Amanah
Bab 56


__ADS_3

Dina pun menyambut kepulangan Bagas seolah-olah Ia adalah istri Bagas saat ini, tersenyum berdiri dan menyambut kedatangan pria itu sambil mengulurkan tangannya untuk membawa tas yang ada di tangan Bagas.


"Kenapa kamu pulang pagi Mas? apakah kamu semalam lembur? aku sangat khawatir sampai-sampai tidak dapat tidur tadi malam." Dina mencoba ingin memeluk Bagas, namun pria itu menepis tangan Dina dengan kasar.


"Kamu kenapa mas? Aku hanya ingin menyambut mu saja, tapi kamu malah begitu sama aku." Dina memasang wajah sedihnya.


Bagas yang berjalan melangkahkan kakinya terhenti, lalu ia teringat masih membutuhkan Dina di sisinya. Bagas berbalik dan memeluk wanita itu sesaat, Bagas melakukannya karena masih butuh Dina di sisinya tapi bukan karena mencintainya. Dina langsung luluh dan sumringah saat Bagas berbalik memeluk dirinya, padahal pelukan itu bagi Bagas hanya biasa saja namun bagi Dina itu suatu hal yang membuatnya dapat berbunga-bunga saat ini.


"Maafkan aku Dina, hari ini aku terlalu lelah dan juga terlalu banyak pikiran. Tubuhku juga merasa tidak enak, mungkin aku akan sakit, jadi aku mohon kamu dapat mengerti kondisiku. Saat ini aku hanya ingin istirahat di kamarku, tolong kau jangan mengganggu untuk beberapa saat aku ingin tidur dan hanya sendirian." tutur Bagas saat memeluk Dina.


"Baiklah kalau begitu Mas aku tidak akan mengganggumu tetapi ketika nanti jam makan siang aku akan membangunkan mu untuk segera makan. Kau tidak boleh menolaknya ketika aku membangunkan mu di waktu jam makan siang, kau juga membutuhkan minum obat dan istirahat yang cukup." ucap Dina tersenyum manis saat Bagas melepas pelukannya.


Bagas pun pergi naik ke lantai 2 di mana tempat kamar ia berada, membuka pintu melihat sekeliling di dalam kamarnya berjalan masuk ke dalam, lalu menutup kembali pintu tersebut. Bagas merebahkan tubuhnya, ia pun menghela nafas sembari menatap langit-langit kamarnya.


"Apa yang harus aku lakukan saat ini? kondisiku benar-benar sulit untuk melakukan apapun lagi. Di satu sisi aku ingin mengetahui bagaimana keadaan Ayu, dan di sisi lain ingin rasanya aku membunuh Dion ketika melihatnya di depan mataku. Apa sebenarnya yang terjadi padaku?!" ujar Bagas merasa dirinya dilema.


Bagas pun menutup matanya, ia tertidur sejenak saat merasa terlalu banyak pikiran yang ada di dalam kepalanya. Waktu terus berjalan, ternyata hari sudah semakin siang, tiba-tiba sesuatu mengusik tidurnya.

__ADS_1


Tok, tok, tok!


"Mas, mas Bagas?!" suara Dina terdengar sampai ke telinga Bagas.


Tok, tok, tok!


"Kamu sudah janji akan segera bangun bila aku ke kamar mu. Ceklek...!" Dina langsung menerobos saja masuk ke dalam kamar Bagas.


Dina melihat Bagas masih tertidur di atas tempat tidurnya, dengan terus melangkah kan kakinya wanita itu mendekat ke Bagas yang masih pulas. Dina melihat wajah Bagas dari jarak yang begitu dekat, tepatnya wajah mereka saling berpapasan dan hanya berjarak satu jengkal saja saat itu.


"Dia begitu tampan, mungkin kali ini hanya dia yang bisa menolong kehidupan ku. Kalau wanita tua itu akan aku singkirkan saja sebentar lagi dan semua akan beres, aku bisa menikmati hidup ku dengan damai." ujar Dina di dalam hatinya.


"Kau ngapain di kamar anak ku?! Tanpa sepengetahuannya kau sudah masuk tanpa meminta izin darinya?!" suara Wenny menyadarkan Bagas seketika.


"Ada apa ini mas? Mengapa kalian ada di kamar ku saat ini? Sudah aku bilang jangan mengganggu ku ketika aku sedang tidur, dan malah ribut dan bertengkar di dalam kamar ini! Pergi semua dari sini! Pergi!" ujar Bagas sedikit berteriak.


Dina dan Wenny terkejut mereka langsung berjalan keluar dengan sedikit ketakutan. Dina tak menyangka situasinya akan menjadi seperti itu, dan membuat pria itu menjadi tak terkendali emosinya. Wenny pun mamanya tak berani mengatakan apa pun kepada Bagas anaknya itu, ia memegangi dadanya sebab jantungnya berdebar dan hampir saja tak kuasa menahannya.

__ADS_1


Dina yang memperhatikan tak perduli ketika Wenny meminta padanya untuk di ambilkan minum. Wenny terduduk di kursi meja makan dan Dina berlalu pergi begitu saja, Dina malah pergi ke dalam kamarnya tanpa perduli akan terjadi sesuatu pada Wenny mamanya Bagas.


"Dasar wanita sialan! Bersikap lembut dan penuh perhatian saat Bagas melihatnya, tapi begitu licik bagaikan rubah disaat aku meminta pertolongan padanya." gumam Wenny dengan nafas yang terengah.


"Dia pikir dia siapa berani-beraninya menyuruh ku, menikah saja tidak dengan anaknya. Lagi pula kalau pun aku nantinya akan menikah, pasti ia akan aku habiskan terlebih dahulu, karena ia sangat mengganggu." ujar Dina sambil membaringkan tubuh ke kasur yang empuk.


Tak beberapa lama kemudian Bagas turun dari kamarnya, dan duduk di meja makan. Wenny yang mengetahuinya langsung mengambilkan makanan untuk anaknya, dan bersikap lembut seperti tak terjadi apa-apa.


Bagas memasukkan makan siangnya sesuap demi sesuap, tapi dengan sedikit melamun dan tak ada berbicara sedikit pun kepada mamanya yang sedang berada di hadapannya. Bahkan mamanya bertanya keberadaannya semalam yang tidak pulang pun tak di jawab oleh Bagas.


Setelah selesai makan, Bagas pun berjalan meninggalkan piringnya diatas meja makan, lalu pergi begitu saja naik kembali dan masuk ke kamarnya. Weni sedikit aneh melihat tingkah laku putranya tersebut, karena hari itu Bagas bukan seperti Bagas yang ia kenal begitu lembut dan juga perhatian kepada dirinya semenjak kejadian Weni tinggal bersama Ferdy.


****


Ayu yang telah sadar pagi itu hanya diam menatap sekeliling kamar rawat inap di Rumah sakit tersebut, ia tak menghiraukan adanya Dion di sampingnya bahkan Ayu hanya membungkam mulutnya tanpa bertanya pada siapapun. Namun hati Bagas sangat senang ketika melihat istrinya telah membuka mata dan sadar di pagi hari, sebab ia sangat gelisah menantikan Ayu sadar dari pengaruh bius dan obat dari kemarin.


"Syukurlah kamu telah sadar Ayu, aku akan memanggil suster dan dokter untuk memeriksa mu saat ini." Dion pun berlari keluar dari ruangan itu menuju ke ruang suster jaga, untuk mengatakan bahwa istrinya telah sadar dan meminta mereka untuk mengecek bagaimana kondisi dan keadaannya pagi ini.

__ADS_1


Dengan sigap suster pun segera memberitahu dokter, dengan menelpon nya karena belum ada di tempat. Lalu suster mengambil beberapa peralatan untuk mengecek detak jantung dan juga tensi darah dan beberapa hal lainnya. Dion sangat penasaran dan detak jantung yang begitu kencang, dia menunggu di luar seperti bagaimana yang dipinta para suster tersebut. Saat menunggu di luar ruangan, Dion teringat dengan mama dan Sabrina, dengan cepat ia mencari ponselnya lalu menekan nomor telepon rumah agar dapat memberitahu segera kondisi Ayu kepada mamanya yang berada di rumah.


__ADS_2